Bloody Marriage

Bloody Marriage
The Bride 1


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘😘


.


.


Satu tahun kemudian…..


Guererro, Meksiko.


Seorang pria bermanik abu baru saja selesai berolahraga, dia memasuki apartemennya yang dia tempati selama satu tahun terakhir ini. Guererro, pusat kota Meksiko. Di sana Norman hidup sekarang ini.


Dengan hidup seorang diri, Norman hidup mulai teratur dengan aktivitas yang tidak jauh beda dari sebelumnya. 


Saat mendapat telpon, Norman menghentikan aktivitasnya membuat jus wortel.


"Hallo? Ada apa, Jess?"


"Ada barang datang."


"Aku akan ke sana."


"Baiklah."


Menutup telpon, Norman kembali melanjutkan membuat jus sambil menonton tv.


"........ Pemerintah Meksiko menegaskan bahwa mereka menangkap salah satu antek-antek El Sinaloa, disebutkan juga bahwa sabotase kendaraan mentri perdagangan dilakukan oleh klan yang menolak punah itu. Sampai saat ini, pemerintah masih belum bisa menangkap dalang dalam semua kejadian beberapa tahun terakhir ini. Namun, pemerintah menghimbau masyarakat agar tidak khawatir. Pasalnya, pemerintah mengawasi di setiap sudut, dengan kepolisian yang selalu siap 24 jam……"


Norman menyeringai mendengar laporan berita di pagi hari. El Sinaloa tidak pernah punah, dia memegangnya dengan sangat lihai. Tidak pernah ada yang mengetahui kalau dirinya yang memimpin, Jess selalu melakukannya seorang diri. 


Sambil minum jus, Norman menyalakan lagu untuk memecah keheningan di apartemen. Satu objek yang tidak bisa membuat Norman berpaling, yakni sebuah foto kekasih hatinya.


Tidak berhenti di sana, satu tahun terakhir ini Norman mengawasi Malia. Lewat Jan yang selalu bersamanya, Norman memgetahui segalanya. Setiap rekaman CCTv, Norman melihat segala yang dilakukan Malia di Malibu.


Seperti sekarang, saat Malia tidur atau istirahat, Jan melalukan telpon dengannya.


"Holla, Jan. Bagaimana Malia?"


Karena tidak bisa sepenuhnya Norman melihat Malia, dia bisa kapan saja keluar.


"Dia sudah bisa berjalan, dengan sangat normal."


Norman tersenyum tanpa sadar.


"Semuanya baik baik saja?"


"Ya, dia baik baik saja."


Baik yang dimaksudkan adalah ingatan Malia, dia belum juga mengingat. Dan menurut dokter, trauma itu menekannya hingga alam bawah sadarnya memilih menghilangkan memori itu sendiri.


"Apa yang dia lakukan kemarin? Dia tidak ada di rumah."


"Seperti biasa, dia mencari barang seni yang tidak terlihat masyarakat."


Itulah aktivitas Malia saat ini, dia berjalan ke beberapa daerah untuk menemukan karya seni dari seniman yang tersembunyi. Malia membelinya, lalu melelangnya untuk sebuah acara amal, yang akan diberikan pada penampungan anak yatim, manula bahkan sampai memberi donasi untuk anak yang memerlukan uang untuk operasi.


Hal membanggakan lainnya, Malia kini punya yayasan sendiri untuk membantu orang lain. 


"Dan satu lagi yang harus kau tahu, Señor…."


"Apa itu?"


"Malia semakin dekat dengan Edward."


Norman terdiam sesaat. 


"Apa yang harus aku lakukan?"


Sebenarnya, Norman tidak tinggal diam. Sudah lama dia mengawasi Edward, seorang dokter yang membantu Malia terapi berjalan. Dan Edward, dia memiliki latar belakang yang bagus, dengan riwayat hubungan dengan wanita yang sangat baik


"Señor?"


"Biarkan saja mereka."


***


Norman mengikuti petunjuk jalan yang diberikan Jess, dia meminta bertemu di sebuah restaurant. Di sela istirahat jam perusahaannya, Norman memasuki restaurant yang dimaksud.


Itu yang dia lakukan sekarang, menutupi kebusukannya dengan membuat pabrik anggur. Perusahaannya kinu memegang ekspor anggur terbesar di Meksiko. 


Masuk ke dalam, Norman melihat Jess yang sedang merokok di sana. Segera Jess mematikan rokoknya. "Señor…."


"Ada apa?"

__ADS_1


"Tuan Moore menolak menerima uang darimu, dia menolak El Sinaloa beroperasi di Panama."


"Lalu apa yang dia sukai?"


"Aku mengiriminya sebuah karya seni dari pelukis kelas dunia, dia menerima tapi tidak dengan keinginan kita."


Norman diam, dia memikirkan sesuatu dalam benaknya. "Kita lakukan kudeta?"


Kenyataannya, Norman masih mendominasi kejahatan di Meksiko. Bukan jual beli wanita, tapi barang barang illegal seperti bom rakitan, hewan liar dan narkotika.


"Kudeta?" Jess meminum minumannya. Dia sedikit terkekeh. "Apa kau ingin melakukan itu, Señor?"


