Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 21


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘


.


.


"Kau tahu siapa pria itu, Jess?"


"Sí, itu Paolo, dia yang menggoda para turis untuk dibawa ke Acapulco, Señor," ucap Jess yang berdiri di belakang Norman yang menatap keluar jendela, merasakan angin malam yang masuk. Bagian teluk pribadi, hanya untuk beberapa orang berpenghasilan lebih yang rela menyewa villa di sana. "Dia tewas."


"Kenapa dia melakukannya?"


Jess mengatakan kebenarannya. "Paolo sedang mabuk, dia berpikir kau membuangnya."


"Mereka tahu kalau Malia adalah istriku?"


"No, tidak ada yang tahu sampai kau memberitahu."


"Tetap jadikan rahasia, kehidupan wanita ini bukan untuk konsumsi El Sinaloa, dia milikku," ucap Norman dengan penuh penekanan.


Jesa ingin mengatakan kecurigaannya pada Dania, tapi dia tidak memiliki bukti. Jess tidak ingin terlibat masalah, dia akan diam sampai harus benar-benar mengatakannya. Dengan bukti yang cukup kuat tentunya. "Aku mengerti, Señor."


"Apa kau melihat kemana Dania pergi?"


"Dia keluar, untuk melihat laut. Dia bilang begitu."


"Kau tahu bukan? Siapa Dania?"


"Kekasihmu?" Tanya Jesa menggantung.


Namun, Norman tidak menjawab, dia lebih memilih menghisap rokoknya. Dari gerak tubuhnya, Norman mengatakan dia enggan mengakuinya. Jess menyimpulkan, tuannya lebih berat pada istrinya.


Kembali lagi, Jess tidak ingin terlibat. 


"Pergilah, akan aku panggil jika membutuhkanmu."


"Sí, Señor."


Kepergian Jess membuat Norman segera menghabiskan rokoknya, dia membuang sisa puntungnya dan kembali masuk ke dalam kamar. Instingnya seolah lebih kuat dari hewan berdarah dingin. Ternyata benar dugaannya, Malia terbangun tepat saat Norman masuk. "Kenapa kau bangun, Malia?"


"Aku lapar," ucapnya secara spontan, membuat Norman mendekat dan membereskan rambutnya yang berantakan. "Perutku terus berbunyi."


"Kau lapar? Aku akan keluar."


"Tidak perlu, aku akan memasak. Bukankah di dapur ada makanan?"


Norman menggeleng. "No, habis. Aku akan keluar sebentar, ada Jess di luar yang akan menjagamu."


"Baiklah."


Malia tampak menggairahkan saat mengikat rambutnya. Norman kembali memadamkan gairah itu dengan pikirannya, dia tidak bisa melakukannya. Tidak untuk saat ini.


"Jangan tidur kembali, Malia."


"Huh?"


"Malam ini, jangan tidur."


Malia menatap Norman yang sedang memakai jaket, hingga dia mengerti maksud suaminya. "Ah, itu….."


"Ya, itu," ucap Norman lalu memberikan kecupan di bibir istrinya. Membuat Malia tersipu malu apalagi saat tangan nakal Norman menyentuh dadanya dan meremasnya secara berulang. "Kau mengerti bukan?"


"Hentikan kau," ucap Malia.


Norman terkekeh saat melihat istrinya masuk ke dalam selimut menahan malu. Faktanya, Norman pernah melihat semua bagian tubuh Malia. Dan satu yang diingat dan dirasakannya, itu indah dan mendebarkan. Malia bahkan tidak berani memakai bikini saat renang, membuat Norman tahu bagaimana kulit bening tidak terpapar sinar matahari. Layaknya kristal, putih bening membuatnya selalu terpikirkan.


Dengan berjalan kaki, Norman memilih sambil mengawasi apa yang terjadi di sekitarnya. Tidak ada yang membuatnya tertarik, hanya ada beberapa orang kaya sedang makan malam di resort yang ada di atas teluk.


El Sinaloa mematuhi perintahnya, tidak ada yang beroperasi di sini.


"Norman!"

