Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 71


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘


.


.


Jess mencoba menetralkan tubuhnya dari rasa sakit, dia tetap berjalan meskipun Yoseph mencoba memghentikan. "Berhentilah, kau akan terluka."


Bukan Jess namanya jika berhenti tanpa kemenangan. 


"Apa yang coba kau lakukan?"


"Aku harus bersiap, aku tahu akan ada banyak hal terjadi apabila aku tidak bisa berbuat apa apa."


Yoseph kembali menatap laptopnya. "Kau ingin lihat sesuatu yang lain?"


"Pergi tinggalkan aku."


Di super market yang ditinggalkan, cukup luas bagi Jess untuk berlatih memukul. Seolah ada musuh di depannya yang akan dia taklukan.


"Jess."


"Diam dan tidurlah."


Yoseph akhirnya melakukannya. "Aku akan meninggalkan tempat ini untukmu."


"Bagaimana dengan Norman?" Tanya Jess berbalik. "Kau menemukannya?"


"Tidak."


"Dia terlalu pintar bersembunyi," gumam Jess. "Pergi ke sana."


Yoseph melakukannya, dia pergi meninggalkan Jess. Membuat wanita itu segera menghentikam aktivitasnya, Jess membuka laptop milik Yoseph, dan mencari apa yang harus dia temukan. "Dimana kau Señor Norman?"


"Wow, kau mencarinya diam-diam."


"Shit," umpat Jess menyadari Yoseph ada di sana.


Pria itu mendekat. "Aku bisa mencarinya jika itu yang kau inginkan."


"Apa yang kau tahu tentang pencarian dasar pria anti sosial."


Bukannya marah, Yoseph malah terkekeh. "Serius, aku ingin membantu. Aku lelah melihat El Sinaloa keluar masuk Campo Morado dan melewati area ini. Aku akan mencarinya, berikan saja dimana posisi dirinya."


Jess tidak percaya, dia kembali berbaring saat merasakan tubuhnya lemah.


"Apa kau baik baik saja?"


"Pergi dan menyingkir dari hadapanku."


"Aku hanya ingin membantu, ayolah berikan aku posisi dia seharusnya di mana."


Jess masih diam.


Membuat Yoseph bergumam, "Kau sekarat."


"Diam."


"Aku akan pergi, berikan aku bantuan posisinya, dia pandai menyamar bukan?"


Jess masih terdiam. 

__ADS_1


"Ayolah, kau ingin adikmu mati?"


Akhirnya Jess menatap Yoseph. "Pergi ke jalan besar menuju Campo Morado, dia menunggu sebuah truk container di sana."


Tanpa basa basi lagi, Yoseph segera memakai jaketnya. "Aku akan membeli obat untukmu, aku akan sampai sebelum dini hari."


Jess terdiam, tanpa menatap kepergian pria itu. Dirinya terdiam lama, mengingat bagaimana dirinya tidak bisa melindungi Jan dan Malia.


"Maaf aku tidak bisa melindungi kalian, aku tidak percaya padanya, tapi aku mencoba sesuatu yang sering kau lakukan, Malia. Tuhan tidak berwujud, tapi kau mempercayainya, begitupun denganku, aku akan mencoba mempercayai pria itu."


****


Sampai menjelang dini haripun, Norman masih membuka matanya, dia berkendara sebelum truk kontainer yang akan dia cegat keluar dari daerah Campo Morado.


Saat melihat telpon umum, Norman memilih diam sesaat untuk menghubungi seseorang.


"Louis?"


'Bertahanlah, aku akan segera ke sana.'


"Kau tidak apa bukan?"


'Aku baik-baik saja, Teddy Bear aku pulangkan untuk menutupi kecurigaan, bagaimana dengan Alpha?'


"Aku belum mendapatkannya."


'Seharusnya mereka sampai di Campo Morado sekarang.'


Norman menyandar pada dinding ruangan sempit itu. "Aku tahu, aku akan mengiring mereka. Bisakah kau menjemput Malia?"


'Aku sudah memberi perintah pada orang-orangku, mereka bilang tidak ada rombongan rock yang melewati tempat itu.'


