
Vote sebelum membaca😘
.
.
Malibu, Amerika.
"Bagaimana penampilanku?" Malia mengibaskan rok gaunnya. "Aku cantik?"
"Kau sempurna, Malia."
Malia tertawa, dia memakai mantel dan mengambil tasnya. "Oke…."
Jan menarik napas dalam, dia mendekat. "Pergilah."
Malia mengangguk, dia segera turun ke lantai satu. "Sampai jumpa, Stacy," ucap Malia pada pembantunya di sana.
"Selamat bersenang senang, Nyonya."
Malia tersenyum, dia segera keluar saat mendengar ketukan pintu. Dan saat pintu dia buka, Malia melihat sosok Edward berdiri di ambang pintu sambil membawa buket bunga.
"Hai….," ucap Edward saat dia menatap Malia.
"Hai."
Sesaat Edward terpesona oleh Malia, sampai dia sadar waktu berjalan. "Maaf… bunga ini untukmu."
"Terima kasih," ucap Malia menerimanya. "Stacy!"
"Ya, Nona?"
"Simpan ini dalam air."
"Baik, Nona."
Malia kembali berbalik. "Jadi…..?"
"Aku memesan restauran untuk kita," ucap Edward mengulurkan tangannya yang segera Malia genggam. Mereka melangkah menuju mobil.
Malia tersenyum saat Edward membuka pintu mobil untuknya, senyum di keduanya tidak hilang saat dalam perjalanan.
Bahkan, Edward menyetir dengan satu tangan. Tangan lainnya menggenggam Malia, dia terlalu bahagia. Cukup lama Edward menjadi terapis Malia dan memendam rasa cintanya sendirian. Kini semuanya menjadi nyata, Malia menjadi kekasihnya. Edward sangat bahagia.
"Kemana kita akan pergi?" Tanya Malia pada pria yang membuatnya kembali bisa berjalan lagi.
"Sebuah tempat yang indah." Edward menatap sesekali pada Malia. "Kau sangat cantik."
"Well, aku anggap itu pujian."
Edward terkekeh, dia menggenggam kuat tangan Malia. "Aku menantikan ini sejak lama."
"Aku menanti apa yang kau rencanakan malam ini."
"Ouh, kau akan suka."
Mereka berhenti di sebuah restoran kecil yang terlihat jelek dari luar. Namun, saat masuk, Malia terpengangah dengan banyaknya tanaman dan bunga yang menjadi aroma therapy alami. Malia terkagum dibuatnya.
__ADS_1
Edward membawanya ke meja yang sudah mereka pesan. Restaurant ini jauh daru keramaian, begitu sepi dan hanya menerima beberapa pengunjung dalam satu malam.
"Tempat ini indah."
"Aku melihat sesuatu yang lebih indah," ucap Edward sambil menatap Malia.
Membuat Malia tersipu malu.
Keduanya memesan makan malam. Dan saat makanan datang, Malia kembali dibuat kagum dengan makanan yang dibentuk seperti pemandangan.
"Astaga, darimana kau tahu tempat ini, Edward?"
"Aku tinggal cukup lama di sini, Malia." Edward memberikan sendok. "Cobalah sup ini."
"Astaga ini enak."
Edward terkekeh. "Bahagia melihatmu tertawa."
Malia kembali tersipu malu. Dia bergumam kecil, "Ini pertama kalinya aku berkencan dengan seorang pria."
"Apa sebelumnya kau berkencan dengan jenis lain?"
Malia menunduk tersenyum malu saat Edward menggodanya. "Bukan begitu."
Edward terkekeh, dia menggenggam tangan Malia dan menciumnya lama. "Aku akan menjadi pacar pertama dan terakhirmu, Malia."
"Maksudmu?" Malia tersenyum manis.
"Aku berjanji tidak akan mematahkan hatimu."
"Aku akan menanggungnya."
****
Guererro, Meksiko.
Jess memasuki klab malam dimana dia bisa menemukan Norman sedang membujuk beberapa petinggi negara di sana. Dalam sebuah ruang VVIP, disajikan banyak wanita yang menggoda beberapa pria itu.
Saat Jess hendak masuk ke sebuah koridor rahasia, dia melihat kedatangan Yoseph dengan tudung jaket di kepalanya. Jess yang masih mempertahankan kepala plontosnya itu turun, dan menarik Yoseph dari keramaian.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku menghubungimu, tapi kau tidak aktif. Jadi aku datang mencarimu."
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Jess lagi dengan penuh penekanan. Pasalnya Jess juga menyadari betapa berharganya Yoseph, dia ingin pria itu diam di balik komputer di sebuah hotel tempat dia tinggal.
