Bloody Marriage

Bloody Marriage
The Bride 3


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘


.


.


Guererro, Meksiko.


Seorang pemilik Meksiko, tidak ada satupun yang berani mengusik kehidupan seorang Enrique Norman Derullo. Bagi manusia yang bekerja pada kejahatan dan keadilan, mungkin namanya yang sering didapatkan julukan Alpha tidaklah asing. Alpha, seorang pria yang menjadi penerus tahta Marco Valentio.


Mobil Norman berhenti di sebuah penjual bunga pinggir jalan. Malam datang, dan penjual bunga itu masih mencari beberapa lembar uang.


"Selamat malam, Nyonya tua."


"Hallo, SeƱor."


Terlihat wanita tua itu buta, membuat Norman ingat bagaimana Malia mengasihi wanita sepertinya. Norman berjongkok, dia mensejejarkan tinggi pada wanita yang juga salah satu kakinya hilang.


"Aku ingin bunga ke pemakaman."


"Bunga apa yang anda inginkan?"


"Sesuatu yang melambangkan maaf, apa itu?"


Wanita tua itu meraba dengan tangan, mengandalkan indra penciumannya untuk mendapatkan bunga tulip putih.


"Bagimana dengan ini, SeƱor?"


"Tulip putih?"


"Tulip putih merupakan simbol dari ketulusan, kemurnian, harapan dan pengampunan. Oleh karena itu, bunga tulip putih sangat tepat untuk dijadikan sebagai buket bunga yang menyampaikan permintaan maaf dan dapat memberikan anda kesempatan kedua dari orang yang dicintai."


Norman tersenyum. "Beri aku dua buket."


"Baik, SeƱor." Mengandalkan indera selain penglihatannya, wanita tua itu merangkai menjadi sebuah buket indah. "Apakah kekasihmu sedang marah padamu, SeƱor?"


"Aku hendak memberikannya pada ayah dari kekasihku."


"Wow, anda sangat berani meminta maaf pada ayah kekasih anda."


"Aku bersalah pada ayahnya." Norman terdiam sesaat. "Dia sudah meninggal."


Mendengar suara Norman yang sedih, wanita tua itu berkata, "Anda mungkin harus membuktikan pada pria yang telah meninggal itu kalau anda menjaga putrinya, SeƱor."


"Dia selalu ada dalam hatiku"


"Ini buketmu, SeƱor."


Norman sengaja memberikan uang lebih. Dia segera pergi, menuju kuburan tempat Don dikuburkan. Selain itu, di pinggir kuburan Don adalah kuburan Marc.


Norman sengaja mengubur mereka berdampingan, berharap Tuhan memberi kesempatan pada keduanya untuk berdamai dan salimg memaafkan. Karena bagaimanapun, Marc adalah orang yang membesarkannya.


Pertama, Norman menuju Don. Dia berdiri di sana lalu menyimpan buket bunga.


Dengan buket lain di genggamannya, Norman menyapa, "Hallo, Don. Tidak terasa sudah satu tahun sejak kau menutup mata."


Norman mulai bercerita. "Kau akan tenang, Malia memiliki seorang pria yang akan benar benar melindungi hati dan fisiknya. Mereka sangat serasi."


Norman berkata seolah olah Don mendengarkan di sana. "Dia akan menjadi milik orang lain, dan akan aku pastikan pria itu sangat baik dan sempurna."

__ADS_1


Hanya angin yang menjawab membelai wajah Norman. "Namanya Edward, dia seorang dokter terapi. Lulusan terbaik Boston, dari keluarga terpandang dan tidak ada latar belakang atau riwayat masalah pada keluarga ataupun dirinya sendiri. Dia sangat sempurna untuk Malia-ku."


Berat untuk Norman, tapi dia harus mengatakannya. "Kau tenang saja, aku akan berhenti mematai Malia begitu mereka sudah bersama. Sementar Ini, aku masih mengawasi gerak gerik putrimu, Don."


Setelah berberapa menit menatap nisan Don, Norman melangkah menuju kuburan di samping Don. Dialah Marc, Norman juga memberi buket di sana. "Hallo, Kakek."


Norman kembali berdiri tegak, memasukan kedua tangannya di saku. "Aku anak nakal, aku mengubah semua peraturan El Sinaloa. Mereka yang berada di bawah kakiku bukanlah bagian dariku. Jadi jika mereka terluka atau lengah, aku akan menendang. El Sinaloa bukan keluarga untukku, tapi ladang uang."


Tatapan Norman tajam, menatap tulisan nama Marc. "Keluarga untukku adalah tempat untuk pulang, sementara El Sinaloa adalah jalan untuk aku pergi. Dan jangan khawatir, Kakek, Malia kini berada dalam orang yang tepat dan memulai hidup baru. Jika kau bertanya tanya tentang hidupku, aku bahagia hidup dalam bahaya tanpa melibatkan orang terkasih."


