Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 29


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘


.


.


Bukan karena tidak ada uang yang dipegang yang membuat Malia khawatir, tapi tentang keadaan Norman. Suaminya dikabarkan kecelakaan, dan Malia seharusnya ada di sana. Namun, semua dompet dan isinya tertinggal di mobil. Yang dia pegang saat ini hanya ponsel, menghubungi Norman tidak bisa lagi mengingat dia kini ada di mansion yang katanya area tidak ada signal. Kebenarannya Malia tidak bisa menghubungi siapapun saat ini.


"Hei, Señora, bisakah kau bergeser?" Tanya seorang wanita berpakaian terbuka di cuaca hujan ini.


Malia bergeser, membiarkan wanita itu duduk di sebelahnya. "Apa kau hendak pergi ke suatu tempat?"


"Ada apa?" Wanita itu mengeluarkan rokok.


Pusat kota yang tidak ramai, hanya ada rintikan hujan dan toko yang mulai tutup. 


"Aku hendak pergi ke Puerto Del Marqués, bisakah kau membantuku?"


"Puerto Del Marqués? Kenapa kau ingin ke tempat itu?" Bertanya dengan nada yang tidak suka. "Tempat mengerikan itu."


"Apa katamu?" Malia yang tidak fokus akibat rasa khawatirnya. "Vivo allí y no llevo dinero a casa. Me puedes ayudar ¿Qué pasa si le doy este teléfono y tú me das dinero? (Aku tinggal di sana, dan aku tidak membawa uang untuk pulang. Bisakah kau membantuku? Bagaimana jika aku memberikan ponsel ini dan kau memberiku uang?)"


Wanita itu terkekeh. "Apa? Ponsel jelek itu? Aku tahu kenapa kau tidak menjualnya pada orang lain."


Malia terdiam, dia kembali memasukan ponselnya ke dalam saku mantel. "Bisa kau membantuku?"


"Kau ingin aku bantu?"


"Tentu, aku mohon. Aku harus pulang ke Puerto Del Marqués."


Wanita itu mematikan rokok bersamaan dengan hujan yang mulai reda. Dia mengikat rambut, memperihatkan leher jenjangnya yang dipenuhi tatto. "Kau bisa menghasilkan uang dengan wajahmu itu."


"Apa?"


"Wajahmu, lumayan untuk dipakai."


Malia masih belum mengerti, membuat wanita itu melanjutkan, "Begini cara kau mendapatkan uang."


Manik cokelat itu tidak beralih sedikitpun, melihat wanita berambut pendek yang berdiri di pinggir jalan. Melambaikan tangan saat ada mobil datang, terlihat wanita itu menggoda dengan cara mengusap mencium dan menjilat bibir pria yang menjadi supir box hitam. Dan setelah sang pria memegang dada wanita itu, dia kembali ke arah Malia untuk mengambil tasnya. 


"Los hombres que trabajan aquí generalmente pasan mucho a esta hora, buscan el calor de una mujer. Haz eso, tu cara es lo suficientemente bonita, puedes obtener dinero para ir a casa, (Pria pekerja di sini biasanya banyak lewat saat jam seperti ini, mereka mencari kehangatan dari seorang wanita. Lakukan itu, wajahmu cukup cantik, kau bisa mendapatkan uang untuk pulang,)" ucapnya lalu pergi beserta pria dalam mobil.


Malia menelan ludahnya kasar, dia mengerti apa yang dilakukan wanita itu. "Aku takkan melakukannya," gumam Malia memilih berjalan pergi menuju Puerto Del Marques.


Hal yang membuatnya heran, tidak ada satupun taxi yang lewat ke sini.


"Aku harus pulang, Norman pasti menungguku," ucap Malia menyeret kaki kirinya di jalanan yang sepi.


Semakin lama dia melangkah, semakin suram kota Acapulco. Lorong-lorong jalan yang dipenuhi oleh bangunan tua, dengan lampu kuning dan suara angin malam yang mewarnai. Melangkah kembali, semakin jauh Malia melihat banyak wanita yang berdiri di pinggir jalan menunggu pria yang lewat.


Ini kawasan tempat mereka berburu dan bekerja


"Ya Tuhan, tempat ini mengerikan."


Ketika Malia tidak sengaja menabrak salah satu wanita, dia mendapatkan tamparan. "Lihat dimana kau melangkah, Cacat."


Kemudian meninggalkan Malia setelah meludah di depannya.


"Ya Tuhan…..," guman Malia memegang dadanya yang berdetak kencang, dia menelan ludahnya kasar, menyeka air mata ketika buliran itu hendak menetes. "Tengo que irme a casa, Norman me está esperando. Vamos, Malia, no te preocupes por los que te están mirando, no los necesitas, solo tienes que pensar en tu marido. (Aku harus pulang, Norman menungguku. Ayo Malia, jangan hiraukan mereka yang menatapmu, kau tidak membutuhkan mereka, yang harus kau pikirkan adalah suamimu.)"

__ADS_1


"Astaga! Hujan lagi…." Malia segera mencari tempat berteduh, masuk ke dalam gang kecil dan berdiri di sana.


"Tolong……, bisakah kau menolongku, Señora?"


"Siapa itu?" Malia mencari asal suara.


"Di sini, tolong aku…… tolong aku, Señora."


"Astaga, apa kau baik-baik saja?" Malia segera melangkah menuju wanita yang duduk di pinggir tempat sampah raksasa, berlindung dari hujan dan dingin di sana. Dia menggunakan kardus sebagai penutup tubuhnya.


"Apa kau baik-baik saja?" Malia berjongkok dengan kesulitan.


