
Vote sebelum membaca😘
.
.
Dennis tertawa sepanjang jalan mendengar cerita dalam radio. Hingga tawanya hilang saat rasa heran mulai menghampiri, tidak ada yang berjaga. Semakin sepi, tidak ada mata yang mengawasi lagi. Dennis segera menghubungi Dania. Dan saat wanita itu tidak mengangkatnya, Dennis semakin panik.
"Apa yang sedang kau lakukan, Dania?"
Tidak adanya jawaban membuat Dennis memgendarai mobil lebih cepat, dia menaikan kecepatan. Dan matanya membulat saat melihat mayat di mana-mana, pikirannya melayang pada hal yang terburuk. Dennis tahu Norman sudah keluar.
"Shit," gumamnya saat mansion berubah menjadi lautan mayat. Dennis berlari ke lantai dua.
"Dania? Dania?!"
Pantas saja wanita itu tidak menjawab telpon sejak semalam, sampai sore ini tidak ada kabar.
"Norman," gumam Dennis kesal saat melihat ranjang yang terbuka. Ada kunci di sana, yang menjelaskan bahwa ada yang membantunya keluar.
Tidak berhenti mencari, Dennis menjelajahi setiap sudut ruangan. "Dania!"
Tidak ada jawaban di sana, Dennis kembali memanggil. "Dania!"
Tidak ada satupun yang hidup di sini selain dirinya, Dennis mencoba menghubungi Marc, tapi pria tua itu hilang seolah ditelan bumi sejak kematian Don. "Dania!"
Dennis frustasi, dia menjambak rambutnya sendiri. "Tidak, Dania! Kau dimana?"
Dan satu-satunya yang belum Dennis periksa adalah kamar Marc, dia segera pergi ke sana dengan berlari. Benar saja, seseorang yang dia cari ada di sana. "Dania!"
Dennis tampak panik, dia menjatuhkan senjatanya dan bersimpuh di hadapan Dannia. Memeluknya dan membiarkan tubuh lemah Dania tertidur di pangkuannya. "Dania, no…..," ucap Dennis bersimbuh air mata.
"Dania buka matamu, Dania….."
Wanita itu telah pergi jauh, hanya tubuhnya yang berada di sini. Dennis geram, dia berteriak kasar dan melempar segala benda yang ada di sekitarnya.
"Dania, tidak," ucapnya kini melemah. "Jangan tinggalkan aku, Dania."
Dennis terlihat sangat terpukul, dia memeluk Dania erat dan menciumnya. Menjelaskan bahwa Dennis menyayangi wanita itu, dia menyimpan perasaannya diam-diam.
__ADS_1
Dan kali ini, untuk sesaat Dennis menyingkirkan ambisi dan kemarahannya. Dennis tahu dia tidak bisa membawa Dania ke gereja, dan dia melakukan ini sebagai bentuk kasih sayangnya. Dia menggendong Dania ke lantai dua, menidurkannya di atas ranjang dan membersihkan darah serta mengganti bajunya dengan yang lebih cantik.
Sebuah gaun merah menghiasi, juga dengan hiasan jepit rambut untuk Dania.Â
"Damailah di sana, Dania," ucapnya menyisipkan anak rambut Dania.
Dennis bahkan mendandani Dania, membuat bibirnya yang pucat kembali merah merona. Cantik seperti saat mereka pertama bertemu, jemari lentik Dennis menyentuh garis pipi Dania dengan pelan. "Damai di sana, Sayangku."
Dia membawa Dania keluar mansion, menggendongnya dengan sepenuh hati dengan air mata yang terus berjatuhan.
Dennis menidurkan Dania di tengah hutan, dia menghiasi sekitarnya dengan kuncup bunga dandelion. "Berdamailah di sini, kembali pada alam dan melangkah mengikuti cahaya."
Memberikan kecupan cukup lama pada kening Dania. Matahari terbenam menjadi saksi bisu bagaimana kedua manusia itu berpisah. Terlepas dari dunia yang berbeda, Dennis tetap pada perasaannya. Dia menggenggam kuat tangan Dania. "Akan aku balas dia, Sayang. Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja."
Dennis mengadah menatap langit. "Akan aku balas mereka, sampai tetes darah penghabisan."
