Bloody Marriage

Bloody Marriage
The Bride 8


__ADS_3

Vote sebelum membaca 😘😘


.


.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Malia saat Edward keluar dari ruangan pemeriksaan itu.


"Tidak ada yang serius, dia hanya terkejut. Mereka akan memindahkannya ke ruang rawat inap."


"Astaga." Malia memejamkan matanya merasa lega, dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya jkka kehilangan Jan. Pasalnya Jan adalah teman yang benar benar tulis padanya.


Melihat Malia yang terlihat limbung, Edward menariknya ke dalam pelukan. Pria itu mengusap punggung Malia pelan.


"Semuanya akan baik baik saja."


Malia mengangguk dan membalas pelukan Edward.


"Dokter Edward, ada pasien menunggu di ruanganmu."


Malia melepaskan pelukan pria itu, membuat Edward mengusap pipi Malia sesaat. "Pergilah ke kamarnya dan temani dia. Jangan sedih, dia baik baik saja."


Malia membiarkan Edward menjauh, rasanya hampa saat pria tampan itu menjauhinya.


"Malia?"


"Ada apa, Che?"


"Ada polisi ingin bicara denganmu."


"Baik, tolong kau jaga Jan di kamarnya."


Che menurut, dia meninggalkan Malia dengan anggota kepolisian yang menyelidiki kebakaran di tempatnya.


"Nona Malia Van Allejov."


"Ya, itu aku."


"Kami menemukan ini," ucap polisi itu memberikan puntung rokok. "Kami pikir pemicunya adalah rokok ini, kemungkinan saudari Jan sedang merokok dan memicu percikan di area yang didominasi kerajinan kertas itu."


Malia menatap puntung rokok itu.


"Apakah anda ingin melanjutkan ka--"


"Tidak, Pak. Terima kasih."

__ADS_1


Malia mengakhiri pembicaraan dengan para petugas itu, dia melangkah menuju ke ruangan Jan dirawat. Saat hendak masuk, Che keluar.


"Mau ke mana, Che?"


"Mengambil makanan, Jan menginginkannya."


"Dia sudah sadar?"


"Temuilah dia."


Malia bergegas masuk, dia melihat Jan dengan tangan kirinya yang terbakar dan dibalut perban. "Astaga, Jan…"


"Jangan menatapku seperti itu, aku hanya terbakar, bukan mati."


"Jan, kau seharusnya hati hati."


"Aku bukan orang ceroboh."


"Kau ceroboh karena merokok di tempatku, sejak kapan kau merokok?"


Jan diam, sebenarnya itu akal akalannya saja untuk menutupi kesengajaan dengan sebuah kecelakaan.


"Jan."


"Maaf, Malia. Akhir akhir ini aku merasa tidak fokus, maaf mengacaukan semuanya. Pasti aku menghancurkan semua karya seni itu bukan?"


"Kita kehabisan waktu, Malia."


"Jangan pikirkan itu, fokus pada kesembuhanmu."


Jan terdiam saat Malia menggenggam tangannya, dia merasa bersalah. Namun mengingat lagi tujuan dirinya melakukan ini, Jan bekata, "Aku punya beberapa tempat di kelahiranku, di mana banyak karya seni berkelas yang tidak ditatap siapa pun. Pergilah ke kamarku, lihat buku catatanku."


***


Diantar oleh Edward menuju ke rumahnya di pinggir pantai, Malia membawa buku catatan Jan. Sebelum pergi, dia duduk sebentar di sofa dengan Edward yang mengambil minuman di kulkas.


"Jadi, ke mana kita akan mencarinya, Malia?"


Malia membuka halaman lain. "Di sini tertulis tempatnya ada di Meksiko. Tepatnya di Puerto del Marques, Acapulco."


"Acapulco? Itu tempat ayahmu dikuburkan?"


Malia mengangguk, membuat Edward mendekat dan memberikan minuman kaleng. "Maaf membuatmu sedih."


"Aku tidak sedih, Ed. Aku hanya penasaran kenapa Papaku dimakamkan di sana, bukan di samping Mama."

__ADS_1


"Apa cerita Jan?"


"Ya, perjalanan bisnis dan kecelakaan. Tapi aku merasa ada yang janggal."


Melihat kegelisahan kekasihnya, Edward menggenggam tangan Malia. "Kita bisa mencari tahu."


"Kita? Pergi ke Meksiko? Edward, kita kehabisan waktu untuk pameran."


"Kenapa tidak? Menyelam sambil minum air, kita bisa mencari karya seni dan juga tentang dirimu saat di Meksiko."


Malia kembali diam, dia menelan ludahnya kasar. Untuk saat ini Malia nyaman di Malibu, dia tidak ingin keluar dan mencari ketidakpastian.


"Aku punya ide."


"Ide apa?"


"Ayo ke rumah sakit, aku harus membicarakannya pada Jan."


Edward menurut, dia mengendarai mobil dengan cepat.


Sesampainya di sana, Malia mendorong Edward agar bergegas kembali bertugas, sementara dirinya belari menemui Jan.


"Jan."


"Kau melihat catatanku?"


"Ya, aku melihatnya. Tapi aku rasa aku punya ide bagus."


"Apa itu?"


"Kita manfaatkan karya seni yang ada di sini."


"Malia, mereka bosan, orang orang kaya itu menginginkan sesuatu yang otentik."


Malia menggeleng. "Kita buka pelelangan untuk umum, bukan hanya mereka yang kaya. Dengan begitu pasti ada pemasukan untuk proyek ke depannya."


"Malia…" Jan menggenggam tangan Malia untuk meyakinkan perempuan itu. "Jika kita melakukannya, yayasan kita akan turun derajat. Ingat apa yang menjadi tujuanmu? Kau ingin menguras uang dari orang orang kaya itu, supaya mereka beramal."


"Tapi tidak ada karya seni yang akan membuat mereka puas, Jan."


Sekali lagi, Jan meyakinkan, "Pergilah ke Meksiko. Di sana ada banyak yang mereka inginkan."


****


Love,

__ADS_1


Ig : @Alzena2108


__ADS_2