Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 49


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘


.


.


Dania tertawa saat dia mendengar lelucon dari Dennis. Mereka seolah menjadi penguasa mansion itu, membuat keributan dan memerintah seenak mereka. Semua pelayan, dan siapapun yang bekerja di bawah El Sinaloa akan menurut padanya. 


"Jadi, kira-kira berapa banyak anggota El Sinaloa?"


"Cukup banyak."


"Ribuan?"


"Ratusan ribu, kau akan terkejut bila melihat mereka."


"Aku ingin melihat," ucap Dania yang sedang duduk di pangkuan Dennis, dia mengusap dada pria itu. "Aku ingin mendapatkan tatto yang serupa."


"Ah, kau tahu?"


"Sí, seorang teman memberitahuku."


"Apa yang ingin kau ketahui lagi?"


"Kenapa kau melakukannya?"


Dennis mengelus pipi Dania sebelum jemari lentiknya turun menuruni garis rahang, dan akhirnya memberikan kecupan di dagu Dania. "Aku ingin mereka percaya bahwa aku adalah pemimpin mereka, sesuatu dilakukan dari hal yang kecil bukan?"


"Kenapa kau sangat ingin menguasai El Sinaloa?"


Dennis terkekeh, dia memegang perutnya yang terasa sakit karena cubitan Dania. "Kau tahu berapa banyak uang mereka. Saat aku mendapatkannya, yang kita lakukan hanya bersenang-senang, berlibur dan berpesta setiap malam. Aku tidak perlu lagi turun secara langsung."


"Kapan itu akan terjadi?"


Dennis mendesah. "Aku masih belum memiliki rencana, yang pasti Norman harus mati, tapi itu harus dilakukan oleh tangan Marc sendiri, karena amarahnya."


Dania memgalihkan perhatian, dia mengadah menatap lantai dua mansion di mana ada keributan di sana. "Norman setiap hari semakin berisik."


"Kau ingin melihatnya?"

__ADS_1


Dania mengadukan tatapannya dengan Dennis. "Kapan Marc akan kembali?"


"Dia akan berada di villa selama satu atau tiga minggu."


"Aku akan ke sana," ucap Dania turun dari pangkuan Dennis, dia mengkacingkan kemejanya sambil menaiki tangga.


Entah apa yang ada dalam pikirannya, tapi Dania terus saja menyunggingkan senyumannya menatap pintu yang sangat dia dambakan sebelumnya. Sebuah kamar di mana dirinya bisa berada di dalam sana bersama dengan Norman.


Saat membuka pintu, dia melihat Norman yang mencoba memberontak. "Holla, Norman?"


"Dania."


"Aku tahu ini sulit, tapi aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Norman, bersamamu aku tidak bisa melihat masa depan, tapi bersama Dennis aku akan mendapatkan semua yang aku mau. Aku akan berpesta, bergelimang harta dan memiliki status yang jelas. Jadi, jangan terlalu marah padakku. Aku tetap menyayangimu."


"Menyingkir dan pergi dari sini."


"Kau tetap saja selalu mengusirku," gumam Dania duduk di pinggir ranjang, dia menghela napas panjang. "Norman, Malia sudah masuk ke lantai empat kasino milikmu."


Rahang Norman mengetat.


"Ya, dia berada di kamar eksklusif. Jangan khawatir, kemarin aku melihatnya, dia dalam keadaan baik-baik saja."


Manik Norman tidak bisa lepas dari layar ponsel, memperlihatkan Malia yang duduk di atas ranjang dengan tatapan kosong dan tanpa ekspresi. "Kau tahu betapa dia sangat membencimu, Norman? Dia bahkan selalu melemparkan barang-barang dan menganggap kau ada di sana, dia mengatakan kata-kata kotor yang ditunjukan untuk dirimu. Kau mengerti maksudku?"


Dania tertawa kuat. "Malia membencimu, Norman. Sangat. Dia bahkan enggan mendengar namamu di sekitarnya."


Tangan Norman mengetat, wajahnya memperihatkan jelas kekesalannya.


Dennis, seorang pria yang sangat suka mengadu dombakan setiap orang itu menambahkan, "Maka, Norman, orang yang harus kau balas itu Marc, dia yang membuat semuanya seperti ini. Dia yang membuat Malia membencimu."


Dania mengangguk setuju. "Aku harap kau tidak datang melihat Malia, dia akan mengamuk jika melihat wajahmu. Jangan khawatir."


****


Kehidupannya hilang dalam hitungan hari, yang Malia lihat hanyalah kekosongan. Bahkan, seorang yang bekerja di sini tidak perlu bersusah payah menyuruhnya makan seperti wanita yang mereka culik sebelumnya. Berada di sebuah kamar dengan salah satu kaki terikat, Malia menghabiskan harinya duduk di atas ranjang menatap kosong pintu.


Saat pintu terbuka, Malia bisa melihat jajaran pintu lainnya. Layaknya sebuah asrama, banyak kamar yang diisi para gadis di sini. 


"Malia Van Allejov, waktunya kau makan," ucap seorang pria yang memberikan Malia nampan berisi makanan. Dia menyimpannya di meja lipat. "Makan itu."

__ADS_1


Tanpa banyak bicara, Malia memakannya. Tanpa dirasa, tanpa merasa, Malia menelannya begitu saja.


Tidak ada yang tahu siapa Malia sebenarnya. "Lukamu mulai hilang, itu harus hilang saat acara dimulai besok malam."


Malia seolah bisu dan tuli, dia hanya terdiam dan makan apa yang ada di atas meja.


"Karena kau murni juga cantik, kau akan mendapatkan harga yang bagus. Tapi sayang, kakimu cacat, itu menjadi nilai minus."


Malia tetap bungkam.


Saat Malia selesai makan, pria itu membawa bekasnya kembali keluar. Saat keluar, tangan pria itu ditahan oleh Dania. "Holla, Dania. Ada yang Señor Dennis butuhkan?"


"Bagaimana keadaan wanita bernama Malia?"


"Seperti yang aku katakan, dia sangat penurut."


Dania mengintip lewat sela-sela pintu yang sedikit terbuka. Dia merasa tidak rela Malia tidak melakukan perlawanan seperti gadis yang lainnya. Karena, jika gadis lain melawan, mereka akan mendapatkan hukuman. 


"Suntikan dia cairan penenang."


"Tapi dia tidak melakukan apapun."


"Lakukan itu!" Teriak Dania, dia menatap tajam pria itu. "Berikan dosis yang tinggi seperti perempuan lain yang mengamuk!"


"Tapi di--"


"Kau tahu pria suka wanita yang setengah sadar. Benar bukan?"


Pria itu terdiam.


"Lakukan!."


"Sí, Dania."


---


**Love,


ig : @Alzena2108**

__ADS_1


__ADS_2