Menuju kembali ke mansion, Dennis menyeka air matanya sambil menelpon seseorang. "Datang ke mansion dan bereskan mayat, dan percepat acara pelelangan. Aku sendiri yang akan turun."
****
"Jangan sampai orang ini masuk," ucap Dennis menyerahkan foto Norman pada salah satu pria yang berdiri di depannya. "Dia adalah musuh El Sinaloa."
"Baik, Señor."Â
Dari sana, ada cermin dua arah. Di mana para pembeli tidak bisa melihatnya, tapi Dennis bisa melihat mereka sudah tidak sabar untuk mengajukan harga tertinggi.Â
Di tempat Dennis yang lebih tinggi dari para pembeli, ada sebuah pintu. Di mana para wanita akan masuk ke sana, tepatnya ke sebuah tabung kaca, di mana para pembeli bisa melihatnya dengan jelas.
"Semuanya sudah siap?" Dennis bertanya pada pria yang ada di belakangnya.Â
"Lima menit lagi, Señor."
"Pastikan Malia menjadi yang pertama."
"Dia yang terbaik, Señor, aku menyimpannya di bagian belakang."
"Tidak!" Teriak Dennis kasar. "Yang kedua, biarkan dia yang kedua."
Pria itu menarik napas, dia keluar sebentar untuk membawa wanita yang pertama.
__ADS_1
Seluruh lampu dipadamkan sejenak, dimana Dennis lalu berkata, "Selamat malam, Tuan-tuan. Ini malam yang indah di Acapulco. Kekuatan El Sinaloa tidak akan pernah padam, tundukkan diri kalian di Meksiko. Ini adalah rumah kartel El Sinaloa, maka takutlah."
Lampu kembali menyala saat wanita sudah di dalam tabung.
Untuk selanjutnya, semua diambil alih oleh operator komputer yang menerangkan. "Seorang wanita dari Brazil, berusia 24 tahun. Bisa bahasa Inggris dan Spanyol. Harga dimulai dari 25000 dollar Amerika."
Dan setelah selesai disebutkan, para pembeli yang duduk melingkari tabung mulai menekan tombol di sampingnya. Setiap mereka menekan, semakin tinggi harga wanita yang ditawarkan.Â
Hingga akhirnya tidak ada yang berani berkata saat penawaran tertinggi keluar.
"Terjual dengan harga 170000 dollar oleh nomor 18."
Dennis terkekeh. Saat lampu padam, wanita di dalam tabung digantikan oleh Malia yang digendong lalu didudukan di tengah tabung kaca.
Operator kembali menjelaskan, "Wanita kedua masih pure dengan usia 26 tahun, berkebangsaan Spanyol, bisa bahasa Inggris dan Spanyol. Kaki kiri tidak bisa bergerak. Penawaran dimulai dari 450000 dollar."
Mengetahui keadaan Malia yang masih Pure, banyak pria yang menekan tombol mereka. Tidak ingin kehilangan Malia bahkan untuk satu detik saja.Â
Namun, saat Norman tersenyum melihat penawaran yang semakin tinggi, tiba-tiba sebuah pistol menodongnya di kepala.
"Biarkan mereka tahu wanita itu telah dibeli."
"Norman?" Dennis menegang, dia baru sadar orang-orang disekitarnya sudah lumpuh entah bagaimana.
"Lakukan!"
Seketika Dennis mengaktifkan microfonnya, dia berdehem. "Maaf, Tuan-tuan. Ada kesalahan teknis, wanita ini sudah dibeli oleh seorang pengusaha Acapulco. Maaf, Tuan."
Seketika lampu padam, membuat para pembeli kecewa.
"Suruh mereka untuk membawa Malia ke apartemen di dekat bandara, Bride Lotus no.28."
Dennis yang masih ditodong senjata menelpon orang lain dan mengatakan apa yang disuruh Norman.
Dan sebelum pria suruhannya datang, Norman menarik pelatuknya. Membiarkan Dennis dihujani peluru.
"Dua," gumama Norman. "Satu lagi," ucapnya dengan suara yang datar.Â
----
__ADS_1
**Love,
ig : @Alzena2108**