
Vote sebelum membacaš
.
.
Dua orang pria, menunggu dini hari tiba sambil merokok. Berada di tempat konstruksi, keduanya duduk di atas balok kayu sambil menatap langit yang cerah dan Guererro yang masih membuka mata.
Norman dan Louis berada di sana.
Mereka mungkin memiliki ayah yang sama, tapi jalan hidup yang berbeda. Andrean, ayah kedua pria itu menikah dengan Rosita sebelum dia bersama dengan anak Marc atas perintah pria itu. Andrean yang tidak mencintai Mama Norman memilih meninggalkannya dan kembali pada Louis.
Norman tidak pernah membenci Andrean, dia tahu pria itu meninggalkan Mamanya karena mereka memang tidak saling mencintai, Andean juga pergi untuk menebus dosanya pada Louis.
Hal yang membuat Norman heran, kenapa Mamanya sangat mencintai Don sampai rela pergi dari Meksiko dan pulang dalam keadaan mati?
"Kenapa kau datang, Louis?"
"Kenapa aku datang? Karena Papa selalu menangis dia tidak bisa bertemu denganmu lagi, bodoh."
"Kenyataannya aku masih bisa bertemu denganmu."
Louis mendesah, dia menghisap rokoknya. "Kau tidak bilang El Sinaloa akan kembali bangun."
"Kau tahu apa yang mereka lakukan?"
"SĆ, mereka memeriksa siapa saja yang masuk ke kandang mereka, khususnya yang lewat udara. Jika dia kaya, El Sinaloa akan membunuhnya dan menguras habis hartanya."
Norman memilih bungkam.
"Ini baru beberapa minggu, bayangkan jika itu terjadi dalam satu tahun? Mereka bertambah banyak."
"Mereka keluargaku."
"Keluargamu? Pernahkah mereka peduli padamu?"
Norman berdecak, dia menatap Louis. "Pergilah dari sini, aku tidak ingin Dioses La Asesinos panik kehilangan induk mereka."
"Normanā¦." Louis menahan tangan pria itu.
Yang segera Norman tepis. "Tidak, Louis."
"Kau butuh bantuan."
"Ini rumahku."
"Aku tahu apa yang terjadi, Marco Valentio? Dia seorang psikopat."
"Dia Kakekku, dia yang selalu menuntunku pada jalan yanh benar," ucap Norman berdiri.
Pria bermanik abu itu hendak pergi, sampai kalimat Louis menghentikan. "Kau mencintai Malia? Apa kau akan mengotori tanganmu dengan darah orang yang kau cintai?"
Norman membalikan badannya.
"Kau mencintainya, Norman."
"Aku tidak mencintainya."
"Kau menganggap Malia adalah harapan dan juga jalan menuju kebahagiaanmu. Jika kau mau, aku akan membantumu mendapatkannya kembali."
"Pulang, Louis," ucap Norman penuh penekanan. "Aku tidak butuh bantuanmu."
__ADS_1
"Akan aku bawa seluruh klan Dioses La Asesinos jika itu perlu, akan aku senjatai orang-orangku, akan aku bawa jaguar hitam untuk melepaskanmu dari rantai siksaan Marco Valentio," ucap Louis sambil melangkah pelan ke arah Norman. Sambil merokok.Ā
"Jangan lakukan itu, aku tidak membutuhkannya. Rantai siksaan? Ini hidupku, Louis. Aku yang memilih jalan ini, jangan ganggu hidupku."
Kemudian Norman pergi dari sana dengan wajah penuh amarah, dia mengepalkan tangannya.Ā
Raut wajah marahnya terlihat jelas saat masuk ke dalam mobil.
"Bagaimana, SeƱor?" Tanya Jess saat Norman masuk.
"Siapa yang mengawasi orang-orang yang keluar masuk Meksiko, Jess?"
"Dennis, aku rasa dia melakukannya sejak kedatanganmu."
Tangan Norman mengepal. "Aku ingin kau mengwasi orang-orang berkebangsaan Spanyol yang datang lewat jalur manapun, khusunya yang bermarga De La Mendoza, mereka dilarang masuk ke sini."
"SĆ, SeƱor."
Karena Norman tahu, ini pertempuran hidupnya. Tidak akan dia biarkan siapapun masuk mencampurninya, khusunya keluarganya sendiri. Norman ingin mereka tetap aman.
*****
"Kau melakukan apa yang aku suruh?"
"SĆ, SeƱor."
Marc menatap sarapan yang disiapkan pelayan untuk Malia, hanya tiga buah pancake dengan saus cokelat. Dan tentu saja tanpa air. "Ada yang lain, SeƱor?"
"Tidak, biarkan dia makan itu, jangan beri minum."
"SĆ, SeƱor."
Pelayan itu menelan ludahnya kasar, dia membawa sepiring sarapan untuk Malia. Dengan pintu ruang bawah tanah yang kini dijaga oleh seorang pria berbadan besar, dia mendekat. "Aku membawa ini atas perintah SeƱor Marc."
