
Vote sebelum membaca😘😘
.
.
Edward mengantarkan Jan dan Malia pulang. Sambil menunggu untuk bicara dengan Malia, Edward memilih berdiam duduk di halaman depan daripada masuk. Rasanya tidak sopan, apalagi ada Jan yang juga menjadi penghuni rumah.
"Masuklah, Dokter Edward, aku bukan tipe teman yang membatasi segala hal."
"Hentikan, Jan," ucap Malia malu.
"Tidak apa, Jan. Aku di sini saja."
"Aku serius, ayo masuklah sebelum duyung datang dan menakanmu."
Edward terkekeh pelan sampai akhirnya dirinya masuk dan menunggu Malia di sofa.
Sebagaimana pun Jan ingin memisahkan Malia dan Edward, Jan tidak tega jika harus berbuat jahat pada Edward. Pasalnya Edward adalah pria yang sangat baik dan tulus mencintai Malia.
Setidaknya dengan mempertemukan Malia dengan Norman, Jan sudah menyelesaikan tugasnya. Untuk pilihan pasangan hidup, Jan serahkan semuanya pada Malia.
"Tidurlah dan istirahat. Apa kau ingin sesuatu sebelum aku menemui Edward?"
"Aku ingin tahu keputusanmu, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku rasa, aku akan pergi ke Meksiko."
"Sendirian?"
"Kau dalam keadaan seperti ini."
"Maksudku, kau akan mengajak dokter Edward?"
"Itu dia, aku masih memikirkannya," ucap Malia lalu berdiri. "Aku akan diskusi dulu padanya."
Malia keluar dari kamar Jan, dia melihat Edward yang sedang memejamkan matanya di sofa. Pria itu terlihat jelas mengantuk berat, membuat Malia yang membawakan kopi kalengan merasa ragu untuk membangunkannya.
"Ed? Edward?"
"Ya?" Edward membuka matanya yang merah.
"Sebaiknya kau istirahat, pulanglah."
"Aku tidak boleh menginap?"
"Kau tahu prinsip hidupku, Ed."
Edward tertawa. "Aku hanya bercanda, kenapa kau sangat serius?"
__ADS_1
Malia tersenyum mengubah suasana. "Pulang saja, besok kita bicara."
"Tidak, katakan sekarang. Setidaknya aku akan mengambil keputusan sekarang."
"Keputusan?"
"Kau akan pergi ke Meksiko? Aku akan ikut jika itu yang kau inginkan."
Malia diam, dia masih merasa malu untuk mengatakan semuanya. Dalam hubungan yang seumuran jagung, Malia terlalu banyak meminta. Berbeda dengan Edward yang terus melayani, tetapi tidak pernah mendapatkan balasan kepuasan batin.
"Malia, katakan padaku. Kau ingin aku ikut?"
"Apa kau sedang sibuk di rumah sakit?"
"Aku bisa mengambil cuti kerjaku, jangan khawatir."
"Untuk mengantarku ke Meksiko?"
Edward mengangkat bahunya. "Kenapa tidak?"
Malia mengeluarkan suara napasnya pelan. "Aku terlalu banyak meminta, sedangkan kau tidak mendapatkan apa pun. Edward aku minta maaf, untuk ciuman saja aku tidak memberikannya padamu."
"Malia, aku mencintaimu, bukan nafsu. Tapi cinta yang penuh kasih. Bersamamu, menggenggam tanganmu, aku sangat senang."
Dan kalimat itu membuat Malia tenang, Edward selalu punya kalimat yang membuat perasaannya membaik.
"Bisa kau ikut aku ke Meksiko?"
"Terima kasih."
"Aku mencintaimu, Malia."
Malia tersenyum, lalu mengangguk dan menjawab, "Aku juga mencintaimu."
****
Guererro, Meksiko.
Yoseph tetap menatap komputer menunggu sesuatu yang spektakuler. Hingga akhirnya, dia mendapatkan notifikasi dimana dia melihat Malia memesan penerbangan ke Meksiko.
Dan sebelumnya, Yoseph memeriksa surat yang seharusnya sudah diterima Malia. Sayangnya surat itu masih dicari di gudang akibat pembatalan pengiriman, jadi kemungkinan akan diterima Malia sepulang dari Meksiko nanti.
Ponsel Yoseph berdering.
"Hallo, Jan?"
"Mereka akan pergi berdua, buat Edward sangat sibuk."
"Sedang aku lakukan, tenanglah."
__ADS_1
"Oke."
"Dan buat dirimu lebih parah supaya Norman tidak menyalahkanmu saat tahu kau tidak ikut."
"Aku tahu."
Dan ketika Yoseph bicara dengan Jan, saat itulah Jess datang. Wanita berkepala plontos itu memberikan isyarat agar tidak memberitahukan Jan bahwa dirinya di sana.
"Tugasku selesai bukan?"
"Kau hanya perlu menunggu surat itu datang."
"Ah itu… aku mengerti, aku tutup telponnya ya, aku ngantuk."
"Baiklah, semalat tidur untukmu."
Setelah telpon terputus, baru tatapan Yoseph kembali fokus pada Jess.
"Apa yang kau inginkan lagi?"
"Jangan katakan pada Norman kalau Malia akan datang. Aku akan coba pertemukan mereka, tentu saja dengan bantuanmu."
"Dia akan membunuhku jika aku tidak memberitahunya, Jess."
Jess berdecak. "Kau sedang mengurus tindak kejahatan dari keluarga Lim bukan? Untuk mengadu dombakan dengan klan lawan El Sinaloa?"
"Ya, benar."
"Gunakan itu sebagai alasan, keluarga Lim adalah keluarga kerajaan, bilang saja padanya kau kesulitan fokus."
"Baiklah."Â Yoseph menurut pada Jess.
"Malia harus datang seorang diri."
"Sudah aku lakukan."
"Berdoa semoga ini berjalan lancar," ucap Jess lalu hendak melangkah pergi.
Namun, tangan Yoseph menahannya.
"Apa kau gila? Lepaskan aku."
"Kenapa kau sangat ingin mereka bertemu?"
Jess membalikan badan dan menatap mata Yoseph. "Aku melihat apa yang telah mereka lalui, dan berpisah bukanlah jawaban yang tepat. Mereka harus kembali bersama, apa pun alasannya."
***
Love,
__ADS_1
Ig : @Alzena2108