
Vote sebelum membaca😘😘
.
.
Guererro, Meksiko.
Jess menatap tajam apa yang Norman inginkan, pria itu mengirim pesan untuk mengatur pertemuan antara pria itu dengan seorang model asal Selandia Baru yang bernama Sabrina.
Jess tidak habis pikir bagaimana pria itu mendekati wanita lain, sementara wanita yang dia cintai dilepaskan begitu saja.
Jess bergegas menemui Norman di apartemennya, wanita itu memencet bel berkali kali.
Bukannya jawaban yang didapatkan, Jess malah mendapatkan pesan dari Norman.
Señor Norman : Atur pertemuannya, lalu aku akan membuka pintu untukmu.
Melihat perintah ini sepertinya bukan main main, Jess segera mengatur pertemuan di depan pintu dengan menggunakan smartphone.
Setelah mendapatkan balasan positive dari pihak Sabrina, Jess memperlihatkan pesan yang diterimanya pada camera kecil di depan pintu.
Setelah itu baru Norman membuka pintu dan mempersilahkan Jess masuk.
"Apa artinya ini?"
"Apa maksudmu?"
"Kau ingin menemui seorang wanita? Apa kau benar benar melupakan Malia?"
"Jangan sebut nama itu di depanku," ucap Norman yang tengah memilih senjata yang akan dia bawa.
"Señor, kenapa kau sudah membidik wanita lagi?"
"Jess, itu bukan urusanmu."
"Ini urusanku, aku berpisah dengan saudariku demi hubunganmu dan Malia. Lalu kenyataannya, kau di sini malah bersama wanita lain, kenapa wanita itu tidak Malia saja?"
"Aku tidak ingin Malia terluka, Malia melupakanku dan kenangan selama dua tahun ini karena aku menyakitinya. Dia enggan bersamaku."
Jess menatap tidak percaya. "Itu sebabnya kau sekarang mencari wanita baru?"
"Jess, aku ingin berbisnis dengan Sabrina."
"Aku tidak melihatnya, kau terlihat tampan hanya untuk pertemuan tidak penting."
"Oke." Norman membalikan badannya. "Apa masalahmu?"
"Kau melindungi Malia dari jauh, mencintai Malia dengan cara merelakannya bersama orang lain. Apa kau gila?"
"Itu cara agar dia tidak tersakiti," ucap Norman penuh penekanan. "Aku tidak ingin dia tersakiti, orang yang aku sayangi. Bahkan oleh diriku sendiri."
__ADS_1
"Sabrina!" teriak Jess menahan kekesalan.
"Aku hanya ingin berkenalan dengannya, dan memperlihatkan pada ayahku bahwa aku baik baik saja. Kenapa kau berisik?"
"Malia masih menjadi istrimu!"
Norman diam tidak menggiraukan perkataan Jess, dia memilih memasukan sebuah pisau bermata tajam ke dalam balik jas nya.Â
"Aku akan pergi memeriksa proyek sebelum menemuinya."
Jess menatap tidak percaya pada Norman yang menjauhinya, apalagi saat Norman berbalik kembali dan berkata, "Ah, siapkan buket bunga untuknya."
"Apa kau berniat selingkuh? Kau masih menjadi suami dari Malia."
"Pengadilan sudah membuat surat perceraian bukan?"
Jess terdiam, dia menatap kepergian Norman di ambang pintu.Â
"Tidak, Señor. Aku menghentikannya, kalian masih menjadi suami istri."
***
Malibu, Amerika Serikat.
Edward menatap gusar Email yang dia dapat. Kejadian tidak terduga, dia dipilih untuk menangani kasus kecelakaan di rumah sakit yang ada di luar Malibu. Bukan rumah sakit biasa, tapi rumah sakit orang jahat.
"Apa yang harus aku katakan pada Malia?"
"Direktur, aku tidak bisa pergi, aku sudah mengajukan cuti."
"Kau ditunjuk secara khusus untuk menangani orang orang jahat itu, melihat mereka dan memastikan semuanya dengan benar. Jangan khawatir, polisi mengawalmu."
"Aku hendak mengantar Malia ke Meksiko."
"Malia? Pasien yang membuat jam kerjamu berkurang di rumah sakit?"
Edward terdiam, dia hanya menunduk berdiri di depan pria tua yang duduk di depannya. "Kau adalah ahlinya, mereka menunjukmu."
"Satu kali ini saja, aku tidak ingin mengecewakannya."
"Perintah adalah perintah, jika kau tetap pergi kau akan mendapat skors."
Edward diam menatap pria itu tidak main main. "Papa, aku mohon bantu aku."
"Dengar, Ed, waktuku tinggal sebentar lagi sebelum aku dipindahkan lagi dan jauh darimu. Tangani kasus ini, dan kau akan menempati posisi yang sama denganku."
Edward diam.
"Kau mengerti, Nak?"
"Iya, Direktur," ucap Edward keluar dari ruangan itu, dia membuka jas putihnya saat berada di ruangannya.
__ADS_1
Bertepatan dengan itu, Malia menelpon.
"Aku di depan rumah sakit membawa makanan."
Edward tersenyum, dia bergegas turun saat jam makan siang. "Hai, maaf aku tidak menjenputmu pagi ini."
"Santai saja, aku bisa mengemudi sekarang."
Malia membalas pelukan Edward sesaat.
"Bagaimana keadaan Jan?"
"Masih berbaring, tapi dia mulai makan dengan banyak."
Merasakan aroma masakan yang harum, Edward menunduk menatap papper bag yang dibawa Malia. "Aromanya terlihat enak."
"Di mana kita akan makan?"
"Di taman sana, ayo, ada banyak anak anak yang bermain di sana."
Malia tersenyum mendapat genggaman tangan dari Edward.
"Kau pasti kelelahan karena Stacy mengundurkan diri, apa perlu aku carikan seseorang yang membantumu?"
"Kau ingin masakan buatanku atau masakan pembantu di rumah?"
Edward yang mengerti dengan ucapan itu segera mencium tangan Malia penuh kasih sayang. Yang mana membuat Malia tertawa, merasakan hatinya berbunga bunga dengan pria itu.
"Aku memasak pasta, aku yakin kau akan suka."
"Wah, ini terlihat enak."
"Oh, ya. Aku sudah menyiapkan makanan untuk berangkat lusa. Aku membawa bahan roti kesukaanmu. Bagaimana menurutmu? Apa kau sudah mendapatkan penginapan yang bagus?"
Dan saat itulah Edward melunturkan senyumannya. Dia ragu mengatakan kebenarannya.
"Ada apa, Ed? Kau membuatku takut, katakan padaku."
Edward menarik napasnya dalam. "Aku baru saja mendapat tugas untuk pergi ke sebuah penjara."
"Kau akan dipenjara?"
Edward tertawa. "Bukan, Malia. Aku akan merawat beberapa orang di sana. Dan aku tidak bisa menolak, itu adalah perintah dari pusat."
Malia terlihat sangat sedih.Â
Dan tanpa mereka ketahui, semua ini telah direncanakan agar Malia pergi seorang diri.
***
Love,
__ADS_1
Ig : @Alzena2108