__ADS_1


Tanpa menengok pun, Norman tahu siapa yang memanggilnya. Dia memeluk dari belakang, membuat Norman menghentikan langkahnya. "Lepaskan aku, Dania."


"Kenapa kau mengacuhkanku lagi, Norman?"


"Lepaskan."


"Baiklah, aku minta maaf karena menahanmu," ucap Dania melepaskan pelukannya, dia melangkah ke hadapan Norman. "Apa yang terjadi denganmu?"


Norman menatap datar. "Menyingkirlah, Dania."


Nada suara itu membuat Dania mundur, dia menatap kepergian Norman. Jika dirinya tidak bisa mengembalikan Norman dengan cara merayu kekasihnya, maka Dania akan menyingkirkan jamurnya. Dia melangkah lebar menuju villa tempat Malia berada. Sialnya, di depan villa ada Jess yang sedang merokok.


"Kau kembali?"


"Menyingkirlah."


"Aku bisa mengadukan apa yang kau buat tadi."


"Kenyataanya kau sudah membuangnya," ucap Dania masuk ke dalam villa, dia mengambil sebotol air dalam kulkas dengan diikuti oleh Jess. "Apa? Aku hanya akan minum dan menemui Malia."


"Señora sudah tidur."


"Tidak." Dania menggeleng, lalu berteriak, "Malia!"


"Ya? Dania? Kau kah itu?"


Dania menatap Jess sambil tersenyum, lalu kembali berucap yang ditunjukan kepada Malia. "Malia, aku ingin bicara, bisakah aku masuk ke kamarmu?"


"Sí, masuklah."


Tanpa berkata lagi pada Jess, Dania masuk. Dia seketika memasang wajah sedih dan seketika memeluk Malia yang duduk di atas ranjang. "Malia aku mendengar apa yang terjadi denganmu hari ini. Maafkan aku, ini salahku. Aku mencari ponselku dan melihat ada anak hampir tenggelam, aku menolongnya dan melupakan dirimu. Maafkan aku, Malia."


Bahkan, air mata Dania menetes.


"Tidak apa, Dania. Aku selamat, jangan menangis. Sekarang katakan padaku, apa anak itu selamat?"


Dania mengangguk. "Ya, aku minta maaf melupakanmu. Aku ingin datang tadi, tapi wanita di depan sana melarangku dan malah menyalahkanku atas segelanya. Aku minta maaf, maafkan aku, aku takut Norman marah padaku."


"Tidak, Dania." Pemilik manik cokelat itu membalas pelukan. "Norman takkan marah padamu karena ini bukan kesalahanmu, jangan khawatir, dia akan tahu kau pergi karena hal baik. Jangan menangis, sudah."


Malia menerima sebuah lolipop yang diberikan Dania. "Lolipop?"


"Ya, sebagai permintaan maaf. Maukah kau memaafkanku?"


Malia mengangguk dengan senyuman manisnya. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, kau tidak salah. Jangan khawatirkan apapun, semuanya akan baik-baik saja, aku janji."


"Kalau begitu, bisakah kau memakan permen itu untukku?"


Malia mengangguk, dia membuka bungkus plastiknya. "Gracias, Dania."


Dan wanita berambut cokelat terang itu tersenyum puas dalam hatinya, dengan tatapan tidak ingin terlepas. Setiap Malia menjilat permennya, Dania tersenyum puas dalam hati.


***


Malia menelan ludahnya kasar, dia mendapati dirinya dalam masa periode saat bangun pagi. Parahnya lagi, bagian tidurnya kini berubah warna menjadi merah. 


Liburan yang mengerikan untuk Malia. Apalagi saat dia ingat kalimat Norman sebelum tidur, "Besok kita akan mengurung diri di kamar, sebelum kehabisan waktu."


Karena kenyataannya, besok mereka harus kembali ke rumah. Dan Malia malah menstruasi, membuat dirinya tidak bisa melakukan apa yang Norman inginkan.


