Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 50


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘😘


.


.


halusinasi, muntah, peningkatan tekanan darah dan denyut nadi, gangguan kecemasan, juga kebingungan, itulah yang Malia rasakan dari efek zat narkotika. Untuk membuka matanya saja, sangat kesulitan. Malia tersadar, tapi tubuh dan pikirannya menolak. 


Wajahnya pucat layaknya salju, bibirnya sedikit membiru, dan keringat membasahi tubuhnya. Dania yang melihat itu tersenyum senang, dia berbisik, "Tahukan kau, Malia? Malam ini kau akan dilelang."


Suara yang didengarnya samar, Malia tidak bisa fokus. Dia terbaring lemah dengan efek samping yang dirasakannya. 


"Kau akan menghadapi kematian yang sebenarnya."


Malia hanya fokus pada rasa sakit dalam tubuhnya, juga halusinasi yang selalu mengingatkannya akan kehilangan sang Papa.


Dania keluar dari tempat itu, dia berdehem saat berjalan di lorong. Pagi hari yang indah untuknya, Dania bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan. Dia baru sadar, cintanya pada Norman hanya dimanfaatkan, sementara dirinya tidak memiliki atau mendapatkan apapun. Norman banyak berubah, Dania tahu itu.


"Holla, Dennis? Kau dimana?"


'Aku sedang sarapan di caffe depan bandara Acapulco.'


"Aku akan ke sana."


'Aku menunggumu.'


Dan Dania, dia segera mengendarai mobilnya menuju ke tempat dimana Dennis berada. Pria itu sedang sarapan dengan kopi kesukaannya. 


Layaknya sepasang kekasih, mereka berciuman saat bertemu.


"Nanti akan menjadi malam yang besar bukan?"


"Ya, aku sendiri yang akan memimpin pelelangan," ucap Dennis dengan bangga. "Akan aku pastikan dia dijual pada pria tua bangka."


"Bagaimana jika suatu saat Norman menemukannya?"


Dennis tertawa, dia mencubit pipi Dania. "Tentu tidak, aku akan menembaknya saat Malia selesai dipakai."


"Owh, dia hanya melayani satu malam?"


"Satu malam, tapi akan sangat mahal."


Dania tersenyum senang, dia memesan makanan agar bisa berlama-lama bersama Dennis. "Seharusnya kau beritahu aku rencanamu sejak awal."


"Jika aku beritahu, kau akan memberitahu Norman, mengingat saat itu kau terbutakan oleh cinta."


"Diam kau," ucap Dania tidak suka. "Bagaimana dengan Marc?"

__ADS_1


"Dia ingin berlibur lebih lama, dan akan aku buat dia dan Normam bertengkar saat pulang. Aku akan menjadi penyelamatnya, dan Marc akan memberikan uangnya pada kita."


"Bagus, kau sangat licik," puji Dania menatap ke sekelilingnya, caffe yang penuh oleh para turis. "Aku dengar kau tahu siapa saja yang keluar masuk dari pesawat."


"Hanya mereka yang penting dan kaya yang aku cari. Jika orang biasa, tidak begitu penting."


"Seluruhnya kau awasi?"


Dennis menyeruput kopinya, dia tiba-tiba menarik tengkuk Dania dan menciumnya di bibir. "Tidak semuanya, hanya di udara saja."


"Wow, bagaimana jika ada mereka yang kaya membawa kapal pesiar datang?"


"Mereka jelas terlihat, tidak perlu diawasi. Kau mulai tertarik dengan El Sinaloa?"


"Hemm, aku bingung bagaimana jika aku melihat Norman mati."


"Ingat, Dania." Dennis menggenggam tangan kekasihnya erat. "Dia memperlakukanmu dengan sangat buruk, kau hanya wanita penghibur di matanya. Aku mencoba membantumu."


"Aku tahu," jawabnya kembali menyantap sarapan. "Malam ini aku tidak akan ikut acara itu."


"Kenapa?"


"Aku sedang masa periode, perutku sakit."


Dennis menaikan alisnya. "Kita tidak bisa bermain malam ini?"


"Hentikan, aku tidak ingin melakukannya. Ini masaku untuk berhenti sejenak."


