
Vote sebelum membaca😘
.
.
"Jess! Tidak!"
Malam yang kelam, di sana Malia ditarik oleh segerombolan pria. Begitu pula dengan Jan yang mencoba meronta melepaskan mereka yang menahan. "Lepas!"
Disana mereka berpisah, kepala Malia dikantongi oleh sebuah kantong gelap dan dilemparkan begitu saja ke dalam mobil. Jan di mobil yang lainnya.
Sepanjang perjalanan, Malia ketakutan. Dia menangis sambil mendengar percakapan beberapa orang di sana.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?"
"Menyerahkan wanita ini pada Señor Dennis."
"Aku dengar Marco Valentio masih hidup, benarlah itu?"
"Aku rasa begitu, semua berita masih belum pasti. Sebelumnya aku dengar keturunan Marco Valentio kembali, lalh aku dengar dia masih hidup. Sekarang berita menyebar bahwa Dennis adalah pemimpin sebenarnya, dia yang memegang uang milik El Sinaloa."
"Sebenarnya aku tidak terlalu peduli, selama aku bekerja dan mendapatkan keuntungan dari mereka."
Malia sempat bergerak mencoba kabur, tapi seseorang menahannya. "Diam!"
Malia tidak bisa melihat apapun.
Pria itu berbicara pada Malia. "Aku tidak tahu apa urusanmu dengan Señor Dennis, tapi aku akan mendapatkan uang yang banyak."
Beberapa pria disana tertawa, membuat Malia semakin ketakutan.
Bibir kecilnya bergumam, "Aku mohon lepaskan aku."
"Aku mohon lepaskan aku," pria itu menirukan suara Malia.
Lalu disusul oleh suara tawa menggelegar.
"Kenapa kami harus melepaskanmu? Sementara kami akan mendapatkan emas dan uang yang banyak."
Malia hanya bisa menangis, apalagi ketika dia menyadari mobil berhenti. Dirinya digendong menuju ke sebuah tempat, melewati tempat ramai hingga akhirnya didudukan di sebuah kursi.
Di sanalah kantong yang ada di kepala Malia dibuka. Malia terkejut melihat Dennis di sana, pasalnya dia tahu Dennis mati. Sebagaimana Norman memberitahunya.
"Dennis?"
"Terkejut? Aku belum mati jika itu yang kau inginkan."
"Lepaskan aku."
"Tidak akan pernah," ucap Dennis lalu tertawa keras. Dia menahan Malia agar tidak banyak bergerak sebelum akhirnya mengikat dengan tali. "Diamlah."
"Lepaskan aku, aku mohon."
Dennis terkekeh. "Kau masih menawan dengan penampilan seperti itu."
Malia meneteskan air matanya, apalagi saat pintu terbuka dan Marc masuk.
"Marc?"
__ADS_1
"Kau terkejut? Dia masih akan tetap mencuci otak cucunya."
"Berhenti menyakiti Norman, Marc."
Marc dengan senyuman iblisnya mengisyaratkan agar Dennis keluar, meninggalkannya dengan Malia yang terikat. "Holla, Malia. Aku merindukanmu."
"Pergi kau!"
"Jangan membenciku, ini semua bukan salahmu, tapi semua salah Papamu."
"Berhenti mengatakannya, kau jahat." Malia meneteskan air matanya.
"Tenang saja, Malia. Jika kau pikir aku akan menyakitimu, kau salah. Aku akan memancing Norman untuk datang sehingga aku bisa mengembalikan dia seperti sebelumnya."
"Hentikan. Dia tersakiti karenamu, dia penuh kesakitan, masa kecilnya suram."
"Diam," ucap Marc penuh penekanan. "Aku membentuk karakternya dengan baik."
"Kau meracuninya, dia tersakiti. Kau jahat."
"Aku orang baik!" Marc menatap tajam. "Aku orang baik yang ingin terbaik untuk cucunya."
Malia menggeleng. "Kau menyakitinya dengan dalam. Kau harus menyadarinya, dia tidak ingin bersamamu lagi. Aku mohon lepaskan aku, dan aku akan memintanya memaafkanmu. Kalian bisa memulai dengan awal yang baik."
Tanpa diduga, Marc tertawa keras. "Teruslah berkata, aku tidak mendengar."