Suaminya masih tidur, Malia kebingungan harus berbuat apa, apalagi Norman memeluk perut istrinya. Hingga ketika diri Malia hendak mengambil tongkat, Norman membuka matanya. "Mau ke mana?"


"Ke… itu… toilet."


"Ada apa?" Tanya Norman saat Malia berusaha mengurung dirinya dalam selimut, terlihat jelas menutupi sesuatu. "Ada apa, Malia?"


Tanpa berkata, Malia menyingkirkan selimut yang menutupinya. Yang mana membuat Norman tertegun, seolah pertama kali melihat hal seperti ini.


"Maaf," gumam Malia. "Aku dalam masa periode."


"Apa selalu sebanyak ini?"

__ADS_1


"Sebelumnya tidak, juga seharusnya aku periode dua minggu lagi. Ini terlalu cepat."


Banyak sekai warna merah di sana, yang membuat Norman menyingkirkan selimut ke bawah.


"Aku bisa berjalan sendiri," ucap Malia menolak saat Norman hendak menggendongnya.


"Apa yang kau bicarakan?"


"Aku tidak mau kau merasa jijik."


"Aku tidak jijik," ucap Norman menggendong Malia dan membawanya ke kamar mandi. Mendudukannya di closet sebelum menyalakn shower.


"Jangan mandikan aku," ucap Malia menolak. "Aku bisa sendiri."


"Aku sudah biasa memandikanmu."


"Aku juga biasa mandi sendiri, ayolah Norman aku hanya ingin mandi sendirian. Aku malu," cicitnya di akhir kalimat.


Norman berdecak. "Panggil aku jika butuh sesuatu."


"Aku butuh tampon."


"O-oke." pria itu segera keluar, dia menelpon pelayan villa untuk membersihkan ranjang dan membawakan apa yang Malia inginkan.


Ketika menunggu, Norman mendengar pintu diketuk. Dipikirnya itu adalah pelayan, nyatanya itu adalah Dania. Dan kenyataannya, Norman sedang tidak ingin terlibat dengan wanita itu. "Dania?"


"Kau ingin keluar malam ini?"


"Bukankah kau harus kerja di bar?"


Dania berdecak melihat wajah datar Norman. "Bagaimana kalau kau melihat bar mu yang baru? Kau belum ke sana bukan?"


"Aku tidak tertarik."


"Apa yang sedang kau lakukan dengan Malia?"


"Tidak ada. Kembalilah, Dania, biarkan aku bersama Malia."


"Itu tidak ada dalam rencana." Dania menahan pintu. "Aku mencintaimu."


"Gunakan waktumu," ucap Norman menutup pintu.


Membuat Dania menghentakan kakinya, dia duduk di depan villa sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan. Saat seseorang masuk ke dalam villa pun, Dania tidak sadar. Dia menatap ponselnya bingung meminta bantuan pada siapa.


Sampai ketika pelayan keluar membawa sprai dan selimut penuh darah, baru Dania sadar. "Hei, apa itu?"


"Ini sprei dan selimut."


"Maksudku noda apa itu?"


"Sepertinya penyewa di sini sedang menstruasi."


Kalimat yang membuat Dania terdiam, dia segera menelpon seseorang di mana dia mendapatkan permen yang diberikan pada Malia. "Hallo, Lohan, kau membuat permen itu untuk menetralkan dia bukan? Kenapa dia malah menstruasi? Dan banyak, dia subur, Bodoh!"


Pria dalam telpon tertawa. 'Benar kata Dennis, kau tidak sabaran. Tenanglah, Dania, itu adalah proses pembersihan. Julukanku adalah ilmuan gila, kau bisa percaya padaku.'


"Dia tidak akan memiliki keturunan bukan?"


'Tidak jika kau memberikan permen itu secara berkala.'


"Kalau begitu berikan aku lagi."


Lohan terdiam dalam telpon. 


"Lohan!"


'Mungkin kau harus datang ke sini dengan tanpa busana, dan aku akan memberikan lagi permen itu.'


"Sialan! Aku akan ke sana sekarang juga."


---

__ADS_1


**Love,


ig : @Alzena2108**


__ADS_2