Bloody Marriage

Bloody Marriage
The Bride 4


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘


.


.


Guererro, Meksiko.


Norman kembali ke apartemennya, dia menarik napas dalam. Kesepian dia rasakan satu tahun terakhir ini. Namun, melihat Malia yang tersenyum dan kembali bisa berjalan, membuat Norman senang. Maka darinya, malam itu dia hanya menatap foto Malia yang tersenyum, dengan foto pernikahannya yang dia pajang begitu besar.


Memang, jika dalam catatan negara Spanyol, mereka masih suamu istri. Namun, Norman tidak ingin mengganggu kehidupan baru Malia dengan menyelesaikan perceraian yang akan berdampak dengan ingatannya yang akan kembali. 


Maka darinya, Norman membiarkannya begitu saja.


Norman merokok sambil menatap kota Guererro yang menjadi saksi bisu bagaimana kelamnya masa lalunya. Ditemani alkohol dan rokok, juga beberapa jenis kacang kering, Norman sendirian menatap malamnya kota Guererro.


Malam hari pola hidupnya rusak, berbeda dengan pagi hari dimana Norman mengeluarkan semua racun dengan olahraga dan pola hidup sehat.


Keheningannya rusak oleh sebuah pesan, yang dikirimkan oleh Jess.


**00.32.


Jess** : Aku menemukan karya seni yang akan membuatmu lancar.


Dan Norman hanya membalas.


Me : Lanjutkan semuanya dengan baik.


Sampai akhirnya Norman menyeselaikan kesendiriannya dengan membuat videocall bersama Andrean. Spanyol sudah pagi, memperlihatkan bagaimana sosok Papanya sudah terbangun dengan beberapa anak yang terus mengganggunya.


Norman terkekeh melihat Andrean kesulitan menghadapi Louisa dan Leon yang berebut pangkuannya.


"Sebentar, Norman…. Mereka tidak bisa diam."


Terdengar keributan Leon kecil yang menangis dengan Louisa yang berucap, "Leon yang salah, dia seharusnya tidur. Dia masih bayi."


"Oke, sudah jangan ribut." Terlihat Andrean menyimpan ponselnya untuk meredakan tangis Leon.


Sementara itu, ponsel diambil Louisa yang kini mulai tumbuh. Wajah cantiknya mewarisi Louis, apalagi mata hitamnya begitu tajam.


"Holla, Uncle!"


"Holla, Louisa. Kalian menginap?"


Louisa mengangguk. "Hanya kami berdua, Mum dan Daddy tidak."


"Pergi ke mana mereka?"


"Mum bilang dia akan menemani Daddy ke Los Angeles."


"Perjalanan bisnis?"


Louisa kembali mengangguk, dia mengacungkan jari telunjuknya. "Satu minggu Lee ada di sini."


"Lalu kenapa kalian sudah bangun? Ini akhir pekan, anak kecil harusnya tidur saja lagi."


"Leon membangunkan. Kenapa uncle masih bangun? Orang dewasa seharusnya tidur bukan?."


Norman tergagap, dia kesulitan jika berbicara dengan Louisa.


"Baiklah, jika bangun tidur jangan bermain ponsel. Tidak baik untuk anak kecil yang cantik, nanti mata mereka menghitam dan memerah. Kau mau tidak cantik lagi?"


Louisa menggeleng seketika.


"Sekarang berikan ponselnya pada Grappa."


"Grappa sedang menidurkan Leon." Terlihat Louisa yang berubah posisi menjadi tiduran. "Uncle… kapan kau pulang?"


"Sayang, rumahku di sini sekarang. Kau yang seharusnya datang berkunjung."


"Jika Malia di sana, Lee akan datang."


Norman membalas dengan senyuman tipis, kenyataannya Louisa belum tahu tentang perpisahan mereka. Sulit menjelaskan, apalagi Louisa terus bertanya begitu banyak layaknya hujan yang turun begitu deras.

__ADS_1


"Baiklah, aku mendengar langkah Grappa. Berikan padanya."


Louisa mengalah. "Good bye, Uncle," ucapnya memberikan kecupan jarak jauh sebelum memberikan ponselnya pada Andrean.


"Hallo, Son. Bagaimana kabarmu?"


"Kau lihat sendiri, Papa."


"Masih menyendiri?"


"Aku tidak sendiri," ucap Norman memperlihatkan sekitarnya, di mana di sana ada beberapa foto keluarga. "Lihat, kalian ada di sini."


"Ya, aku juga melihat Malia."


Senyum Norman memudar. 


"Apa yang kau lakukan lagi, Norman?"


"Malia tiene un amante, un médico de terapia. Es bastante inteligente y guapo, también bueno. De buena familia, se llama Edward. El hombre que elegí para ayudar a Malia a caminar de nuevo. Y se enamoran. (Malia punya kekasih, seorang dokter terapi. Dia cukup pintar dan tampan, juga baik. Dari keluarga baik, namanya Edward. Pria yang aku pilih untuk membantu Malia bisa berjalan kembali. Dan mereka jatuh cinta.)"


"Mereka atau hanya si pria yang jatuh cinta?"


Norman diam, yang segera diberi nasihat oleh Andrean. "Sebaik baiknya kau menyembunyikan bangkai, akan tercium juga. Malia akan mengingatnya, dia akan mencarimu."


"No papa. Me olvidó para siempre, porque lo había lastimado y lo había puesto triste. (Tidak, Papa. Dia melupakanku selamanya, karena aku telah menyakitinya dan membuatnya sedih.)"


"Norman anakku…." Andrean berucap dengan lembut. "Sebelum terlambat, pikirkan dengan baik apa yang kau lakukan."


***


Malibu, Amerika Serikat.