"Aku ingin memberitahumu sesuatu." Yoseph mengeluarkan sesuatu dari balik celananya. "Ini dia."
"Apa ini?"
"Aku mendapat pesan dari Jan bahwa Malia akan berkencan, dia memintaku mengikuti Malia, dan ini yang aku dapat."
Jess mengambilnya, menatap beberapa gambar buram yang tertangkap kamera CCTV jalanan setempat.
"Sabes que tengo problemas para hackear cosas de forma remota. Esto es todo lo que obtengo (Kau tahu aku kesulitan meretas sesuatu dari jarak jauh. Hanya ini yang aku dapatkan.)"
Yoseph menggaruk alisnya. "Y también su seguridad se está endureciendo, hay algunos puntos ciegos que tiene el gobierno que me impiden ver nada. (Dan juga keamanan mereka semakin ketat, ada beberapa titik buta yang dimiliki pemerintah yang membuatku tidak bisa melihat apapun.)"
__ADS_1
Jess menatapnya, gambar itu seolah menunjukan Malia dan pria berjaket sedang berciuman di bawah pohon taman.
"Dari mana saja mereka?"
"Aku tidak tahu, terlalu banyak milik pemerintah."
"Apa?" Tanya Jess saat suara musik terlalu keras. "Katakan lagi padaku."
"Aku tidak tahu."
"Kalau begitu cari tahu. Pulang dan dapatkan lebih."
Belum juga Yoseph berkata, Jess lebih dulu naik kembali ke lantai dua. Dia memasuki lorong rahasia sebelum mendapatkan pintu yang dijaga seorang pria. Menunjukan identitasnya, Jess masuk ke dalam di mana dia mendapatkan lift. Lift tersebut yang mengarahkannya pada ruangan atas di mana Norman ada di sana.
Berjalan kembali menelusuri lorong sepi, tiba-tiba saja beberapa wanita berlarian ketakutan. Bahkan sampai ada yang menyenggol bahu Jess.Â
Penasaran, Jess masuk ke ruangan di mana para wanita itu keluar. Di sana dia melihat Norman dengan beberapa mayat yang terkapar.
"Señor…."
"Wow, kau melihatnya."
"Kau membunuh mereka?"
"Mereka tidak bisa diajak bernegoisasi."
"Señor…." Jess melanglah melewati salah satu mayat. "Kau terlalu banyak membunuh petinggi negara."
"Aku tidak peduli, mereka mengganggu."
"Apa yang akan kau lakukan untuk menutupi mereka?"
"Aku bisa membuat mereka saling menembak, skenario sudah aku siapkan. Aku butuh bantuanmu dan Yoseph untuk ikut melakukannya."
Jess menarik napas dalam, dia mengeluarkan beberapa foto dari jaketnya. "Yoseph mendapatkan ini pada kencan pertama Malia dan Edward."
"Mereka berkencan?" Norman bertanya dengan tenang.
"Ya, Jan yang meminta Yoseph mengikutinya. Tapi sebagian besar keamanan dikuasi pemerintah."
"Aku mengerti."
Ekspresi Norman yang datar membuat Jess bertanya-tanya. "Kau…. Tidak marah, Señor?"
"Aku akan keluar, bereskan mereka tolong," ucapnya keluar dari ruangan itu.
Norman pintar menyembunyikan perasaan, membuat Jesa mengira kalau Norman benar benar sudah melupakan Malia.
Padahal, pada kenyataannya, Norman kembali ke apartemennya. Dia menatap foto itu sepanjang jalan.
Saat sampai di apartemen, Norman kembali membaca riwayat hidup Edward yang dia dapatkan cukup lama. Edward lahir dari keluarga baik dan sempurna, dia memiliki memiliki pendidikan yang sempurna, juga prilaku yang baik. Tidak ada satupun tidak kriminal yang dilakukan. Yang membuat Norman mempercayainya, karena dia tahu Edward berpisah dengan mantan kekasihnya terdahulu akibat kematian.
Edward seorang pria yang setia dan baik.Â
Dan itu membuat Norman menarik napas dalam. Rasanya sakit melihat Malia berciuman dengan Edward, namun sisi lainnya mencoba membiarkannya demi kebahagiaan sang kekasih.
Maka darinya, Norman bergumam, "Encontraste un hombre que te protegerá, Malia. Creo que tengo que prepararme para realmente dejarte ir (Kau menemukan pria yang akan melindungimu, Malia. Aku rasa aku harus mempersiapkan diri untuk benar benar melepaskanmu.)"
__ADS_1