Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 39


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘😘


.


.


"Aku membencimu, Malia."


Perempuan itu berusaha untuk membuat kesadarannya terjaga, dia menarik napasnya dalam. "Dan aku masih mencintaimu, sampai detik ini….. Norman."


pistol itu jatuh seketika, Norman kehilangan kekuatan untuk menggenggamnya. Bersamaan dengan itu, Malia memejamkan matanya lelah. Dengan bibir yang mengeluarkan kekuatan terakhir untuk berkata, "Tuhan itu ada, Norman. Percaya padanya."


Tangan yang kehilangan benda itu masih berada di samping pipi Malia. Ingin menyentuhnya, tapi keraguan melanda. Terpejam lelap untuk Malia. Dia tersiksa, tapi pejaman matanya terlihat tenang dan sejuk.


"Tuhan tidak ada saat aku membutuhkan, Malia."


Sampai akhirnya tangan itu menyentuh pipi Malia, air mata keluar dari manik Malia yang terpejam.


"Dia tidak ada saat aku menangis meminta pertolongannya, saat kulitku terbakar oleh rasa perih, sobek dan berdarah. Aku merasakannya sejak kecil, Tuhan tidak ada."


Norman memilih mengambil kembali pistol, dia menyimpannya di bawah sofa tua yang tidak layak pakai. Menatap Malia lama dan menutup pintu perlahan sambil berkata, "Buktikan Tuhan itu ada, Malia."


Ketika Norman membalikan badan, Marc ada di sana menatapnya. Sambil tersenyum iblis. "Pilihan yang bagus, Norman."


"Aku akan istirahat, Kakek."


"Pergilah, biarkan aku yang menanganinya."


"Apa yang akan kau lakukan?"


"Tenanglah…." Marc melangkah melewatinya. "Akan aku pastikan dia masih bernapas esok hari."


Keluar dari tempat itu, Norman kembali ke kamarnya. Dan dia melihat Dania sedang merawat rambutnya di sana. Sambil mengeluarkan umpatan-umpatan akan dirinya sendiri. "Sial, kenapa ini bisa sejelek ini?! Aku tidak suka."


"Apa yang kau lakukan?"


"Norman?" Dania membalikan badan. "Well, kau kembali dalam waktu hitungan jam, apa saja yang kau lakukan di sana?"


"Tidak ada," ucap Norman membuka jasnya. "Aku hanya menemui seseorang."


"Kau tidak mau memberitahuku?"


"Diam, Dania. Aku ingin istirahat," ucap Norman merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Sambil berbaring miring, manik abu itu menatap bagian kosong ranjang yang mengingatkannya pada Malia. Sampai akhirnya Dania berbaring di sana, Norman membalikan badan malas.


Apalagi wajah Dania penuh dengan masker organik, yang berbau menyengat. "Aku ingin memelukmi dari belakang, Norman."

__ADS_1


"Aku ingin istirahat, Dania."


Dan hanya punggung terluka yang Dania lihat. Bagaimana bagian itu masih berwarna merah, dengan bekas jahitan yang terlihat jelas. "Kau akan mentatto tubuh lagi, Norman?"


Dan Dania tidak ingin berhenti, dia akan membujuk Norman agar mengingat masa-masa saat bersamanya. "Kau ingat dulu kita mentatto tubuh bersama? Bagaimana kalau kita melakukannya lagi?"


Norman membuka matanya.


"Aku tahu tempat yang bagus di sini, ada di Acapulco, kita bisa berangkat sore nanti. Bagaimana?"


"Baik."


Dania tersenyum senang, dia mencium punggung Norman dan berkata, "Aku akan ke saloon pagi ini, kau ingin ikut?"


"No."


"Oke, selamat beristirahat."


Beranjak dari tempat tidur, Dania mempersiapkan dirinya untuk keluar dari tempat yang sangat membuatnya bosan. Hanya ada pohon dan hutan yang dia lihat. Benar-benar membuatnya mengantuk terus menerus, apalagi Marc melarangnya mendekati Malia. Yang dia lakukan hanya tinggal dan memastikan Norman masih membenci Malia.


Dan kenyataanya, Dania keluar juga untuk mencari kesenangan sesaat yang tidak dia dapatkan cukup lama.


"Hallo, Dennis, kau di mana?"


'Masih di apartemen, aku memutuskan untuk tidur lagi.'