"Aku dengar ada keributan saat Malia hendak dibunuh waktu itu, ada pria bertopeng yang menembak para penjaga dan merusak banyak CCTV?"


"Dia pria gila yang kehilangan uangnya, hanya turis tidak tahu arah," ucapnya Dennis meminta disuapi Dania. "Bagaimana kalau kita membeli kapal pesiar dan berkeliling dunia?"


"Aku suka," ucap Dania, dia memberikan kecupan pada pipi Dennis. "Dan menguasai El Sinaloa?"


"Dan Menguasai El Sinaloa."


****


Dania kembali ke mansion di Puerto Del Marques, dia sedikit mabuk yang mena membuat penglihatannya tidak jelas. Dania menguap lebar merasakan kantuk yang berlebihan.


"Hei, berikan itu padaku!" Teriak Dania pada pelayan yang membawa alkohol untuk disusun di bar.


Dania tertawa keras, kakinya membawa dirinya ke sebuah lorong menuju kamar Marc.


"Señorita kau mau ke mana?"


"Lepaskan!"

__ADS_1


"Anda tidak boleh ke sana, Nona."


"Jangan sentuh aku!" Teriak Dania kesal, dia mendorong pelayan yang menahannya.


Dania terdiam sesaat, dia menatap keluar mansion. Tidak ada tanda-tanda penjaga yang membuatnya keheranan. Namun, rasa curiga itu lenyap akibat efek alhokol dalam tubuhnya. Selama berjam-jam Dania diam di sana hingga langit semakin gelap. 


Tepat tengah malam, Dania baru kembali berjalan seperti zombie menuju ke kamar Marc tanpa dia sadari. Masih dalam pengaruh, Dania masuk ke sana. 


Saat tahu pintu tidak dikunci, Dania tertawa lebar. Ruangan yang suram, yang membuat Dania segera mencari-cari keberadaan lampu untuk meneranginya. 


"Dasar tua bangka Marc," gumamnya pada ruangan itu.


Kening Dania kembali berkerut saat dia mendapati ruangan itu sangat rapi, seperti tidak berpenghuni. "Apa dia memanh berniat pindah?"


Dania yang mabuk berjalan tanpa keseimbangan, dia berjongkok membuka salah satu laci di sana. Tidak seperti yang diceritakan Norman, tidak ada senjata atau apapun itu. Yang mana membuat Dania kembali tertawa.


Rasa kantuk membuatnya tertidur di lantai.


Saat mendengar suara tembakan, Dania membuka mata seperempatnya. Dia kembali tertawa, "Mimpi yang gila."


Dan tembakan itu terus dia dengar, membuat Dania semakin larut dalam tawanya, dia mengira ini mimpi.


Bergumam kembali, "Tuhan….. Mengapa memberiku mimpi hujan peluru?"


"Itu bukan mimpi, Dania. Akan aku buat kenyataan."


Seketika manik itu terbuka, dia mencoba duduk dan mengadah menatap Norman yang ada di depannya. "Norman? Apa ini mimpi?"


Untuk meyakinkan Dania ini bukan mimpi, Norman menarik pelatuk dan menargetkannya pada paha Dania.


"Norman! Shit!" Dania kini membuka mata sepenuhnya, dia mulai ketakutan, menelan ludahnya kasar sambil berkeringat. "Norman, maafkan aku, aku menyesal. Ayo kita mulai semuanya dari awal lagi, Norman. Aku mohon, jangan lakulan ini."


Norman tersenyum miring, wajahnya datar disertai tatapan dingin. 


"Akan aku buat mereka yang pernah menyakiti Malia hilang dari muka bumi."


Dania menggeleng. "Norman… kau juga pernah menyakitinya."


"Jika dia menginginkanku tiada, maka akan aku lalukan."


Dania memejamkan matanya saat Norman dan senjatanya mendekat. "Norman, aku mohon. Kita mulai semuanya dari awal da--"


Kalimat Dania terpotong oleh tarikan pelatuk Norman hingga amunisi habis. Dania tergeletak kehilangan kehidupannya.


Norman kembali mengisi pistolnya. Sebelum keluar, Norman bergumam, "Akan aku buat Malia bahagia, bahkan jika itu kematianku."


---

__ADS_1


**love,


ig : @Alzena2108**


__ADS_2