
Vote sebelum membaca😘
.
.
Jess mendapatkan pesan dari Norman, menyuruhnya untuk pergi ke pertambangan Campo Morado. Dan Jess, dia tahu akan masuk ke area dimana El Sinaloa berpusat. Dia mengambil dua kilo narkoba sebagai penyamarannya. Lokasi yang dikirimkan Norman cukup jelas, sialnya hanya ada satu jalan ke sana.
Membuatnya harus menyamar sebagai pengedar untuk El Sinaloa.
Jess menaiki mobilnya. Saat dia menemukan belokan menunu Campo Morado, di mana di sana jalan terbentuk oleh tanah yang berdebu juga gersang, Jan segera memakai maskernya. Dia memakai kaos dalam guna memperlihatkan tattonya.
Sesuai dugaannya, di sana ada palang dengan pos penjagaan.
"Maaf, Nona, ini area pribadi."
"Aku tahu," ucap Jess memperlihatkan punggungnya. "Aku membawa narkoba, dan mereka bilang aku boleh memberikannya pada kalian beberapa bungkus."
Pria berkulit hitam itu menerimanya, tapi dia tidak percaya begitu saja. "Kepentingan apa kau membawa benda itu ke sini?"
"Ini narkoba jenis baru yang datang dari Sicillia, mereka perlu menyelidikinya guna menggandakannya."
"Bukankah lab berada di Puerto Del Marquès?" Tanya pria itu menguji Jess.
"Kau pikir aku hanya pengedar yang mengerat meminta uang, aku tahu lan dipindahkan dengan alasan tidak jelas. Jadi menyingkirlah."
Pria berkulit hitam itu tetap tidak percaya, dia menelpon seseorang di sana. Jess menelan ludahnya kasar, berharap apa yang dikatakan Norman benar.
"Ya, kau boleh masuk."
Jess menghela napasnya dalam. Dia tahu, pengedar yang memiliki tatto El Sinaloa nyatanya hanya dimanfaatkan oleh yang lebih tinggi. Mereka disuruh melakukan pekerjaan kotor.Â
Sadisnya lagi, para pengedar atau orang-orang yanh selalu melakukan pekerjaan kotor untuk El Sinaloa dipasangkan gigi palsu. Di mana gigi itu akan membuat mereka keracunan jika saja mereka membocorkan rahasia El Sinaloa. Yang paling bawah selalu diawasi, karena tikus yang diam-diam mencuri lebih berbahaya.
Tempat yang Norman maksud sangatlah jauh, berada di tengah hutan dan puncak gunung. Sejauh mata memandang hanyalah hutan. Cukup sulit mencari kendaraan jika tersesat.
Jess segera berbaur dengan mereka yang sedang mengambil kiriman dari mobil box. Dia pura-pura mengambilnya dan mengikuti langkah yang lain ke dalam.
Jess menelan ludahnya kasar sepanjang perjalanan, dia menarik napas dalam saat melihat isi dari tempat itu. Ini adalah tambang bawah tanah, di sini sangat pengab.Â
"Simpan di sini," perintah seorang pria menyuruh Jess menyimpan kardus yang diyakininya berisi ganja di sebuah ruangan.
Mengambil kesempatan, Jess pergi dari kumpulan itu saat yang mengawasi memalingkan wajah.
Dia harus mencari penyamaran lain. Hingga Jess berhenti dan berguman, "Kenapa ada banyak perawat di sini?"
Seragam mereka jelas, membuat Jess yakin jika mereka diculik dari rumah sakit.
Jess mengikuti salah satunya menuju lorong sepi. Saat ada kesempatan, dia memukulnya hingga pingsan. Seragam perawar itu dia pakai, Jess kini berpenampilan layaknya wanita, dengan seragam bertuliskan nama Kina.
Saat keluar menuju cahaya, temannya sesama perawat memanggil. "Hei, kau, ambilkan aku infys baru di sana."
Jess segera melakukannya.
"Dan ikut denganku."
__ADS_1
Beruntungnya wanita yang memerintahkan Jess tidak melihat wajahnya, sampai mereka berhenti di depan pintu dengan kunci keamanan tingkat tinggi.
Saat wanita itu menoleh, dia baru sadar. "Kau bukan Kina."
