Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 74


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘😘


.


.


1


2


3


Norman tetap memeluk Malia erat dalam tangisnya, sampai dia tidak mendengar apapun. Menyadari seseorang telah membantunya, menonaktifkan benda itu. Norman menghela napas.


"Norman?"


"Louis di sini, kita akan pulang."


Saat itulah Malia menangis kencang memeluk suaminya erat. Semuanya telah berakhir. 


"Tidak apa, Sayang, kita semua akan baik-baik saja."


Saat memastikan benda mematikan itu tidak lagi aktif, Norman kembali mengambil senapannya.


"Apa yang akan kau lakukan?"


"Kau percaya padaku bukan, Malia?"


Malia mengangguk, membuat Norman melanjutkan, "Kita akan membuka rantai itu dengan ini."


Malia takut, tapi dia percaya pada Norman. Maka saat pelatuk ditarik, Malia memejamkan matanya.


Norman sangat hati-hati, dia menembakan peluru dengan tepat sasaran tanpa menggores Malia sedikit saja.


"Tidak apa, Sayang, kau bisa membuka matamu."


Malia bernapas lega, dia kembali memeluk Norman erat sambil menangis.


Tangan kekar Norman mengusap rambut pendek Malia sebelum mencium keningnya lama. "Naiklah ke punggungku, kita akan keluar dari sumur ini."


Tidak banyak membantah, Malia melakukannya. Dia digendong di punggung suaminya, memegang erat saat Norman mulai memanjat.


Tangan kirinya menahan Malia, sementara tangan lain digunakan untuk memanjat. Senapan laras panjang dipegang oleh Malia.


"Akhhh!" Malia tidak bisa mengunci mulutnya saat luka di kakinya terasa sakit.


Parahnya lagi, mereka berada di tengah-tengah tangga, belum mencapai permukaan.


"Malia?"


"Tidak apa, aku baik-baik saja. Lanjutkan saja."


Norman melakukannya.


Saat itulah, Malia menangis dalam diam melihat bagaimana darah dan keringat bercampur di kening suaminya. Dia sangat berusaha, sekuat tenaga untuk kehidupan mereka berdua yang lebih baik. Memanjat keluar bukanlah hal yang mudah, sumur ini begitu dalam.


Malia menguncapkan semua doa baik untuk suaminya, berharap semua yang dia lakukan akan mendapatkan balasan baik.


Dan Norman menyadarinya, ada buliran air mata yang jatuh di kulit punggungnya. 


"Malia? Apa kau kesakitan?"


"Tidak, aku baik-baik saja."


"Kau menangis."


"Karena aku mencintaimu."


Norman terkekeh karenanya. "Terima kasih telah memberiku semangat.


Saat keluat dari sumur, Norman mendudukan Malia sebentar. Melihat luka di kakinya. "Aku harus menggendongmu menuju lab lagi, bertahanlah."


"Masuk ke dalam sana?"


Norman mengangguk, dan dia melihat gurat ketakutan dalam manik Malia. "Tidak apa, Sayang. Semuanya sudah teratasi."


Awalnya Malia takut, tapi dengan penuh keyakinan dia bersedia kembali memeluk punggung suaminya. Norman kembali menggendongnya sebagaimana mestinya.

__ADS_1


Masuk ke dalam pusat tambang yang membuat Malia ketakutan. Namun, rasa takutnya hilang saat dia mendengar suara burung elang dan juga auman yang mengerikan. Malia melihat ke bagian aula, di sana banyak macan yang menundukan manusia agar diam.


"Norman…. Apa itu?"


"Jangan berhenti berharap, alan selalu ada untuk kita."


"Bagaimana dengan Marc?"


"Dia masih pingsan."


"Jan?"


"Kita bicarakan mereka nanti, Sayang."


Norman menurunkan Malia di bagian dalam lab. Malia hanya menatap Norman yang sedang mencari obat di ruangan yang sama. Sesaat Malia menunduk, menyadari bahwa yang menjadi pijakan kakinya adalah kaca. 


Saat itulah kening Malia berkerut melihat seseorang di bawah sana. "Marc?"


Sepersekian detik…… "Aaaaaaaa!" Peluru menembus kaca tempat Malia berpijak hingga perempuan itu jatuh.


"Malia!" 


Norman bergegas meloncat ke bagian bawah lewat kaca yang dipecahkan. Dia terfokus pada Malia yang tidak sadarkan diri, dengan kepalanya yang terluka. "Malia…. Sayang…. Bangunlah…."


"Kini aku bisa pergi dengan tenang."


Norman menatap Marc yang tertawa di depannya.


"Kau…."


"Aku mewariskannya padamu, Norman. Kekayaan, El Sinaloa, dan juga sisi gelap dalam kehidupan."


Belum juga tangan Norman menggapai senapannya, Marc lebih dulu menyakiti dirinya sendiri.


****


"Bagaimana?" Tanya Jess pada Yoseph yang masih sibuk dengan laptop. "Beritahu aku, Kutu Buku."


"Louis baru saja sampai di sana, dia lebih dulu ke ruangan pengendali untuk melakukan sesuatu. Aku tidak yakin apa itu."


