Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 42


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘😘


.


.


Norman tidak bisa merasakan apa-apa, tapi dia sadar seseorang tengah mengangkat tubuhnya, membantunya menaiki mobil. Beberapa kali kelopak matanya mencoba terbuka, menatap dirinya yang diangkat oleh dua orang, masuk ke sebuah rumah kumuh yang berada diantara gang kotor. 


Norman masih sadar saat dirinya dibaringkan di tempat tidur, sampai dia kehilangan kesadaran tatkala jarum suntik kembali menembus kulit. 


"Jess, dia kehilangan kesadaran," ucap seorang yang membantu Jess mengangkat tubuh Norman. "Apakah dia baik-baik saja?"


"Dia baik, biarkan obatnya bekerja," ucap Jess membuka kaos yang menutupi tubuh Norman. "Bantu aku menyeka keringatnya, Jan."


Saudari kembarnya segera melakukannya, dia menyeka keringat pria yang menjadi majikan Jess. Hanya ada dua perbedaan dari dua wanita kembar itu, yakni dari penampilannya. Jan terlihat jelas seperti wanita tulen, sedangkan Jess terlihat seperti laki-laki dengan kepala plontosnya.


"Kapan obatnya bekerja?"


"Sampai tengah hari, kurasa….," ucap Jess menatap tidak yakin. Wanit bertatto itu mengisyaratkan agar Jan keluar dan membiarkannya terbaring di atas ranjang. "Bisakah kau menunggunya di sini, Jan?"


"Kau mau ke mana?"


"Aku hendak mencari tahu keberadaan Dennis."


"Kau pasti tahu dia sekarang berada di mansion Marco Valentio."


Jess terlihat gelisah, membuat Jan yang selama ini tidak pernah terlibat hal seperti ini kebingungan. Selama ini, Jan bekerja sebagai asisten seorang sastrawan di Acapulco, berbeda dengan saudarinya yang bekerja masih dalam terkaan. "Katakan padakku apa yang terjadi sebenarnya, Jess. Aku perlu tahu agar membantu."


"Aku hanya perlu kau membantu untuk menunggunya, aku akan mencari makanan sebentar."


"Jess tunggu," ucap Jan menahan tangan saudarinya. "Aku perlu tahu, sekian lama kau hilang dan memutuskan kontak sekarang kau tiba-tiba meminta bantuanku. Jelaskan semuanya."


"Apa yang harus aku jelaskan? Kau tahu siapa dia dan apa pekerjaanku."


"Penyebab keributan ini, kenapa kau peduli? Bukankah ini bukan urusanmu?"


Jess menghela napasnya dalam, dia duduk di kursi kayu yang hampir keropos. Matanya melihat sekeliling, sebuah rumah tua yang hampir roboh, dengan berbagai peralatan dan bahan kimia yang dimilikinya. Jess diam-diam mengasah hobby nya akan sesuatu yang berbau kimia di sini.

__ADS_1


"Jess."


"Señor Norman punya istri bernama Malia Van Allejov, dia lumpuh dan harus ditolong."


"Apa yang terjadi diantara mereka?"


"Marco Valentio punya dendam terhadap Van Allejov, membuat Malia dalam bahaya."


Jan menatap tidak percaya. "Itu bukan urusanmu, Jess."


"Itu urusanku, Malia tidak punya siapa yang bisa melindunginya." Jess berdiri kembali, dia melemparkan tas milik Jan. "Kalau begitu kau yang beli makanan, aku akan mengurus sisanya."


Sebelum Jan keluar, Jess masuk ke kamar tempat Norman berada. Dia mengikat pria itu dengan menggunakan borgol di tangn dan kakinya sebelum serum yang telah disuntikan akan menyembuhkannya. 


Jess tidak tahu apapun, dia hanya mengambil beberapa kesimpulan dari ucapan Dennis dalam telpon. Pemikirannya mengatakan, kalau semua orang yang ada di sekitar Malia menginginkan kematian perempuan itu. Dan yang masih membuat Jess bertanya-tanya, mengapa Dennis melawan Norman hingga sang pewaris El Sinaloa tidak berdaya.


Ada sesuatu yang tidak Jess ketahui, dan itu ada hubungannya dengan Malia Van Allejov.


***


"Hentikan, hentikan," ucap Malia mencoba menghindar saat pelayan sedang mendandaninya. "Hentikan!"


"Lepaskan!"


