
Vote sebelum membaca 😘😘😘
.
.
Jess, mata dan telinga Norman jika pria itu terlelap. Menatap sekeliling, semuanya baik baik saja. Kali ini, Jess yang tetap mempertahankan kepalanya yang plontos itu menuju ke sebuah hotel untuk menemukan Yoseph.
Ada sesuatu yang janggal di sini, Jess merasakannya. Menghentikan motornya di sebuah parkiran hotel, Jess masuk menuju tempat Yoseph selama ini. Mengurung diri di dalam kamar hotel untuk menghindari manusia.
Malam yang sudah larut, bahkan ini sudah pukul 1 pagi. Jess masih berkeliaran, biasanya dia hanya tidur selama satu samapu tiga jam sehari.
Tanpa sabaran, Jess mengetuk kuat pintu kamar Yoseph. Yang membuat pria itu bergegas bangun dan membuka pintu kamar.
"Jess?"
Tanpa diduga, Jess mendorong Yoseph agar dirinya bisa masuk. Wanita berkepala plontos itu jelas marah, dia memperlihatkannya dengan jelas.
"Sialan kau, Yoseph!"
"Apa yang salah denganku?"
Jess menarik napasnya dalam. "Kau menghentikan suray untuk Malia dari Norman?"
Yoseph terdiam, ini alasan Jan tidak mendapatkan apapun. Jelas Jess tahu Norman mengirim sesuatu untuk kekasihnya di tahun yang akan datang, dan semua itu terhenti oleh Yoseph.
"Berikan itu pada Malia."
"Aku tidak bisa, Norman akan membunuhku."
"Aku akan menghalanginya. Berikan jalan, mereka harus bertemu, Yoseph."
Yoseph terdiam lama, dia menyukai Jess dan akan melakukan apa saja untuk wanita itu. Tapi untuk melawan Norman, Yoseph berpikir dua kali. Pasalnya Yoseph tau apa saja yang pernah dan sering dilakukannya.
"Aku takut Norman akan marah dan memutilasiku."
"Apa dia masih sering melakukan itu?"
"Ya, menyuruh orang lain."
"Jangan khawatir, aku akan melindungimu. Aku tau dia merindukan Malia, dan seharusnya memang seperti itu. Aku mohon, Yoseph."
Kalimat permohonan Jess sambil menodongkan pistol.
"Baik, akan aku lakukan."
"Dan tolong beritahu adikku tentang rencana kita."
__ADS_1
"Apa kau tidak ingin menghubunginya?"
"Aku terlalu merindukannya."
Yoseph terdiam, dia menarik napas lalu segera mendekati laptopnya untuk meneruskan surat yang dihentikannya beberapa bulan yang lalu. Dia ingin Malia menerimanya, mendapatkannya lalu mencari Norman. Dengan begitu Jess pula akan berkumpul bersama Jan.
"Jangan khawatir, Jess. Aku pastikan Norman akan kembali bersama Malia."
"Bagaimana kau akan melakukannya?"
"Aku akan menghentikan Edward selalu mendekatinya."
"Kerja bagus, aku akan pergi."
"Tidak ingin menginap?"
"Kau bilang apa, Pecundang?"
"Tidak," ucap Yoseph menunduk.
***
Malibu, Amerika Serikat.
Malia menatap kosong keluar toko, dia masih belum bisa melupakan sebuah suara yang dia ingat. Suara itu terngiang di kepalanya, begitu jelas hingga membuat jantungnya berdetak kencang.
Siapa pria itu?
Apa yang terjadi satu tahun yang lalu?
Malia mencoba mengingat. Tapi semakin dia mengingat, semakin jantungnya berdetak kencang. Malia takut mengingat masa lalunya.
"Malia?"
"Ya?"
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Edward dengan khawatir.
"Tidak ada, kau sudah selesai memesan cokelatnya?"
Edward mengangguk. "Ayo, aku antar kau pulang."
Malia mengangguk, dia menggenggam tangan Edward dan keluar dari sana.
Dia menarik napas panjang saat berada dalam mobil. Malia merasa posisinya kali ini tidak benar.
"Malia, katakan sesuatu padaku."
__ADS_1
"Apa?"
"Kenapa? Apa yang kau rasakan? Ceritakan padaku, Malia."
Malia kembali menarik napasnya dalam. "Aku tidak bisa melupakan masa laluku begitu saja. Aku yakin ada sesuatu di sana yang membuat aku mengalami semua ini."
"Semuanya akan baik baik saja, tenanglah."
"Aku takut menghadapi kenyataan bahwa masa laluku itu pahit."
"Hei, hanya masa lalu. Tidak apa jika pahit, tapi aku jamin masa depanmu semanis senyumanmu."
Malia tersenyum malu, dia tetap menggenggam tangan Edward yang menghangatkannya.
"Apa kau besok kembali bekerja?"
"Ya, ke rumah sakit. Bagaimana denganmu?"
"Aku akan menjelajahi beberapa kota untuk mencari karya seni yang tersembunyi, lalu melelangnya untuk amal."
"Apa yang kau rencanakan kali ini, Malia?"
"Aku ingin membangun sebuah perkebunan jeruk. Di Malibu ini orang ingin sesuatu yang segar, dan jeruk adalah jawabannya. Aku ingin mereka yang pengangguran yang berinovasi, bagaimana caranya buah itu tumbuh dengan baik di sini."
"Ah, kau berencana membuka lapangan pekerjaan?"
Malia mengangguk malu, dan itu membuat Edward bangga. "Lanjutkan, aku bangga menjadi kekasihmu."
"Astaga, hentikan itu, kau membuatku malu."
Edward terkekeh sambil membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Malia keluar.
Keduanya tampak canggung saat saling menatap. Edward berdehem. "Jadi, bagaimana kencan pertama kita?"
Malu malu Malia menjawab, "Sangat mengagumkan, aku suka itu."
"Bolehkah aku memelukmu?"
Malia tidak menjawab, dia memeluk Edward begitu saja. Edward merasakan kenyamanan yang tiada tara, Malia adalah wanita yang ingin dia jaga dengan sepenuh hati.
"Aku mencintaimu, Malia. Berjanjilah jangan pernah meninggalkanku."
Malia diam dalam pelukan Edward, hingga akhirnya dia mengangguk.
"Aku berjanji."
***
__ADS_1
Love,
Ig : @Alzena2108