Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 36


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘


.


.


"Dennis!" Teriak Dania saat pria itu terus saja melakukan apa yang diinginkannya, salah satu cara Dania untuk menyingkirkan pria yang mengendalikannya itu mendorong kuat dadanya. "Dennis sal, Norman aquí! (Dennis menyingkir, Norman di sini!)"


"Baguslah, dia akan melihat kita."


"¡Fuera! (Menyingkir!)"


"Fine sebentar lagi, ini dia!"


Segera setelag Dennis selesai, Dania mendorongnya kuat, melemparkan seluruh pakaian dan barangnya dan menyuruhnya keluar lewat jendela.


"Bagaimana bisa aku turun lewat jendela? Ini curam."


"Kau pernah melakukannya 'kan? Ayo pergi!"


Dania segera membereskan jejak-jejak pengkhianatannya dengan Dennis, pakaiannya yang kotor Dania masukan ke dalam kantong sampah. Selimut dia biarkan berantakan. Tidak ada waktu lagi, Dania segera masuk ke kamar mandi dan mengguyur dirinya di bawah shower. 


Jantung Dania berdetak kencang saat mendengar pintu terbuka, dia memejamkan mata sambil melumuri dirinya dengan sabun. Seperti dugaannya, Norman membuka pintu kamar mandi, melihat sesaat sebelum menutupnya kembali.


Dania segera memakai handuk, keluar dari sana setelah memakai banyak sabun guna menghilangkan jejak Dennis.


"Hai, kau sudah datang?"


"Aku yakin kau berada di Puerto Del Marqués," ucap Norman membuka mantel hitamnya.


"Ya, aku akan ke sana sekarang. Ada beberapa barang yang hendak aku bawa di sini."


"Begitukah?"


Suara kekehan Norman membuat Dania menelan ludahnya kasar. Dia mendekat, hendak memeluk Norman dari belakang. Sayangnya, Norman lebih dulu mengatakan, "Jangan peluk aku, kau basah."


"Kau tidak merindukanku?"


"Sepertinya tidurmu nyenyak."


Dania menatap ranjangnya yang berantakan, memang benar itu terlihat jelas. "Aku tidur untuk beberapa saat dan berguling ke sana ke mari."


Norman tidak mempedulikan, dia memilih pergi ke ruangan televisi sambil membawa laptop milik Dania. 


Wanita itu segera menyusul Norman, sambil mengapit handuk di tubuhnya. "Norman, kenapa kau tidak pergi ke Guererro?"


"Aku akan pergi hari ini."

__ADS_1


"Lalu ada masalah apa?"


"Pergilah ke Kasino, bukankah itu yang kau inginkan?"


"Norman…." Dania menyentuh paha pria itu. "Ada baiknya jika kau dikelilingi anak buahmu, kau harus memperlihatkan siapa dirimu. Mereka mengira Dennis yang mengendalikan El Sinaloa. Mereka harus tunduk padamu."


"Berhenti menyentuhku dan pergilah."


"Apa yang sedang kau cari?" Dania menatap layar laptop, tapi bahasa Rusia sangat sulit dia mengerti. Dania mengerutkan kening, apa yang Norman ketik sangat cepat. Itu sebuah email, pada nama alamat yang bahkan tidak Dania kenal. "Apa yang kau tulis?"


"Pergi dariku, Dania."


"Aku hanya ingin tahu," ucapnya tetap menyentuh paha pria itu.


Dania pergi sesaat, mengambil ponselnya dan meperlihatkan sebuah foto. "Ini foto terbaru Malia, lihat? Dia tidak makan selama dua hari, aku yakin besok dia akan mati."


Norman bahkan enggan menatapnya, ada alasan lain untuk itu. 


"Lihatlah, Norman. Seluruh tangannya berdarah, Marc yang melakukannya."


Karena itu, Norman berani melihat. Dan Malia benar-benar mengenaskan dengan darah yang memenuhi tubuhnya. Mengingatkan Norman pada Mamanya yang sama mengenaskannya. 


"Kau suka, Norman?" 


"Jauhkan itu dariku, aku akan pergi."


Dania tidak dihiraukan, Norman beranjak mengambil bir. Dan itu membuat kesabaran Dania habis, dia mengambil paksa bir di tangan Norman dan berteriak, "Que paso ¿Por qué siempre me ignoras últimamente? Recuerda, Norman, solíamos planear varias cosas malas conmigo, matar a Malia, pelar su piel hasta que sus lágrimas sangraran. ¡Recuerda eso, Norman! ¡Recuerda! (Apa yang terjadi? Kenapa kau selalu mengabaikanku akhir-akhir ini? Ingat, Norman, dulu kita merencanakan berbagai hal jahat bersamaku, untuk membunuh Malia, mengelupas kulitnya sampai air matanya berdarah. Ingat itu, Norman! Ingat!)"