'Aku punya, sebutkan plat nomor mobilnya.'


Norman mengingat jelas plat nomor yang membawa Malia, dia menyebutkannya pada Louis.


'Tunggu sebentar,' ucap Louis saat dia mulai mencari posisi kendaraan itu.


Dengan jantung berdetak kencang, Norman menarik napasnya dalam mendengar suara mesin ketik dari komputer yang digunakan Louis.


"Bagaimana?"


Belum ada jawaban dari saudaranya.


"Louis?"


'Tunggu.'


Suara berat Louis membuat Norman harys bersiap oleh kabar buruk yang akan dia dengar. Dirinya menarik napas dalam dan mencoba tenang.


"Louis?"


Demi apapun, Norman tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika Malia tidak keluar dengan selamat.


Saat mendengar kalimat, 'Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi, tapi mereka berbelok sebelum keluar dari Guererro. Berbalik arah saat tengah malam. Aku tidak bisa mengetahui dimana mereka berakhir, tapi mereka masih berada di Guererro.'


Norman terdiam, suhu tubuhnya mendidih.


'Normam?'


"Aku tidak memerlukam siapapun untuk melakukan ini."

__ADS_1


Dia mematikan panggilan Louis. Semua indra dalam tubuhnya seolah tidak berfungsi, berjalan dengan tatapan kosong dan penuh rasa sesak.


Namun, Norman masih bisa merasakan sebuah kendaraan bermotor berhenti di sekitarnya. 


Sebelum sang pengendara menepuk bahunya, Norman memberinya pukulan.


"Hentikan! Aku temannya Jess!"


Seketika Norman berhenti memukuli, dia menegakam tubuhnya. "Dimana dia?"


"Di tempatku, Jess ada di tempatku. Dia mencari keberadaanmu, untuk memberitahu bahwa Malia dan Jan di bawa oleh El Sinaloa."


Norman marah, semua itu tercetak jelas dalam manik abunya. Dia mengepalkan tangannya kuat. "Berikam kunci sepeda motormu."


"Apa yang akan kau lakukan?"


"Berikan."


Yoseph melakukannya. "Dia berada di sebuab pom dam minimarket kosong di bawah gunung Campo Morado."


Norman diam, dia menaiki motor Yoseph.


"Hei kau salah arah!" Teriak Yoseph mengingatkan.


Namun, Norman tidak menghiraukannya. Dia berkendara semakin cepat. Satu titik, dia meneteskan air matanya. Mengingat bagaimana lalainya dia menjaga Malia, bagaimana bodohnya dia meninggalkan kekasihnya sendiri.


Maka darinya, Norman merajai jalanan yang sepi, menyalip beberapa kendaraan yang ada sampai dia melihat apa yang dia cari.


Kontainer berwarna hijau tua, disana makhluk yang akan memburu Marc dan Dennis berada.


Menunggu waktu dan tempat yang tepat, Norman menghentikan truk itu.


Seorang pria tua yang mengendarainya keluar. "Apa kau yang bernama Enrique, Nak?"


"Ini upahmu, Pria Tua," ucap Norman melemparkan koin emas kuno.


Membuat pria itu tertawa. "Ini semua milikmu, termasuk truknya. Boleh aku membawa motormu?"


"Berikan kuncinya," ucap Norman meminta kunci untuk membuka kontainer.


Pria tua itu memberikannya. Membuat Norman bergegas membuka kuncinya.


Dia menyeringai mendengar auman dari dalam sana.


"Apa yang ada di dalam sana, Nak? Mereka bilang itu mainan."


"Sebaiknya kau pergi sebelum mainan ini mengakhirimu."


Segera, pria tua itu bergegas pergi.


Meninggalkan Norman yang membukanya pelan, seringai iblis menghiasi wajah tampannya saat dia melihat peliharaannya. Kenyataan yang benar, bahwa semua manusia tergantung pada alam.


Mereka terdiam di dalam sana saat melihat mata abu Norman.


"Holla Alpha, saatnya kalian berburu."


---


**Love,


ig : @Alzena2108**

__ADS_1


__ADS_2