"Aku akan ke sana lagi, di sini membosankan," ucapnya ketika keluar dari gerbang besar yang mengelilingi mansion. 


"Diamlah, dasar bodoh. Aku akan membelinya."


****


Sesuai perkataannya, Dania dan Norman bertemu di Acapulco. Di sebuah sisi kumuh kota yang berada di bagian belakang bandara. Mobil melewati jalan itu pun sangat sulit, sangat pas dan dikarenakan banyak orang-orang berada di pinggir jalan. Pemuda yang sepertinya menguasai tempat itu. 


Namun, saat melihat bagian belakang punggung pria itu. Ada tatto dengan jantung yang terbelah, mereka bagian dari El Sinaloa.


"Hai, Sayang," sambut Dania saat Norman keluar dari mobil.


Memang mereka berada di mobil yang berbeda, mengingat Dania datang langsung dari apartemen Dennis di dekat teluk. 


"Apa kau sudah makan?"


"Di mana tempat yang kau maksud?"


Dania tetap tersenyum, dia menautkan jemarinya bersama Norman dan masuk ke dalam gang kecil. Tidak ada penolakan dari Norman, dia ingin memperbaiki perasaannya dengan Dania. Karena Norman tahu, pada akhirnya Malia akan mati di tangan Marc. Tidak ada alasan untuknya menghentikan ataupun membunuh Marc, pria itu benar, dan Norman memilih menjadi anak yang baik.


"Hallo…..? Selena?" Teriak Dania saat masuk ke dalam sebuah toko tidak terpakai. Hanya ada ruang kosong besar. "Hai, Selena."

__ADS_1


"Oh, hai. Dania." Wanita itu sedang memanjat dinding, turun menggelantung menghentikan hobby berlatih panjat tebing. "Ada apa, Sayangku?"


"Aku ingin di tatto, benarkan, Norman?"


"Woooo….. Siapa dia?" Selena menyalami tangan Norman. "Selena."


"Norman."


"Kekasihmu?"


"Sí." Dania menjawab.


"Ikutlah denganku." Mereka melangkah, menuju ruangan lain tempat alat-alat mentatto ada di sana. Wanita bertubuh kurus dengan otot kuat mengingatkan Norman pada Rosita. "Jadi, tatto apa yang kalian inginkan?"


"Bisakah aku mendapatkan tatto jantung yang hancur, seperti….. Para El Sinaloa itu."


"Tidak, Sayang." Selena tertawa. "Kau tidak bisa melakukannya, atau kau akan mati."


"Apa maksudmu?" Tanya Norman tidak suka.


Selena menatap keduanya bergantian. "Itu adalah lambang El Sinaloa."


"Aku tahu, kau yang memberitahuku dan kau yang melakukannya pada mereka."


"Sí." Selena mengangguk. 


"Kau yang mentatto mereka?" Norman mulai tertarik.


"Ya, aku dibawa dengan mata tertutup ke sebuah tempat yang jauh dari Puerto Del Marqués. Di sanalah mereka berada, ribuan anggota El Sinaloa memenuhi panggilan Dennis. Mereka ditatto, sebagai tanda." Selena bersandar di dinding. "Dan aku dengar, jika orang asing melakukan tatto yang sama dengan anggota asli El Sinaloa, mereka akan mati keesokan harinya. El Sinaloa tidak mengambil sembarang orang, hanya orang-orang yang rela mati akan melakukannya."


Dan Norman tidak tahu, Dennis senekad itu sampai Marc yang sibuk dengan balas dendam tidak tahu bagaimana kejahatan keluarga kini menjadi sebuang klan besar. 


"Apa lagi yang kau tahu? Tentang Dennis?"


"Dennis, dia hanya kaki tangan. Aku dengar cucu Marco Valentio Derullo kembali ke Maksiko, dan dia lebih kejam."


Kenyataannya Norman memang begitu, tapi dia tidak tahu banyak tentang El Sinaloa.


"Norman apa kau baik-baik saja?"


Pria itu melepaskan tangan Dania saat panggilan telpon. Dari nomor baru.


"Aku akan keluar sebentar." Norman melakukannya, dia mengangkat panggilan itu. "Hallo?"


'Hallo, Norman. Ini aku Don Van Allejov. Aku yang kau inginkan bukan? Datanglah, aku berada di negara bagian Guererro.'


----

__ADS_1


**Love,


ig : @Alzena2108**


__ADS_2