"Buka," perintah Jess menodongkan senjata, membuat wanita itu menelan ludahnya kasar dan menahan teriakannya.
"Buka!"
Saat dia melakukannya, pintu terbuka. Dan Jess tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, di mana dia melihat Dennis di sana dengan alat bantu hidupnya.
"Melangkah!"
Jess masuk dan menutup pintu. "Apa dia masih hidup?"
"SÃ."
"Berapa persen kemungkinan dia akan membuka mata?"
"Dua hari lagi."
"Bagaimana?"
"Tembakannya tidak mengenai organ penting. Meskipun iya, kami telah melakukan operasi."
"Shit!"
****
Mempersiapkan makan malam, Malia memotong-motong jamur sambil sesekali bercanda tawa bersama dengan Jan.Â
"Baiklah."
Dan saat itu, Jan mendapati telpon, dia mengangkatnya setelah memberikan makaroni yang diinginkan Malia.
"Holla?" Mengangkat telpon rumahnya.
'Jan, ini aku Norman.'
Jan seketika menatap Malia sambil tersenyum sebelum berbalik. Suaranya memelan. "SÃ, Señor?"
'Apa Malia sudah tidur?'
Prediksinya, Norman akan datang. Dan dia segera menjawab, "Datanglah, Señor."
'Bagaimana dengan Malia? Apa dia sudah tidur?'
"SÃ, dia sudah tidur."
"Siapa, Jan?" Tanya Malia saat Jan menutup telpon.
"Dari teman lama."
Malia tidak memberikan banyak komentar, dia lebih banyak memasak.
"Malia…."
__ADS_1
"Ya?"
Jan ragu, tapi dia ingin membantu Norman dan Malia memperbaiki hubungan mereka. Maka darinya dia berkata, "Aku akan keluar sebentar, temanku bilang dia punya cake hangat."
"Kau akan makan malam di sini kan?"
"SÃ, aku akan kembali sebelum selesai."
Maka darinya, Malia mengangguk mengizinkan. Membiarkan Jan menggunakan mantelnya. Dia memberikan pelukan pada Malia sebelum pergi dari sana. Tanpa menggunakan skuter, sebenarnya Jan hanya berjalan di sekitar kompleks. Matanya bahkan masih bisa menatap rumahnya.Â
Dia diam di taman bermain anak, sambil memakan cemilan yang dibawanya di kantong mantel.
Sambil berayun di sana, manik Jan tetap menatap rumahnya.Â
"Jan?"
"Oh, kau…" Jan mengumpat mendapati suami Claudia di sini bersama putra tirinya. "Kau tinggal di sini?"
"Ya. Habis belanja?"
"SÃ, bagaimana denganmu?"
"Hanya bermain sebelum makan malam."
Pria yang menggendong putra sambungnya itu tertawa, dia malah bergabung duduk di bangku tamat di samping ayunan. "Apa kau sudah lama mengenal Claudia?"
"Lumayan, dulu rumahku bersebelahan dengannya, kini rumahku di sana."
Jan menggigit bibirnya mengumpati dirinya yang ceroboh.
"Ah, masih cukup dekat. Kau bisa berkunjung ke rumahku, besok ada pesta BBQ bersama teman Claudia. Kau pasti mengenal mereka."
"Gracias, kenapa kau tidak segera pergi? Putramu sangat tidak nyaman di sana," ucap Jan menunjuk dengan tatapan.
Pria itu tertawa. "Aku merasa pernah melihatmu, tapi dalam versi kepala botak dan penuh tatto, kau juga terlihat gagah. Apa kau punya saudara yang terlibat bandar narkoba?"
"Tidak, aku hidup seorang diri."
"Maaf, aku benar-benar penasaran," ucapnya berdiri. "Selamat malam."
"Selamat malam."
Jan menghela napasnya saat pria itu menjauh.
Dan di sisi lain, Malia yang sudah selesai memasak mendengar pintu terbuka, dia segera berkata, "Kau mendapatkan kue mu, Jan? Makan malam sudah siap?"
Dan kenyataanya, saat berbalik, yang Malia dapatkan adalah suaminya.
"Norman?"
---
**Love,
ig : @Alzena2108**
__ADS_1