Terkekeh beberapa detik. "Mungkin ini alasan Tuhan memberiku El Sinaloa dalam genggaman, kareka aku bukan pria yang bisa menjaga kekasihnya. Dia tahu aku selalu menyakiti, dan aku sekarang sedang mencoba tidak menyalahkanmu atas semua ini, Kakek. Karena aku anak baik, yang sekarang menjadi nakal."


Kenyataannya, emosi Norman tidak akan pernah bisa hilang sampai kapanpun. Dendamnya pada Marc masih berlaku sampai sekarang, dia hanya mencoba memperbaiki semuanya dengan kehidupan baru Malia.


"Kau akan kecewa, Kakek, karena aku sedang menuju proses membuat Malia bahagia, selama sisa hidupnya bersama pria yang dia cintai."


****


Malibu, Amerika.


"Bolehkah aku menyetir?"


Edward yang sedang memakai jaket menatap Malia sesaat, pasalnya dia tahu Malia belum punya sim. "Kau….? Malia…."


"Ayolah, kau percaya padaku bukan?" Tanya Malia dengan suara lembutnya, bahkan tatapannya yang teduh mampu membuat Edward menghela napas dan memberikan kunci itu.


"Astaga…. aku bahagia," ucap Malia tertawa kecil sambil melangkah lebih dulu.


Membuat Edward tersenyum bahagia melihat wanita itu tersenyum menampilkan giginya yang rapi. Karena memang, Malia selalu mengandalkan Jan untuk setiap pekerjaan.


Kening Edward berkerut. "Kemana kita akan pergi?"


Tangan mereka masih saling menggenggam satu sama lain, Edward kembali mencium tangannya.


Namun, sepersekian detik setelah kejadian itu, sebuah siluet kenangan yang Malia lupakan selama lima tahun terakhir itu datang dalam beberapa detik. Itu adalah potongan buram, dimana dirinya sedang berkendara dengan seorang pria. Namun itu bukan Edward.


Karena siluet itu, Malia menepi tiba tiba.


"Malia… ada apa?" Tanya Edward saat dia melihat raut wajah Malia berubah. "Malia…"


"Aku baik baik saja."


"Katakan padaku."


Saat tenang, baru Malia membalas tatapan Edward. "Aku pikir… sepotong ingatanku mulai datang."


"Apa yang kau ingat?"


"Sebuah bayangan, aku sedang dalam mobil bersama seseorang."


"Well, kau sedang melakukannya."


"Edward…"


"Maaf."


"Tapi… ingatan itu buram, sama seperti mimpiku beberapa bulan terakhir ini."


"Mimpi?"

__ADS_1


Malia mengangguk.


"Kau tidak mengatakannya padaku."


"Aku tidak tahu itu penting."


"Hei. Semuanya akan baik baik saja," ucap Edward mendapatkan senyuman manis Malia. "Aku akam selalu bersamamu."


"Terima kasih."


"Bisa kita…..?"


"Maaf." Malia kembali menyalakan mobil, dia melanjutkan perjalanan hingga membawa Edward ke sebuah tempat di mana ada sebuah pesta layang layang di pinggir pantai.


Edwarad tertawa tidak percaya. "Darimana kau tahu tempat ini?"


"Aku menjelajahi setiap tempat di Malibu," ucap Malia turun.


Mereka bergandengan saat menuju tempat itu, ada berbagai layang layang yang berkelap kelip di angkasa.


"Apa kau bisa menerbangkannya, Edward?"


"Jangan meremehkanku."


Malia terkekeh, dia membeli satu layang layang dengan gambar hati yang dikelilingi lampu merah. Penjual memberi Malia kuas untuk menuliskan harapan.


Sambil duduk di atas pasir yang dialasi karpet, Malia menuliskannya. "Mereka percaya harapan yang diterbangkan akan menjadi kenyataan."


"Apa harapanmu?"


Malia tersenyum, dia menatap Edward. "Aku berharap kita selalu bahagia."


Edward bahagia, dia tidak bisa berhenti tersenyum. "Menuliskan inisial kita?"


"Ide yang bagus."


Kening Edward berkerut saat melihat Malia menggambarkan sebuah pohon pohon rindang di bawah inisial mereka.


"Dan apa artinya itu?"


"Aku memimpikan hutan lebat setiap malam. Aku harap ini pertanda akan ada kedamaian dan kesuburan diantara kita, seperti hutan dalam mimpiku."


"Aku setuju denganmu."


Malia terkekeh, sampai dia terdiam saat Edward menyisipkan rambutnya ke belakang. "Aku mencintaimu, Malia. Aku tidak akan mematahkan hatimu."


Malia tertawa, dia kembali menulis. "Mungkin saja aku yang akan mematahkan hatimu, bagaimana jika begitu?"


"Tidak masalah bagiku, selama itu membuatmu bahagia," ucap Edward dengan sungguh sungguh, sampai membuat senyuman Malia memudar. Edward serius dengan ucapannya.


"Kau akan melakukan itu?"


"Ya, selama kau bahagia, aku akan melakukan apapun."


****


Love,


ig : @Alzena2108

__ADS_1


__ADS_2