Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 25


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘😘😘


.


.


Norman hanya diam menunduk.


"Ibumu dibunuh! Kau tahu itu bukan?"


Dengan suara tercekat, Norman mengangguk. Mulutnya bungkam, menahan rasa sakit dan teriakan yang ingin dia lepaskan.


"Ibumu mati karena Don Van Allejov!"


"Mama……," rintih Norman limbung, dia menangis dengan memegang lehernya, seolah ada sesuatu yang mencekik. Wajahnya merah, layaknya terbakar sinar matahari. Trauma itu kembali menyerangnya. "Mama…."


"Ya, panggil Mamamu yang kini menangis karena anaknya tidak dapat diandalkan! Kau bukan anak yang baik, Norman!"


"Tidak, aku anak yang baik," ucapnya memejamkan mata.


Pria itu tertawa. Marc duduk di kursi tepat di depan Norman, dia menarik napasnya panjang sambil menatap Norman yang terbaring lemah. Marc kembali tertawa, mengingatkannya akan anak kecil yang juga melakukan hal yang sama.


"Apa kau anak baik, Norman?"


"Aku anak yang baik, Kakek."


"Siapa yang kau benci, Norman?"


"Van Allejov."


Marc mengangguk sambil tersenyum. "Balas mereka secara perlahan, Norman."


"Malia tidak berbuat kesalahan."


Tangan Marc mengepal mendengar Norman mengatakan nama perempuan itu seolah mengasihi.


"Kau yang membuat ibumu mati!"


"Tidak, bukan aku, Mama. Bukan aku yang melakukannya."


"Kau yang melakukannya." Marc kembali duduk. "Kau membuatnya menangis karena tidak membalaskan dendamnya."


"Maaf, maaf, maafkan Norman, mama."

__ADS_1


"Balas Malia secara perlahan, sakiti perasaannya sampai dia membuat kesalahan dan aku sendiri yang turun tangan. Mengerti?"


"Sí, aku mengerti, Kakek."


Marc mengusap wajahnya, dia berdehem menetralkan suaranya. "Jika aku mendengar kau memperlakukannya dengan penuh kasih, akan aku bunuh kau juga."


Kini Norman menatap Marc, dengan tatapan datar.


Marc tertawa. "Apa? Kau ingin membunuhku sebelum aku membunuhmu? Kau tidak punya alasan membunuhku, Norman. Kau tahu aku melakukan hal yang benar, untuk anakku atau wanita itu kau sebut Mama."


"Aku mengerti, Kakek."


"Pergi sekarang, aku perlu istirahat."


"Sí."


Norman mengambil kemejanya dan berjalan gontai keluar dari kamar Marc. Darah dan keringat bercampur, Norman menunduk menatap tubuhnya yang dipenuhi luka.


Dan pilihan membawanya keluar dari mansion, mengendarai mobil menjauh dari sana.


Diperjalanan, Norman menelpon. "Dania, kau di mana?"


'Aku sedang bersiap-siap akan bekerja di bar.'


***


Dania tersenyum tanpa henti, dia menatap pantulan dirinya di cermin. Menggunakan lingerie hitam dengan rambut yang diikat. Siap menyambut kekasihnya yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama Malia akhir-akhir ini.


Tidak membutuhkan lagi permen, Dania akan mengendalikan langsung Norman dengan tangannya.


Dan saat dia mendengar suara pintu terbuka, Dania segera berlari kecil. Wajahnya terkejut melihat Norman yang datang dengan penuh luka.


"Norman?"


"Jangan banyak bicara, obati aku," ucap Norman tidur tengkurap di ranjang.


Dania segera mengambil peralatan obat, keningnya berkerut melihat banyaknya darah.


Ranjang bergerak saat Dania ikut masuk. "Apa tidak sebaiknya kita pergi ke dokter?"


"Tidak ada waktu," ucap Norman memejamkan matanya. "Lakukan saja."


"Baiklah." Dania mulai membersihkan luka Norman, membuat pria itu mengerang menahan sakit.

__ADS_1


Setebal apapun tatto yang ada di tubuhnya, tidak bisa menghalangi rasa sakit ini. Setiap luka jahitan memiliki kisah, yang selalu membuat Dania bertanya-tanya. Kini dia melihat sendiri bagaimana luka itu terjadi, dan semua itu karena dirinya.


Dania tersenyum miring. "Sesuatu terjadi?"


"Diam dan biarkan aku tidur, Dania."


Dania melakukannya, dia mengobati punggung yang tidak pernah dia sentuh sama sekali. Banyak bekas jahitan di sana, masa kecil Norman mengerikan dan tidak pantas untuk diingat. 


Ketika jemari lentik Dania menyentuh punggung Norman, pria itu membuka mata. "Jangan sentuh itu."


"Aku rasa aku sudah mengobatimu, aku pantas menyentuhnya."


"Aku bilang jangan melakukannya."


Perkataan Norman penuh penekanan, membuat Dania turun dari ranjang dan meninggalkan pria itu seorang diri. Dia menggunakan cardigan untuk menahan dingin saat keluar dan berdiam diri di balkon.


Mengapit benda di jarinya, Dania merokok sambil menelpon. "Holla, Dennis, aku tidak akan bekerja. Norman ada di sini."


'Wow, apa yang kau pikir Marc lakukan hingga Norman langsung berbalik kembali kepadamu?'


Dania menatap pria itu dari luar, siksaan itu hanya dirinya yang harus tahu. "Aku tidak tahu, tapi Norman kini ada di sini. Jangan menggangguku."


'Ingat janjimu.'


"Apa yang kau inginkan? Lagipula kau tidak banyak membantu saat itu, aku datang sendiri menemui Marco Valentio."


'Kau bercanda? Aku selalu ada saat kau butuhkan, kau yang menginginkan ini.'


Dania menghirup rokoknya dalam, menghembuskannya ke udara hingga bercampur dan tidak terlihat. "Apa yang ku inginkan, Sialan?"


'Tunggu sampai waktunya tiba,' ucap Dennis mematikan telpon.


Dania tidak bisa berhenti mengumpat, diyakininya Dennis akan menginginkan hal yang berbahaya.


Namun, untuk saat ini, Dania memilih merasakan belaian angin malam. Tidak sedingin malam sebelumnya, hatinya tenang mengingat Norman ada dan bersamanya. Ketenangan dia dapatkan di apartemen tengah kota yang bising, hati yang melakukannya.


"Aku tidak akan melepaskanmu bersama wanita lain, Norman. Akan aku lakukan apapun untuk bersamaku, meskipun aku akan terus mendapat pukulan," janjinya pada pria yang terbaring lemah. "Takkan aku biarkan kau terbuai dengan kebaikan Malia."


----


**Love,


ig : @Alzena2108**

__ADS_1


__ADS_2