"Berikan padaku."
"Tidak," ucap pelayan itu menghindar saat piring akan diambil. "Dia menyuruhku untuk memberikannya langsung pada SeƱora Malia."
Pria itu malah terkekeh, dia membuka kunci dan membiarkan wanita berseragam pelayan masuk.
Sudah lama tidak masuk ke dalam ruang bawah tanah membuat buku kuduk pelayan itu berdiri. Merasakan aura negatif, dan yang diyakininya hal-hal buruk banyak terjadi di sini.
Sesuai dugaanya, Malia terbaring lemah dengan mata terpejam. Dia segera mendekat. "SeƱoraā¦. SeƱoraā¦. Buka matamuā¦."
"Kauā¦ā¦?" Malia berucap bahkan tanpa suara.
Pelayan itu segera menutup pintu, dia kembali sambil mengeluarkan botol air yang dia sembunyikan di dalam perutnya. "Minum ini, SeƱora."
Dibantu oleh pelayan, Malia mencoba duduk dan bersandar di dinding kotor.
"Maaf, SeƱora."
Bagian terburuknya, kakinya yang cacat dirantai hingga Malia tidak bisa berjalan bahkan menggapai pintu.
"Minumlah, SeƱora."
Malia meminumnya
"Makan ini, SeƱora."
Tahu arti tatapan Malia, pelayan itu segera menggeleng. "Tidak, tidak ada racun. Aku jamin dengan nyawaku."
__ADS_1
Dan Malia tahu, pelayan yang kini menyuapinya adalah pelayan yang selalu mengejek, mengumpat dan membencinya. "Kenapa kau lakukan ini?"
"Diam, Nyonya, kau hanya harus makan dan mengembalikan semua kekuatanmu."
"Katakan padaku, kenapa kau lakukan ini, wanita tua?"
Pelayan itu tertawa. "Akhirnya kau membalas ejekanku."
Sambil menerima suapan makanan, Malia kembali bertanya, "Kenapa kau lakukan ini?"
"Karena aku tahu Marc, pria tua kejam itu tidak akan berhenti sampai apa yang diinginkannya tercapai."
"Dia ingin aku dan Papaku mati," ucap Malia dengan suara yang pelan, tenaganya dia habiskan oleh rasa sakit.
"Ya, dan hanya kau yang bisa menghentikan Marc melakukannya."
Malia terkekeh. "Aku tidak bisa melakukannya."
"Kau bisa, lewat SeƱor Norman. Pria itu mencintaimu, SeƱora, itu hanya terhalang oleh kebencian yang diumbarkan oleh SeƱor Marc."
Kekehan Malia semakin keras. "Dia menikahiku karena aku adalah anak Don Van Allejov, dia ingin membalaskan dendamnya."
"Dengarkan aku, SeƱora." Pelayan itu tidak berhenti menyuapi Malia. "Sebelum SeƱora Derullo mati, SeƱor Marc memang sudah berbuat kasar pada SeƱor Norman. Setiap kesalahan anak kecil itu, dia hukum dengan rasa sakit. Dan itu semakin parah saat SeƱora Derullo mati, SeƱor Marc menyiksa cucunya habis-habisan dan menyalahkan dia atas segalanya."
Malia terdiam, air matanya menetes. "Dia tega melakukan ini padaku."
"Rasa cintanya hanya terhalang oleh kebencian yang dikobarkan Marc. Aku melihatnya, SeƱora. Tatapan dari manik abu yang penuh harap akan kebahagiaan, dia menatapmu dengan keinginan yang sangat besar. Yaitu harapan dan kebahagiaan, dia takut kehilanganmu."
Di saat Malia hendak menjawab, pintu tiba-tiba terbuka menampilkan Marc yang ada di sana.
"Oh, pelayan yang nakal, aku menyuruhmu untuk hanya memberinya makan."
"SeƱorā¦. Maafkan akuā¦. Aku tidak bermaksud melakukannyaā¦..," ucap pelayan itu berdiri, dia terlihat sangat ketakutan apalagi saat Marc mengarahkan senjata api padanya.
"Jangan lakukan itu, Marc! Dia hanya kasihan padaku!"
"Dan yang kasihan padamu adalah musuhku."
"Jangan lakukan itu, Marc."
"Aaaa!"
Jeritan kesakitan bersamaan dengan mendaratnya peluru. Membuat pelayan itu jatuh tergeletak tanpa nyawa.
"Hahahaha! Mati kau! Mati kau!"Ā
"Berhenti!"
Marc bahkan tidak berhenti menembak meskipun pelayan itu telah mati.
"Hahahahaha!"
Malia menangis, dia beringsut penuh ketakutan. "Tidakā¦.. Tidakā¦.."
"Ya, Maliaā¦.. Kau akan menyusulā¦.."
---
**Love,
ig : @Alzena2108**
__ADS_1