"Tolong aku, Seńora….."


"Apa? Kau ingin apa? Hei, buka matamu, jangan buat aku khawatir."


Wanita itu terlihat sekarat, narkoba yang ada dalam tubuhnya membuatnya setengah sadar. Wajahnya putih pucat, pun dengan bibirnya. Yang membuat Malia miris, dia kedinginan dengan tubuh yang hanya tertutupi kardus.


Malia segera melepaskan mantelnya. "Pakailah ini."


"Gracias, aku kedinginan…."


"Pakai ini….."


Malia juga melepaskan syalnya. Tanpa rasa jijik, Malia memeluk wanita itu supaya tidak kedinginan. "Apa kau sudah merasa baikan?"


"Sí. Gracias, Señora. Gracias. Semoga Yesus bersamamu."


***


Norman menaikan sleting celananya setelah membuka tali yang mengikat Dania. Wanita itu terbatuk-batuk, dia meminum air merasakan haus yang berlebih. Tubuhnya lebam, tapi Dania puas akan hal itu.


Mengambil pakaian yang berserakan di lantai, Dania kembali membungkus tubuhnya. Dia mendekati Norman yang sedang merokok sambil memainkan ponselnya. "Apa yang menarik?"


"Sekarang? Kau tidak akan tidur di sini?"


"Tidak."


Dania mengerucutkan bibir, apalagi saat Norman mengambil mantelnya. "Kau belum mengatakan padaku apa yang terjadi."


"Tidak ada, aku akan kembali."


"Kapan kau akan menikah denganku?"


Norman mengerutkan kening, dia memberikan tatapan penuh tanya pada Dania. "Apa katamu?"


"Ya, kalau Malia mati aku akan menggantikan posisinya. Kita bisa membangun keluarga bahagia."


Tanpa berkata, Norman melangkah pergi. Dia menatap ponselnya menatap layar yang memperlihatkan posisi Malia saat ini. 


Tahu istrinya masih disekitar sini, Norman memilih berjalan menembus rintik hujan. Berhenti di depan sebuah bangunan tinggi yang memiliki gang disampingnya. GPS menunjukan Malia ada di dalam gang sana.


Norman dapat melihat dari sisi gelap, bagaimana ada wanita mabuk narkoba sedang bersama dengan istrinya. 


"Apa kau sudah sadar?" Tanya Malia pada wanita di depannya. "Ingin aku bawakan air lagi?"


"Di mana kau mendapatkan air ini, Señora?"


"Dari wanita di depan sana."

__ADS_1


"Mereka yang berpakaian seksi?"


"Sí."


"Lebih baik kau jangan dekati mereka."


Malia mengerutkan kening. "Why?"


"Karena mereka diawasi oleh para penculik mereka."


"Apa yang kau maksud?" Tanya Malia tidak mengerti, tubuhnya masih memeluk wanita itu guna agar dia tidak kedinginan.


"Kau tahu bukan apa yang mereka lakukan? Mereka menjual diri."


"Sí, aku melihat bagaimana mereka menggoda pria yang lewat."


"Daerah ini berbahaya, kau seharusnya tidak ke sini."


"Aku hendak ke Puerto Del Marqués."


Wanita itu malah tertawa keras mendengar kalimat Malia, membuat pemilik manik cokelat itu bertanya-tanya. "Ada apa?"


"Aku dan para wanita itu diculik saat sedang berlibur di Meksiko, paling banyak mereka menculik wanita dari Puerto Del Marqués. Mereka menyuntikan narkoba pada tubuh kami. Yang dirasa berharga akan dilelang pada pria yang memiliki uang, sementara sisanya akan dipaksa mencari mangsa seperti mereka di sana."


Malia menatap ke jalan keluar gang, banyak wanita di sana menunggu pelanggan.


"Mereka menjual diri, dengan pengawasan penculik mereka."


"Kenapa kalian tidak kabur saja?"


Dia kembali tertawa. "Kabur? Kau pikir semudah itu? Dulu ada beberapa yang berhasil kabur, tapi setelah isu keturunan Marco Valentio kembali, El Sinaloa menguasai pemerintah setempat."


"Marco Valentio? El Sinaloa?" Malia melepaskan pelukannya, dia menatap wanita yang kini mulai memejamkan matanya. "Lalu apa yang kau lakukan di sini?"


"Aku sudah tidak terpakai lagi, tidak ada pria yang menyewaku. Mereka menyatakan aku sudah pantas menjadi sampah. Karena itu aku berada di sini, disuntikan zat narkotika dan dibuang ke sini."


Malia menutup mulutnya tidak percaya. "Astaga, ap--"


"Pergi sekarang, Señora."


"Apa?"


Wanita itu mendorong Malia agar menjauh darinya. "Pergi dari sini, mereka akan datang dan melihatku aku akan mati atau belum."


"Apa?" Malia terkejut. "Aku takan meninggalkanmu."


"Pergi atau mereka akan melihatmu dan juga menjualmu."


Kalimat itu yang membuat Malia segera berdiri. Sementara Norman yang mendengar sejak tadi dalam kegelapan hanya diam, sampai seseorang memeluknya dari belakang.


"Aku masih merindukanmu, Norman," ucap Dania membuat pria itu membalikan badan.


Sepersekian detik, Dania mencium bibir Norman. Bersamaan dengan Malia yang keluar dari gang.


Pasangan yang berciuman dalam gelapnya hujan membuat Malia segera berpaling, tanpa dia sadari itu adalah suaminya.


"Aku harus pulang, suamiku pasti menungguku."


---

__ADS_1


**Love,


ig : @Alzena2108**


__ADS_2