Edward masih menerbangkan layangan dengan Malia ada di sampingnya. Sambil duduk, Malia berdandar pada Edward. Keduanya masih belum ingin menghentikan momen romantis ini, apalagi penyelenggara acara di sana membuat api unggun di tepi pantai, membuat beberapa pasang kekasih memilih menyewa tenda dan tidur di sana.


Edwrad ragu, dia mengatakan, "Malia… Apa kau ingin menginap di sini?"


Malia terlihat kaget dengan pertanyaan itu, tapi dia tidak memperlihatkan mengingatkan wajahnya sedang menunduk bersandar pada Edward. 


Kenyataannya, Malia belum pernah berciuman dengan Edward. Pria itu hanya mencium keningnya saat mereka mulai berpacaran, tepatnya saat Edward diterima cintanya.


"Aku rasa tidak… aku tidak bisa meninggalkan Jan di rumah."


"Ouh…" Edward terlihat bingung. "Aku mengerti."


Keheningan melanda, Edward yang begitu mencintai Malia kebingungan harus berkata apa. Dia tidak ingin mengusik ketenangan atau membuat Malia tidak nyaman. Maka darinya dia berkata, "Maaf dengan pertanyaan itu."


"Mungkin kita bisa melakukannya lain kali."


"Ya, aku pikir aku harus menanyakannya saat aku sudah menjadi suamimu bukan?"


Malia terkekeh. "Itu langkah yang sangat besar."


"Aku akan lakukan apapun jika bersamamu."


Sampai Edward mengakhiri layangannya, membiarkannya lepas dan terbang oleh angin laut.


Keduanya bahkan bergenggaman saat menuju ke mobil. 


"Bisakah kita membeli coklat dulu?"


"Cokelat?" Edward bingung, seingatnya Malia tidak menyukai cokelat langsung. Kecuali olahan yang dicampurkan dengan cookies.


"Untuk Jan dan Stacy."


"Ouh, tentu saja. Aku tahu di mana tempat yang enak."


"Aku yang menyetir?" Tanya Malia sambil menampahkan tangannya.


Membuat Edward menghela napas dan memberikannya pada Malia.


"Yes!" Malia kesenangan.


Edward menyetel pengaturan google maps menuju toko yang dimaksudkan untuk membeli cokelat.

__ADS_1


"Chocolate Night?"


Edward tersenyum. "Kau mau kan?"


Pasalnya setahu Malia pemilik Chocolate Night adalah sepupu Edward yang juga merantau dari Boston. "Tentu, kita lihat eskpresi sepupumu melihat kau punya pacar wanita yang begitu cantik."


"Astaga, dengan siapa di sana?"


Malia tertawa senang.


****


"Hallo, selamat datang di….. Oh shit!" umpat sepupu Edward yang berjenis kelamin pria. "Ed?!"


"Berhenti, kau akan menakutinya."


"Akhirnya kau mendapatkannya."


"Berhenti bicara, dia malu," ucap Edward memegang pinggang Malia saat masuk menuju ke arah dapur olahan cokelat. 


Dimana Edward bersalaman dengan sepupunya di sana. Kemudian tertuju pada Malia.


"Hallo, aku Hendrick. Panggil aku Rick."


"Malia."


"Kau adalah pasien yang disukainya."


"Hahah, aku rasa begitu," ucap Malia tersenyum malu.


"Kau." Tatap Hendrick pada Edward, ambil cokelat yang kau mau. Aku ingin berbincang dengan kekasihmu.


Edward menggeleng enggan, sampai dia mendapat tatapan dari Malia untuk membiarkannya. Maka darinya Edward pergi ke etalase mencari beberapa cokelat dan meninggalkan Malia dengan Hendrick.


"Edward selalu bercerita tentangmu, Malia. Dia menyukaimu sejak pertama kali kaliam bertemu."


"Dia mengatakannya?"


"Setiap saat jika kami bertemu. Kau akan bahagia jika bersamanya." Hendrick menatap ke arah belakang di mana pegawainya sedang membuat cokelat strawaberry. "Kau ingin membawanya pulang?"


"Ya, why not."


Hendrick terkekeh, dia berbalik. Dan yang membuat Malia kaget, dia melihat tatto jantung yang tertusuk saat Hendrick mengganti pakaiannya dengan pakaian pelindung dari cokelat yang panas.


Sebuah ingatan masa lalu membuat keningnya pening, ingatan akan segerombolah orang yang memakai tatto itu. Sampai seorang pria dengan penuh tatto yang mengatakan, "Malia… kau adalah lentera hidupku."


"Malia?"


Malia tergelonjak kaget saat Edward menyentuh pundaknya.


"Ada apa? Aku membuatmu kaget?"


"Tidak, aku baik baik saja."


"Hei, tatap aku. Katakan padaku ada apa."


Malia menarik napas dalam ketika Edward merangkup pipinya dan memaksa tatapan mereka beradu.


"Ada apa?"


"Apa… itu…."


"Katakan padaku, Malia."


"Hendrick punya tatto di punggungnya," ucap Malia dengan suara kecil.


Yang mana membuat Edward mengangguk pelan. "Ya, dulu dia mantan…." Edward terlihat ragu. "Dia pernah bekerja pada kartel mengerikan di Meksiko. Mereka menyebut diri mereka El Sinaloa."


"El Sinaloa?" Malia kembali merasakan pening, suara yang ada dalam otaknya seolah memberontak.


Terus mengatakan, "Malia ... eres la linterna de mi vida. Levántate, te amo, cariño (Malia… kau adalah lentera hidupku. Bangunlah, aku mencintaimu, Sayang.)"


****

__ADS_1


**Love,


Instagram : @Alzena2108**


__ADS_2