"Seharusnya begitu bukan? Amerika Latin seharusnya dimiliki oleh kita, lagipula mereka akan mendapatkan apa yang mereka mau."


"Apa yang kau renanakan?"


"Mengirimkan bom rakitan."


Jess menatap tidak percaya. "Itu terlalu beresiko."


"Aku akan mengirimkannya dengan sempurna."


"Ada pemindai di seluruh rumahnya."


"Tidak akan jika kita mengirimkan benda yang memang seharusnya berbunyi saat dipindai."


Jess mengerutkan keningnya. "Apa yang akan kau kirim?"


"Karya seni apa yang terbuat dari besi atau semacamnya?"


"Akan aku cari tahu."


Kemudian keheningan menimpa keduanya, Jess sibuk dengan makan siangnya, dan Norman dengan ponsel di tangannya. Dia menatap wajah cantik Malia yang tersimpan di sana.


"Aku hendak menemui Jan."


"Kapan?"


"Waktu yang kau izinkan, Señor."


Norman terdiam, hampir satu tahun saudari kembar itu terpisah. Jan merawat Malia, dan Jess membantunya untuk melakukan segalanya. Dibantu Yoseph, semuanya sangat terkendalikan.


"Aku membutuhkanmu di sini."


"Berhenti menanyakan itu atau kau akan membayar sendiri."


"Ayolah, Señor. Kau merindukannya. Ini tidak masuk akal kau meninggalkan orang yang kau kasihi."


"Jess."


"Kau melindunginya selama ini."


"Dia terlindungi jika aku tidak bersamanya." Norman menatap tajam Jess. "Dia melupakanku karena aku begitu jahat padanya."


"Mungkin tidak." Jess diam sesaat. "Mungkin dia melupakan semuanya karena dia ingin memulai dengamu, Señor."


"Berhenti membicarakannya."


"Kau mencintainya."


"Sampai detik ini, di setiap napasku."


***


Malibu, Amerika.


"Malia….?" Jan memgetuk pintu.


Seketika, wanita yang sedang bercermin itu membalikan badan. Dengan senyuman ceria, Malia menatap Jan yang masuk ke kamarnya.


Jan ikut tersenyum, melihat bagaimana mata Malia begitu bersinar cantik. Bibirnya merah dengan rambut yang telah tumbuh sampai batas dada.


"Kenapa kau sangat bahagia?"


"Aku bingung harus mengatakan apa."


"Katakan saja," ucap Jan mendekat, dia duduk di ujung ranjang sambil menatap Malia. "Katakan."


"Kau adalah sahabatku."


"Ya, aku juga asistenmu dalam bekerja."


"Ayolah, aku sangat senang punya sahabat sepertimu, bisa membantuku dalam pekerjaan."

__ADS_1


Selain tinggal bersama Malia, Jan juga bekerja sebagai asisten Malia di sebuah yayasan. "Katakan apa yang membuatmu bahagia."


"Aku…." Malia menahan senyumnya.


"Ada apa, Malia?"


"Edward…."


"Ada apa dengan dokter itu?"


"Dia menyatakan cintanya padaku."


"Oh shit! Kau pasti bercanda."


Malia tertawa, dia menggeleng kuat. "Dia bilang dia menyukaiku."


"Bagaimana bisa?"


"Aku bertemu dengannya setiap akhir pekan untuk terapi."


"Tapi dua bulan terakhir ini tidak."


Malia tertawa, lesung pipinya sampai terlihat.


"Lalu… apa jawabanmu?"


Malia menarik napasnya dalam. "Aku menerimanya, kami berpacaran sekarang."


"Kau bercanda."


"Tidak." Malia tidak bisa mengatupkan bibirnya, dia terus tersenyum menampilkan giginya yang rapi. "Dia mengajakku berkencan malam ini."


"Malia….. Astaga…."


"Ya, aku tahu. Kau bilang aku sudah lama tidak berpacaran, aku rasa ini waktunya."


Jan terdiam, selama ini tidak ada tanda tanda Malia mengingat masa lalunya. "Ya… kau telah dewasa."


"Jadi….. Bisa bantu aku mencari gaun untuk malam ini?"


"Tentu, Malia."


"Terima kasih."


"Kau…. Menyukai Edward?"


Malia diam sesaat. "Dia baik padaku, dan aku juga merasa aman dan nyaman bersamanya."


"Well, kalau begitu kita harus segera bersiap. Pangeranmu akan datang sebentar lagi bukan?"


Malia tertawa, dia segera berdiri. "Aku akan mandi."


Malia meninggalkan Jan sendirian. Saat pintu kamar mandi tertutup, Jan berkata, "Ah… Malia…. Jika saja kau tahu, seluruh hidupmu masih dijaga baik oleh suami yang kau lupakan."


"Jan!" teriak Malia dari kamar mandi.


"Ya?!"


"Tolong siapkan gaun berwarna biru, Edward menyukai warna biru."


"Aku menengerti!"


---


**Meet The Bride😘



Malia Van Allejov**





2. Enrique Norman Derullo




3. Edward Weir

__ADS_1



__ADS_2