
Vote sebelum membaca😘😘
.
.
Malia terbangun lebih awal, dia menatap suaminya yang masih tidur memeluknya dengan kepala yang menempel di dadanya. Norman tidur nyenyak, dan yang Malia harapkan dia terlelap di alam mimpi yang indah.
Tangannya melingkar di pinggang Malia, membuat gerak perempuan itu terbatas. Sesekali dia mencium kening Norman sebelum mencoba melepaskan pelukannya.
"Kau mau ke mana?"
Malia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Aku hendak ke kamar mandi, kau tidur saja lagi, ini masih pagi."Â
Norman menggeleng, dia mendudukan dirinya dan menatap keluar jendela. Sudah ada siluet sinar matahari yang akan segera muncul.
"Kau ingin mandi? Bersamaku?"
"Ayolah, Norman, berhenti bercanda. Kau harus istirahat," ucap Malia memberi ciuman di pipi suaminya sebelum dia beranjak dari ranjang. Memakai tongkatnya dan berjalan penuh kesulitan.
Norman masih ragu saat hendak membantu, pikirnya Malia masih marah padanya. Norman selalu salah tingkah jika dengan Malia, apalagi dia pernah melewati malam yang panas dengan istrinya. Bukan pertama kalinya Norman melakukan hal itu, tapi ini kali pertamanya dia melakukannya dengan penuh cinta.
Maka dari itu, dengan penuh keberanian Norman masuk menerobos ke kamar mandi.
Membuat Malia menjerit di sana, "Apa yang kau lakukan, Norman?"
"Aku ingin mandi bersamamu," ucapnya membuka pakaiannya.
Malia baru saja selesai menggosok gigi, dia membiarkan Norman membantunya membuka pakaian dan membawanya masuk ke dalam bathub.
Pria itu memeluk istrinya dari belakang. Jantung Norman berdetak kencang saat dia mendapati banyak bekas luka di punggung Malia, dia mencium punggung istrinya lama. "Maafkan aku, Malia."
Malia merasakan pelukan yang erat. "Aku minta maaf untuk semua lukamu, maafkan aku."
Berbeda dengan dugaannya, Malia malah tersenyum tipis. Dia menyandarkan kepala di dada suaminya. "Jangan terus meminta maaf, Norman. Kau memang salah, tapi kau juga terluka. Kita berdua terluka, ayo kita obati semua ini bersama-sama."
Keduanya menautkan jemari mereka, Malia melanjutkan, "Aku memaafkanmu, tetaplah bersamaku."
"Sampai maut memisahkan," ucap Norman memberi ciuman di pundak Malia.
Mandi bersama yang penuh kehangatan, Malia merasa dia kembali pada situasi sebelumnya. Di mana Norman selalu memperlakukannya baik, mengusap bagian tubuhnya yang basah dan memakaikan pakaian padanya.
Malia di dudukan di atas ranjang setelah selesai berpakaian. Norman menyisir rambut istrinya. "Bagaimana dengan Jess, Norman?"
__ADS_1
"Aku menunggunya, aku yakin dia punya informasi di mana Marc berada."
"Apa yang akan kau lakukan padanya?"
"Siapa?"
"Marc," ucap Malia pelan.
Membuat Norman terkekeh, "Kau tahu apa yang akan aku lakukan, Malia."
Malia terdiam, dia akhirnya membalikan badan dan duduk di pangkuan Norman. Perempuan itu mengusap tengkuk suaminya. "Tidak ada pilihan lain?"
"Hanya itu, agar kau terbebas selamanya. Dia psikopat, aku tidak bisa membiarkannya menyakitimu lagi."
Malia tersenyum, dia memberi ciuman di pipi Norman sebelum memeluknya erat.
Membuat pria itu membalas pelukannya. "Untuk apa ciuman tadi?"
"Tidak ada."
"Malia….." Norman berucap dengan suara parau. "Apa kau masih mencintaiku?"
"Bagaimana denganmu?" Malia masih berada dalam pelukan suaminya.Â
Norman menjawab dengan yakin, "Kau adalah belahan jiwaku, lentera hidupku. Akh tidak bisa hidup tanpamu."
Dan pernyataan keduanya, mengiring pada ciuman yang saling melepas kerinduan. Norman memangut bibir istrinya penuh dengan kehalusan. Dan Malia, dia menerima suaminya dengan penuh kasih sayang.
Namun, baru juga Norman membaringkan tubuh Malia di atas ranjang, suara ketukan terdengar. Jan berteriak, "Apa yang ingin kau makan, Malia?!"
Membuat Norman mendesah frustasi dan menjatuhkan kepalanya di ceruk leher istrinya.
Malia terkekeh pelan. "Sayang sekali, Norman."
***
Jess dibantu dengan Greta --wanita yang dia todong-- untuk menyembunyikan mayat Kina yang asli. Disebuah loker di bagian belakang, tanpa diketahui oleh siapapun.
Kenyataannya, El Sinaloa bukan hanya menculik wanita, tapi juga pria itu dipekerjakan kasar di tambang ini. Membuat Jess berpikir bagaimana caranya dia memusnahkan seluruh El Sinaloa tanpa melukai orang yang diculik.
"Lalu apa sekarang?"
"Pria bernama Dennis itu harus mati."
__ADS_1
Greta ingin keluar dari sini. "Teman-temanku?"
"Aku akan mengeluarkan mereka jika mereka membantuku, aku harus membunuh Dennis, dan Marc."
"Pria gila itu?" Greta menggeleng. "Dia dijaga oleh sepuluh orang bersenjata."
"Dimana dia?"
Greta kembali menggeleng. "Aku tidak tahu."
"Shit," umpat Jess kini melihat ruangan di mana Dennis berada, dijaga oleh dua orang bersenjata. "Bagaimana aku bisa masuk ke sana?"
"Kami memberinya obat sehari dua kali."
"Kapan lagi?"
"Nanti siang."
"Di mana obatnya?"
Greta menunjuk ruangan di ujung lorong, banyak penjaga di sana juga perawar seperti mereka. Yang Jess tahu, para perawat di dalam sana menunduk para Marc. Apalagi para perawat itu dipimpin olej seorang wanita yang sekarang mengepalai laboratotium yang narkotika milik El Sinaloa di sana.
Jess menghela napas dia menatap ke arah kiri, ada sebuah seperti lapang berbentuk bulat. Di sanalah pusat ruang bawag tanah, sebuah aula tempat anggota El Sinaloa dulu berkumpul. Jess menyeringai, dia yakin Norman akan segera berada di titik tengah dan membuat mereka semua bertekuk lutut.Â
"Lalu apa yang akan kita lakukan?"
Jess menatap laboratorium yang tertutup. "Ada di sana? Obatnya?"
"SÃ."
Saat Jesa hendak melangkah, Greta menahannya. "Kau perlu kartu untuk ke sana."
"Aku bukan orang bodoh," ucap Jess melangkah, diikuti oleh Greta di belakangnya.
Seseorang menjegatnya, "Kau tidak terlihat seperti Kina."
"Wajahku hangus karena mendapatkan hukuman dari Señor Marc."
Hal itu membuat pria yang menjaga membiarkan Jess masuk bersama Greta. Dan tanpa diduga, seorang yang dikatakan Greta pemimpin lab berucap, "Hentikan pekerjaan kalian, Señor Dennis sudah bangun."
"Oh Shit."
---
__ADS_1
**Love,
ig : @Alzena2108**