Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 45


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘😘


.


.


"No, lepaskan aku! Lepaskan!" Teriak Malia saat seorang pria mengangkat tubuhnya dan memaksanya berdiri.


Di sana Dennis menyeringai.


"Menjauh darinya! Pergi! Pergi kau, Iblis! Jauhi tubuh Papaku!"


"Iblis?" Dennis terkekeh, dia menyilangkan tangannya di dada dan mendekat pada Malia. "Norman yang iblis, dia membawamu pada kekacauan ini."


Tanpa diduga, Malia meludahi wajah Dennis. "Dasar kau iblis!"


"Wanita sialan!" 


Dennis tertawa melihat Malia yang berdarah. "Lihat apa yang akan aku lakukan pada Don Van Allejov."


Manik Malia membulat tatkala Dennis mengisyaratkan pada anak buahnya untuk mengangkat jasad Don. 


"No Papa! Apa yang akan kalian lakukan!"


Dennis menjawab, "Aku akan membuang jasadnya ke teluk Puerto Del Marqués."


"No! Papa!"


Malia menangis saat jasad Don menjauh dibawa oleh dua orang pria. 


"Bawa dia ke dalam," ucap Dennis pada pria yang sedang memegang Malia.


Tanpa belas kasihan, pria itu menggendongnya bagaikan karung beras dengan langkah lebar.


Pria itu menurunkan Malia di atas ranjang. 


Meninggalkan Malia seorang diri sambil menangis pilu. Keringat dan darah bercampur, air mata tidak surut di wajahnya. Tangan Malia mengepal, membenci semua orang yang terlibat.


Yang paling dia benci adalah Marc, apalagi saat pria tua itu menampakan batang hidungnya.


"Mau apa kau? Bukankah itu yang kau inginkan?"


Marc tertawa kuat. "Ya, aku ingin menghapuskan semua darah Van Allejov, termasuk dirimu."


"Kau berjanji pada Papaku untuk membebaskanku!"

__ADS_1


"Norman juga berjanji pada Tuhan untuk menjagamu, nyatanya dia tidak melakulannya."


Kalimat itu yang membuat Malia terdiam, dia termenung dan kembali menangis pilu. "Kau iblis."


"Ya, aku adalah iblis. Akan aku bunuh semua keturunan Van Allejov, termasuk dirimu."


Malia terkekeh, dia mengambil vas yang ada di samping ranjang dan memecahkannya pada dinding. "Aku lebih baik mati oleh diri sendiri daripada olehmu."


Marc mengetatkan rahangnya saat pecahan vas itu diarahkan ke leher Malia sendiri. Pasalnya, Marc hendak menjadikan Malia sebagai umpan bagi Norman. Yang dia yakini cucunya kini telah berubah haluan.


"Jika kau melakukan itu, akan aku lakukan hal terburuk bagi mayat Don."


"No….," sesak Malia dengan meneteskan air matanya. "Jangan lakukan itu."


"Turunkan itu, atau aku akan melakukannya."


Malia menarik napasnya dalam, dia menggeleng dengan mata yang terpejam. Sampa akhirnya maniknya terbuka lagi perlahan. "Kau iblis yang penuh kebohongan."


Beruntungnya, saat itu Dennis datang. Marc memberi isyarat pada pria muda itu untuk menghentikan. Sepersekian detik sebelum pecahan vas menusuk leher Malia, Dennis menahannya.


"Lepaskan aku!"


Pria itu berhasil mengambil alih, dia melemparkan pecahan itu dan segera menyuntikan cairan ke leher Malia. Membuat perempuan itu mulai kehilangan kesadarannya perlahan.


"Apa yang harus aku lakukan, Señor?"


"Sí."


"Bagaimana dengan Don?"


"Mayatnya aku buang ke hutan."


Marc terkekeh. "Bagus, biarkan tubuhnya menyuburkan tanahku, membuat pepohonan semakin rindang. Akhirnya aku berhasil membunuhnya."


****


Marc terdiam menatap matahari yang mulai tenggelam. Ada perasaan lega di dadanya, juga kepuasan yang tidak bisa dia gambarkan.


"Señor…."


"Kau menemukan Norman?"


"No."


"Melacak ponselnya?"

__ADS_1


"Tidak ditemukan," ucap Dennis. 


"Kau bilang tempat terakhirnya di Tierra Colorada? Tempat Norman bertemu dengan Don?"


"Sí, Señor." Dennis menelan ludahnya kasar, kenyataanya motel tempat dirinya menemukan Norman dan Don kini sudah meledak. Dan perkiraan Dennis, Norman telah mati mengingat banyak korban jiwa di sana. Namun, dia enggan memberitahu, dia akan tetap berprilaku baik pada Marc sampai pria tua itu mengalihkan akun bank yang ada di Swiss untuknya.


"Bagaimana jejaknya?"


"Tidak ditemukan jejak, Señor."


"Dia pasti akan datang ke sini untuk membunuhku, aku harus melakukan sesuatu."


Dennis yang berdiri dibelakang Marc itu mengangguk. "Bukankah kau hendak menggunakan Malia sebagai umpan, Señor?"


"No, aku harus mencuci otak Norman kembali. Aku harus membunuh Malia saat ini juga."


Dennis mengerutkan keningnya. "Sí?"


"Bawa Malia ke hutan, aku ingin membunuhnya di alam terbuka."


"Sí, Señor."


Saat itu juga, Marc bersiap kembali. Di penghujung hari, dia kembali menggunakan jas sebelum keluat dengan diikuti beberapa pria anak buahnya. Menuju hutan dimana Dennis membawa Malia ke sana. 


"Dimana dia?" Tanya Marc saat bertemu dengan Dennis.


"Sebelah utara, Señor. Aku akan mengantarmu."


"Tidak, hanya ada aku," ucap Marc membuat ketiga pria yang menjadi anak buahnya terdiam. "Aku ingin menikmati."


Dennis menjawab dengan terbata-bata, "Sí…. Señor."


Dia membiarkan pria tua itu pergi, melangkah menuju Malia yang berjarak beberapa meter dari sana. Rindangnya pohon dan sesaknya hutan membuat Dennis tidak bisa melihat Marc, tetumbuhan di sana saling berdempet.


Sampai akhirnya Marc sampai di tempat Malia diikat, dia tertawa. "Holla, Malia. Aku akan membunuhmu."


Malia hanya bisa menangis.


Marc memainkan pisaunya, hendak menusukannya pada Malia. Namun, saat pria itu mengangkat tinggi pisaunya, sebuah tangan menghalangi jalannya pisau menancap di kepala Malia.


Pisau itu tembus pada tangan yang melindungi wajah Malia. Perlahan manik cokelat itu mengadah, menatap siapa yang melakukannya. Malia terkejut tangan pria itu ditembus oleh benda tajam. "Norman?"


---


**Love,

__ADS_1


ig : @alzena2108**


__ADS_2