"Diamlah, Señora, saya ditugaskan untuk mendandani anda," ucapnya kembali memberikan tatapan agar kedua tangan Malia tetap berada di belakang kursi roda.


Tangan Malia kesakitan, apalagi dia mendapat tamparan beberapa kali tatkala dirinya tidak bisa diam ketika pelayan hendak mengoleskan lipstik di bibirnya.


"Diamlah, Señora!" Teriaknya dengan tamparan kuat pada pipi Malia, pelayan itu menarik napas dalam mencoba menetralkan emosinya. "Saya mendapat perintah untuk melakukan ini, Señora. Mohon tetap tenang."


Dan tangannya baru dilepaskan saat Malia diam, membiarkan pelayan menghiasi tubuhnya dengan riasan. Malia tidak tahu apa yang akan mereka lakukan, dirinya kini dalam balutan gaun pengantin lengkap dengan hiasan di kepala dan riasan wajah. Perbedaannya, kini raut wajahnya terlihat jelas kesedihan mendalam, berbeda jauh saat dirinya menikah dengan Norman.


"Apa yang akan Marc lalukan padaku?"


"Saya hanya mendapat perintah ini, Señora."


Dan matahari mulai meninggi. Tengah hari akan segera datang, firasat Malia mengatakan akan ada sesuatu yang mengerikan datang. Dia tahu itu, bahkan jantungnya berdetak kencang, merasakan sesak. Tidak hentinya, Malia memanjatkan doa pada Tuhan agar selalu dalam perlindungan.

__ADS_1


"Apa anda membutuhkan sesuatu, Señora?"


"No, Gracias."


Dan ketiga pelayan itu pergi, meninggalkan Malia yang menatap keluar jendela. Hanya ada pohon sejauh mata memandang, tidak tahu harus kemana dirinya pergi. 


Malia menengok ke samping kiri, di mana ada cermin di sana. Dirinya terlihat cantik dalam balutan gaun putih yang panjang, sebuah tudung menghiasi kepalanya lengkap dengan mahkota yang indah. 


"Apa yang akan mereka lakukan padaku?"


Hal lain yang menyakitkan, Malia melihat foto Norman dan Dania terpasang di dalam kamar. Di mana keduanya sedang berfoto tanpa busana, dengan sambil berpelukan. Membuat dadanya sesak, selama ini Norman tidak mencintainya. Lebih sesak lagi, Malia menyadari perasaannya pada suaminya belum sepenuhnya hilang. Masih ada kenangan dan harapan, membuat Malia kembali berfikir positive bahwa semua yang terjadi akan menuntunnya pada kebahagiaan, meskipun itu adalah kematian.


Pelayan yang sebelumnya mendandani Malia kini melangkah menuju kamar Marc, mengetuk pintu sebelum masuk dan berhenti di depan kelambu hitam. "Saya sudah mendandaninya, Señor."


"Bagus."


"Seseorang datang, bernama Dennis, dia membawa seorang pria di bagasi mobilnya."


"Izinkan dia masuk."


Saat pelayan itu keluar, Marc tertawa keras tidak bisa berhenti membayangkan apa yang akan dilakukannya. Rasa puasnya semakin bertambah, ketika sessorang masuk dan berhenti di samping kelambunya. "Señor?"


"Kau membawa Don Van Allejov?"


"Sí, aku juga membawa ini," ucap Dennis mengangkat sedikit kelambu dan menyelipkan sebuah kertas tanpa melihat wajah Marc. "Don berada di Tierra Colorada, bersama Norman. Aku menyuntikan narkoba padanya karena dia melawan dan membela Don Van Allejov."


Pria tua itu membacanya, rahangnya mengetat hingga dia meremasnya kuat. "Norman tahu apa yang sebenarnya terjadi."


"Haruskah aku melakukan sesuatu untukmu, Señor?"


Tangan Marc perlahan terangkat membuka tirai, dan Dennis tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat Marco Valentio untuk yang pertama kalinya. "Ya, Norman sekarang punya alasan untuk membunuhku. Dia kini adalah musuh, tapi tidak untuk dibunuh. Dan kau akan mendapatkan El Sinaloa sebagai balasan kerja kerasmu ini, Dennis."


Dennis segera bersujud seketika. "Sí, Senior, akan aku lakukan apapun untukmu."


---


**Love,

__ADS_1


ig : @Alzena2108**


__ADS_2