"Lo recuerdo correctamente, Dania, lo recuerdo. ¿Qué quieres que haga ahora? Mátalo ahora mismo. Dania, Marc tiene todo. Solo me callo y dejo que todo suceda como debería (Aku ingat dengan benar, Dania, aku mengingatnya. Kau ingin aku lakukan apa sekarang? Membunuhnya saat ini juga. Dania, Marc memegang semuanya. Aku hanya diam dan membiarkan semua terjadi dengan seharusnya.)"


Dania terdiam, kalimat terpanjang dari Norman selama beberapa bulan terakhir ini. Maka darinya, Dania segera memeluk kekasihnya, menyandarkan dadanya di bahu Norman. "Kau tidak akan meninggalkanku bukan?"


"Tidak ada alasan aku meninggalkanmu."


Karena memang, Norman tidak menemukan kesalahan dalam diri Dania. Wanita itu sudah menemaninya cukup lama.


****


Hotel yang Dennis siapkan tidak terlalu buruk, di tengah kota Guererro, Norman memilih untuk berada di hotel kelas menengah. Karena inilah yang sering dia lakukan sebelumnya, berbeda jauh dengan Louis yang penuh gelimang harta.


Bukan semena-mena Norman meninggalkan Malia, dia pergi ke Guererro untuk mengibarkan sayap El Sinaloa. Tugas pertamanya sebagai cucu dari seorang Marco Valentio, Norman ingin granat dari Rusia dia miliki sebagai salah satu ancaman untuk pemerintah Meksiko.


Ketika Louis membuka jendela hotel, mengarah langsung pada jembatan kumuh di tengah kota, ada sekumpulan pria yang sedang berbincang di sana.


"Señor."


Norman membuka pintu. "Jess, kau bertemu dengannya?"

__ADS_1


"Dia ingin bertemu denganmu, secara langsung."


"Kau tahu aku tidak bisa melakukannya, ambil granat itu dan berikan uangnya, aku ingin keluar dan berinteraksi dengan mereka diluar sana."


"Mereka anggotamu," ucap Jess ikut masuk, dia menatap keluar jendela. 


"Mereka menjual wanita pada El Sinalo, apakah mereka disebut dengan anggota El Sinaloa?"


"Mereka suka disebut seperti itu," ucap Jess. "Meskipun mereka tidak tahu siapa yang mengendalikan mereka."


"Aku tetap akan ke sana."


"Kartel Rusia akan marah, mereka membawa senjata ke perbatasan."


"Apa kau gila?" Tanya Norman menatap Jess yang memakai jaket. "Kita sepakat tidak ada senjata."


"Dan satu lagi, Señor. Mereka mengancam, dengan cara menandai salah satu anggota mereka layaknya El Sinaloa la--"


"Tanda apa?" Norman menatap dengan tajam.


Jess menarik napasnya dalam. "Tatto jantung yang terbelah, itu ciri dari El Sinaloa."


"Apa yang kau maksud?"


Jess yang juga bingung segera membuka pakaiannya, memperlihatkan punggungnya yang bertatto dengan gambar jantung hitam hancur dan berdarah. "Dennis mengumpulkan seluruh anggota, dia memerintah kami mentatto seperti ini sebagai tanda El Sinaloa."


"Kapan dia melakukannya?"


"Satu bulan sebelum kedatanganmu."


Norman terdiam, rahangnya mengetat. "Kau tahu Dennis berusaha mengambil alih posisimu, Señor. Dia khawatir El Sinaloa akan kembali padamu, apalagi Acapulco kembali hidup."


"Dimana orang Rusia itu?"


"Di tempat konstruksi."


Tanpa berkata lagi, Norman segera pergi ke sana. Ditemani Jess yang kini dia percayai dibandingkan siapapun. Hanya berdua, Norman mengisyaratkan Jess agar diam di dalam mobil. 


Dia melangkah mengikuti insting, tempat konstruksi yang gelap dan ditinggalkan para pekerja. Sampai Norman menaiki tangga di lantai tiga, dia menatap pria yang sedang merokok dengan membelakangi.


"Mr. Mashkov?"


"Kau boleh mamanggil nama asliku, Norman."


Langkahnya terhenti seketika, dia kenal suara ini. Apalagi saat pria itu membalikan badan. "Louis?"


---

__ADS_1


Full of Love and Party🎶


__ADS_2