Dia berbalik meninggalkan Malia seorang diri, tanpa mendengarkan semua teriakan perempuan itu.
Marc menemui Dennis yang menunggunya diluar.
"Bagaimana Señor Marc?"
"Kau akan mendapatkannya, jika kau memberiku uang itu."
"Kau akan mendapatkan El Sinaloa, jika aku mendapatkan Norman."
***
Seorang pria membaringkan tubuh Jess pelan, mencoba mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuh Jess.
"Malang sekali, sebenarnya kau kenapa?"
Jess berbalut kaos yang berdarah, bibirnya pucat dan matanya terpejam. Jess demam tinggi, membuat pria itu segera melakukan sesuatu dengan luka yang ada di tubuhnya. "Bertahanlah, kau akan selamat."
Pria bernama Yoseph itu melakukannya dengan perlahan, melakukannya dengan alat seadanya.
Mereka berada di pom bensin yang sudah lama ditinggalkan, di depan sanalah kejadian itu terjadi. Yoseph tinggal di sana sudah lama, dia bersembunyi dan anti sosial. Tidak punya keluarga, tapi dia melihat banyak kejadian sejak berada di sana.
"Aku akan menyiapkan makanan untukmu."
Di bekas pom bensin yang ditinggalkan itu ada juga minimarket yang ditinggalkan, di sanalah Yoseph berdiam. Menyulap beberapa bagian menjadi kamar dan rumah. Sesekali dia keluar untuk membeli makanan, karena Yoseph bekerja di depan komputer, meng-hack rekening orang untuk mendapatkan uang.
"Aku tidak menemukanmu," ucap Yoseph saat melihat layar komputer. "Aku meretas komputer kepolisian Guererro, kau tidak terdaftar di sana."
Saat Yoseph pergi ke toilet, saat itulah Jess membuka matanya.
Kata pertama yang dia ucapkan adalah, "Akan aku cari kau Dennis."
Mendengar suara langkah, Jess merancang senjata dari benda di sekitarnya. Dia membuat tombak dari kayu panjang dengan mata tombak pisau yang dia ikat.
__ADS_1
Ketika Yoseph masuk, dia ditodong oleh benda tajam itu. "Hei!"
"Siapa kau? Apa yang kau lakukan?"
"Seharusnya kau tidak berdiri, kau masih belum pulih."
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku tahu kau orang yang waspada, aku yakin kau juga tahu aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku menolongmu, aku mengobatimu, kau bisa melihatnya."
Jess melihat tubuhnya, rasa sakit di beberapa titik membuatnya menjatuhkan benda itu.
"Akh!" Jess tertunduk di lantai akibat rasa sakit yang tidak tertahan.
"Kau tidak apa? Duduklah dulu."
"Siapa kau?"
"Aku Yoseph, aku tidak berbahaya." Yoseph mengambil teh hangat. "Minum ini."
"Kau tinggal di sini?"
"Seperti yang kau lihat."
Keterdiaman Jess membuat Yoseph bertanya. "Kau terlibat dengan El Sinaloa?"
"Bagaimana kau tahu tentang mereka?"
"Aku tahu cukup banyak."
Seketika Jess menodongkan kembali senjatanya. "Katakan."
Yoseph mengangkat kedua tangannya seketika. "Aku meretas sesuatu yang membuatku penasaran. Aku cukup tahu tentang El Sinaloa, tapi berhenti mengikuti perkembangan mereka saat aku tahu akun bank mereka sulit sekali dipecahkan."
"Kau tahu apa yang mereka lakukan saat ini?"
Yoseph menggeleng.
"Mereka mengendalikan kepolisian untuk mencari seorang wanita."
"Ah, wanita yang dibawa? Berdua?"
"Ya, aku ingin pencarian tentang mereka berakhir."
Yoseph menelan ludahnya kasar saat Jess menodong semakin dekat. "Bisa aku lakukan."
"Kau bisa masuk dalam satelit?"
Yoseph mengangguk. "Aku pernah masuk pada milik El Sinaloa."
"Bagus, cari pria bernama Enrique Norman Derullo
Beri sinyal padanya untuk datang ke sini."
Yoseph mengangguk, membuat Jess tersenyum dalam rasa sakitnya. "Akhirnya aku menemukan orang yang berguna."
---
**Love,
__ADS_1
ig : @Alzena2108**