"Beritahu keadaan mereka semua."


"Bagaimana kau tahu?"


Yoseph mengangkat bahunya. "Aku berhasil meretas komputer mereka berkat jalan yang diberikan Louis."


Jess kembali diam, dia masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Ingin sekali dia bangun, tapi Yoseph selalu melarang dan mengancamnya.


Maka dari itu, saat Yoseph masuk ke kamar mandi, Jess bangkit dari tidurnya. Dia mencabut infus yang menyebabkan keluarnya darah dari sana.


"Sial."


Jess segera mengambil tasnya yang dibawakan Yoseph. Di sana ada senjata, yang dia gunakan untuk pergi ke Campo Morado.


"Apa yang sedang kau lakukan?"


"Diam, dan lakukan perintahku," ucap Jess mengarahkan senjata itu.


Membuat Yoseph mengangkat tangannya, mendekat perlahan.


"Berhenti mengancam kau akan menyebar berita tentang El Sinaloa, lakukan apa yang aku katakan."


"Kau masih sakit, belum pulih."


"Lakukan apa yang aku katakan," ucap Jess dengan suara lantang. "Ambil laptopmu, kita akan pergi ke Campo Morado."


"Apa kau gila?"


Saat mendapatkan notifikasi dari laptop, Jess mengalihkan perhatian. "Lihat notifikasi itu."


"Jess, kau masih sakit."


"Lakukan!"


Yoseph terpaksa melakukannya. "Notifikasi dari pria bernama Louis, dia meminta kita pergi ke pelabuhan menaiki kapal Teddy Bear menuju ke Malibu."


"Cepat bersiap."

__ADS_1


***


Kapal pesiar dengan nama Teddy Bear itu melanju menuju ke pantai Malibu.


Suasana mencekam dan hening, tidak ada yang banyak bicara. 


Norman terdiam menggenggam tangan Malia yang terbaring lemah. Menciumi tangannya beberapa kali tanpa menggubis seorang perawat yang sedang merawat Malia.


Beralih ke bagian lain kapal pesiar, Louis melihat seorang pria bernama Yoseph yang menyendiri sambil memainkan laptopnya. Tidak dapat dipungkiri, pria itu cukup berbakat. Dan Louis yakin Norman akan baik-baik saja jika terus terhubung dengannya lewat pria itu.


Kembali melangkah, Louis melihat sepasang wanita kembar yang sedang memeluk satu sama lain di dekat perapian. Mereka sama menyalurkan rindu masing-masing. Hanya ada keheningan, apalagi saat Louis keluar melihat malamnya langit.


Hanya ada laut sejauh mata memandang, akhirnya dia keluat dari daerah perairan Meksiko. 


Louis meninggalkan beberapa orang di sana, untuk mengatur kembali El Sinaloa.


Marc meninggal, begitu pula dengan Frank yang ditembak oleh Louis sendiri. Dia tidak bisa mempungkiri, Louis terlambat datang, dia membiarkan adiknya menghadapi semuanya sendirian, tanpa bantuannya.


Angin yang sepi, malam yang kelam. Hingga dering telpon mengalihkan perhatian.


"Hallo?" Louis mengalihkannya kepada panggilan video call. "Dimana Louisa?"


'Dia sedang tidur bersama Leon. Bagaimana di sana?'


"Semuanya akan baik-baik saja."


'Malia?'


"Belum sadarkan diri. Dia terluka cukup parah di kepalanya."


Lucia terlihat sedih. 'Pulang dengan nyawa, Louis.'


"Berhenti mengerucutkan bibir," ucap Louis menirukan bibir Lucia.


'Hentikan, pergi temui Norman dan bantu dia.'


"Bagaimana dengan Papa?"


'Aku akan membawa kabar baik agar dia kembali sehat.'


"I love you."


'I love you too.'


Mereka saling berciuman lewat udara sebelum akhirnya memutuskan panggilan.


Louis kembali memasuki bagian dalam kamar, keningnya berkerut tidak melihat Norman bersama Malia. 


Louis mencarinya, sampai dia mendapatkan saudaranya sedang berdiri diam di pembatas kapal, dia tidak menikmati malam.


Norman terlihat sangat terpukul.


"Norman."


Wajahnya sangat pucat, tatapannya kosong. Tangannya terus saja memainkan cincin pernikahan yang menempel di jari manisnya.


"Norman."


"Aku menyakitinya, dia terluka karena aku."


"Hentikan itu."


"Aku menyakitinya."


Dan saat Norman menteskan air matanya, terlihat kacau dan trauma. Louis segera memeluk saudaranya. "Kau tidak menyakitinya."


"Dia terluka karena aku."


Louis berkata dengan penuh penekanan. "Kau menjaganya, dia akan baik-baik saja."


Norman menangis merasakan penyesalan mendalam, dadanya terasa sesak.


Louis mengusap punggung saudaranya. "Kau melakukan yang terbaik, Norman. Kini biarkan tangan Tuhan bekerja."


---


**Love,

__ADS_1


ig : @Alzena2108**


__ADS_2