
Vote sebelum membaca😘😘😘
.
.
Malia membuka matanya, mentari belum juga menyinari. Dan dirinya merasa kehausan yang amat mendalam. Kebetulan, sinar bulan menyinari, membuat sebuah sungai yang ada dibawah tebing memantulkan cahayanya.
"Bagaimana aku bisa turun?" Tanya Malia pada dirinya sendiri, pasalnya bagian itu sangat curam. "Aku haus."
Dan Malia tidak memiliki pilihan, dia keluar dari gua. Kepalanya menatap ke bagian atas, memastikan tidak ada siapapun di sana.
Perkiraannya, ini adalah dini hari. Dan Malia yakin di jam seperti ini orang-orang sedang tertidur.
Meyakinkan pada dirinya sendiri, Malia merangkak keluar gua. Sampai akhirnya matanya menyipit, menyadari adanya sebuah jalan di sana menyerupai tangga dari batu. Tempat ini menyadarkan Malia, bahwa beberapa tahun yang lalu, ini dijadikan tempat bermain seorang anak.
"Apakah kau dulu berada di sini, Norman?"
Gumamnya mencoba menuruni batuan itu, rasa sakit pada tubuhnya kini berubah seolah menjadi temannya. Sungai di bawah sana begitu jernih, membuat Malia tidak sabar untuk mendapatkan kekuatan kembali.
Hal yang diyakininya, Norman akan datang, dia mencoba menyingkirkan perasaan negative, Norman akan datang padanya. Dia tahu itu.
Tanpa disadari, air mata Malia menetes mengingat bagaimana Norman datang dan menolongnya. Kenyataannya, Norman peduli padanya.
Hingga saat Malia sampai di pinggir sungai, dia menurunkan kakinya yang penuh luka. Bibirnya mendesah merasakan dinginnya air dan sejuknya tubuh.Â
Di sana Malia membersihkan tubuhnya dari luka yang mulai mengering.
"Papa….," gumam Malia saat melihat pantulan dirinya sendiri dalam cermin.
Dia menyeka air matanya, Malia menelan ludahnya kasar sebelum meminum air dengan tangannya.Â
__ADS_1
"Aku harus bertahan, aku harus bertahan," ucap Malia pada dirinya sendiri, dia menatap cincin pernikahannya. Sambil meneteskan air mata, dia bergumam, "Tuhan itu ada, dia mengawasi kita semua."
Menarik napasnya dalam, Malia mencoba berdiri dengan dahan pohon yang menjadi penopang tubuhnya. Langkahnya mungkin tidak secepat orang normal, tapi Malia bisa melangkah sambil menyeret-nyeret kakinya. Dengan merasakan sakit, dan pedih pada luka di kaki yang diseret.
Dan Malia yakin, jika dirinya harus melangkah lagi, dia takkan mampu. Maka darinya, Malia memilih duduk sebentar di sebuah batu di pinggir sungai. Menaiki tebing kembali membuatnya hampir putus asa.
"Tuhan, tolong aku," gumamnya mengusap dadanya yang berdetak kencang.
Saat itu, tanpa Malia sadari, sebuah kamera keamanan tengah berputar dan menangkap sosok dirinya. Seorang operator yang mengendalikan semuanya tersenyum miring, dia mendekatkan kamera untuk mengidentifikasikan wajah Malia dengan foto ditangannya. "Aku menemukanmu."
Pria itu segera keluar dari ruang bawah tanah untuk menemui Dennis yang sedang duduk menghadap hutan, tepat di dekat koridor menuju kamar Marc. "Señor Dennis, aku menemukan keberadaan perempuan itu. Dia ada di tepi sungai."
Dennis menyeringai. "Biarkan dia sebentar sampai lelah. Jika matahari hampir terbit, tangkap dia."
"SÃ, Señor, aku mengerti."
****
Dennis mengerutkan keningnya saat mendapati ketenangannya dicerai berai. Dia melangkah keluar mansion, mendekati dua orang pria yang sedang bicara. "Apa ini? Kenapa kalian berisik sekali?"
"Dania ribut di depan, dia mengancam akan sesuatu. Namun tenang, Señor. Aku akan membunuhnya."
"Wanita?"
"Kenapa dia tidak diizinkan masuk?"
"Señor Marc melarangnya."
"Biarkan dia masuk." Dan saat kedua orang itu enggan melaksanakan perintah, Dennis menodongkan senjata. "Lakukan."
Mendapati dirinya berkuasa, Dennis merasa puas. Norman yang diikat, Marc yang terbaring lemah, dan para pengikut El Sinaloa yang mengikuti perintahnya.
__ADS_1
Dan tidak lama kemudian, Dania datang dengan mobilnya. Bibirnya yang mengerucut disambut olej rentangan tangan Dennis. "Sialan, apa yang kau lakukan di sini?"
"Kau harus melihat sesuatu."
"Lepaskan aku," ucap Dania saat Dennis hendak menyentuh tangannya. "Orang lain bisa melihat."
"Oh aku tidak keberatan," jawab Dennis memaksa menggenggam tangan Dania dan membawanya ke dalam mansion. Menaiki tangga, Dania terlihat khawatir.
"Apa yang terjadi?"
Dan pertanyaan itu baru bisa terjawab saat Dania melihat Norman yang terbaring lemah di atas ranjang dengan tangan dan kaki terikat. "Apa yang terjadi?"
Dennis menahan Dania yang hendak mendekat. "Dia mencoba menyelamatkan Malia."
"Bisa kau beritahu apa yang terjadi?"
Di ambang pintu, Dennis menjelaskan semuanya, dengan tangan pria itu yang merayap menyentuh wajah Dania. Dan tentu saja pemilik rambut kemerahan itu tidak bisa menahan keterkejutannya. "El Sinaloa ada ditanganmu?"
"Janji Marc padaku, dan aku yakin akan ada pertumpahan darah antara Marc dan Norman."
Entah mengapa kenyataan itu membuat Dania tersenyum miring. "Dan akun Bank milik Marc?"
"Tidak lama lagi akan menjadi milikku, akan aku cari jalan agar dia menyerahkannya padaku."
Dania tersenyum, dia mendekat dan melingkarkan tangannya di pinggang Dennis. "Oh ya?"
"Jadi…. Bagaimana? Kau akan beralih sisi?"
Dania terkekeh. "Aku ada di sisimu mulai saat ini."
---
__ADS_1
**love,
ig : @alzena2108**