
Vote sebelum membacaš
.
.
"Maaf, apa kau mengenal ayahku?"
Pertanyaan Malia dibalas dengan suara dingin. "Tidak."
Dan ketika Norman hendak berjalan melewati Malia, perempuan itu menahan tangannya. "Lalu kenapa kau datang? Tidak mungkin kau datang karena melihat nisan di sini, lalu merasa kasihan kemudian menyimpan bunga di sana."
Norman terdiam sesaat, dia tidak tahu Malia menjadi secerewed ini setelah sekian lama. Dan yang paling dirasakan Norman adalah genggaman tangan Malia pada pergelangan tangannya.
Norman menengok dan membalas tatapan manik indah milik Malia. "Aku hanya mengenalnya sebagai rekan bisnis."
"Bisa kita bicara sebentar?"
"Tidak," ucap Norman melepaskan tangan Malia.
"Aku mohon."
"Aku memiliki banyak urusan."
"Sebentar saja, Tuan. Aku butuh bantuan seseorang yang mengenal ayahku di sini. Apa kau kebetulan tahu bagaimana dia bisa meninggal di sini? Kau bekerja sama dengannya bukan?" tanya Malia mengeluarkan semua keinginan tahuannya. Malia benar benar butuh sebuah jawaban atas dua tahun yang benar benar merubah hidupnya.
"Aku hanya mengenalnya sesaat," ucap Norman kemudian kembali melangkah.
Malia menarik napas dalam menahan rasa kesal, dia mencoba memendam kembali emosi yang tidak baik itu.
"Apa kau baik baik saja, Malia?"
Malia menunduk menatap Kai yang ada dalam genggaman tangannya. "Ya, aku baik baik saja. Aku akan ke sana sebentar."
"Aku akan tunggu di sini, Malia," ucap Kai melepaskan tangan Malia.
Tapi Malia tidak membiarkan anak itu pergi, dia menggenggam kembali. "Kau ikut denganku, jangan ke mana mana."
"Aku ingin menunggu di taksi. Aku tidak ingin ke sana."
Akhirnya Malia mengizinkan, Kai berlari menuju taksi yang ada di sana. Dan bukan Norman namanya yang tidak pandai bersembunyi, dia menarik tangan Kai sepersekian detik hingga tidak terlihat ataupun terdengar suara yang mencurigakan.
"Diam, diam. Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya akan bertanya beberapa hal padamu."
"Apa?" tanya Kai.
"Kenapa kau bersamanya? Apa kau sepupu Edward?"
__ADS_1
"Siapa Edward?"
Norman merasa lega, setidaknya anak ini tidak ada hubungannya dengan pria itu. "Siapa kau? Kenapa bersama Malia?"
"Malia menjagaku sampai nenek datang."
Kalimat itu menjelaskan semuanya, Norman melepaskan tangan anak itu. "Kau boleh pergi."
"Kau tidak ingin memberitahu Malia?"
"Memberitahu apa?"
Tatapan mereka bertemu beberapa saat, sampai Kai tersenyum lalu mengatakan, "Kau suaminya Malia?"
Norman menegang. "Bagaimana kau tahu?"
Kai berbalik hendak menuju mobil. Tapi Norman kembali menariknya. "Bagaimana kau tahu? Apa Malia mengatakannya padamu?"
Kai menggeleng. "Aku hanya menerka."
Sampai Norman sadar, anak ini bisa memahami pikiran. "Berjanjilah kau tidak akan mengatakan itu pada Malia. Aku akan mencari jalannya."
"Itu bukan urusanku."
Dan saat itulah Malia datang. "Kai? Apa yang kau lakukan padanya, jauhi anak ini."
Malia mengira Norman akan mencelakai Kai. "Apa kau baik baik saja? Apa dia menyakitimu?"
"Hanya memastikan beberapa hal."
"Tunggu, aku ingin bicara denganmu," ucap Malia kembali menahan tangan Norman. "Kau tahu sesuatu bukan?"
"Aku tidak tahu apa pun, aku tidak punya yang kau inginkan."
***
Malia sampai di teluk Puerto Del Marques, tempat dia akan menginap di sebuah villa.
"Tempat ini serasa tidak asing," ucap Malia masuk sambil menuntun Kai. "Kau ingin tidur? Pergilah ke sana."
Kai pergi, sementara Malia membuka jendela yang menghadap langsung ke pantai. Jan pintar sekali memilih tempat. Membuat Malia segera menelpon Jan sambil duduk di balkon.
"Hallo, Jan. Aku baru saja sampai."
"Bagus, aku baru saja bangun."
"Kau bersama dengan perawat bukan?"
__ADS_1
"Jangan khawatirkan aku."
Malia menyandarkan pundak di kursi. "Jan⦠apa kau tahu?"
"Apa yang aku tahu?"
"Ada seorang pria datang ke kuburan ayahku saat aku ke sana tadi."
Jan terdiam di sana.
"Jan? Apa kau mati?"
"Ha ha ha, kau lumayan pintar bercanda sekarang."
"Jan, aku pikir pria itu tahu apa yang terjadi selama satu tahun ayahku berada di sini. Aku butuh jawaban, mungkin pria itu tahu."
"Aku bahkan tidak tahu siapa pria yang kau maksud."
"Dia memiliki tatapan tajam, begitu tinggi. Aku pikir dia adalah rentenir karena perawakannya cocok untuk itu. Tapi kenapa dia datang ke makam ayahku? Apa karena ayahku punya hutang padanya?"
Jan berdecak di sana. "Aku bahkan tidak tahu siapa dia, kau tidak mengenalnya. Berhenti berspekulasi. Jika tidak kepalamu akan kesakitan lagi."
Malia terdiam, memang benar dia harus berhenti memikirkan apa yang terjadi dalam hal yang dia lupakan. "Jan, apa ada hal buruk terjadi saat lima tahun ke belakang? Setelah kakiku tidak bisa berjalan dengan baik?"
Jan diam sesaat. "Kau tahu aku tidak banyak tahu."
"Aku melupakannya selama lima tahun terakhir, itu bukan waktu yang sebentar, Jan. Aku masih bertanya tanya, kenapa waktu itu aku lupakan? Kenapa aku begitu kesakitan jika mengingatnya? Dan aku pikir satu atau dua tahun terakhir ini adalah bagian paling pentingnya."
Jan berdecak. "Sudahlah, kalau kau ingin mencari masa lalumu maka cari sendiri. Dulu kau tertutup padaku, Malia. Jadi ya⦠Sudahlah. Jangan lupa bawa karya karya itu untuk dilelang."
"Tapi, Janā¦"
"Pergilah istirahat."
"Baiklah. Sampai nanti lagi."
Dan ketika Malia menutup telponnya, ada seseorang mengetuk pintu. Malia yakin itu adalah pelayan yang dia pinta untuk membawakan makanan dari dalam telpon.
Malia membukanya, dan pelayan wanita itu tampak terkejut.
"SeƱora Malia?" Pelayan itu spontan.
"SeƱora?" gumam Malia merasa heran. Karena kata itu dipergunakan untuk wanita yang seharusnya sudah menikah. Jika dia masih sendiri atau lajang, maka seharusnya itu SeƱorita.
---
Jangan khawatir, Bloody Marriage akan update setiap minggunya. Mungkin setiap hari, doa kan aku ya.
__ADS_1
Love,
Ig : @Alzena2108