Bloody Marriage

Bloody Marriage
The Bride 14


__ADS_3

Vote sebelum membaca,😘


Guererro, Meksiko.


Malia menatap sekitar, bandara yang luas dan sangat megah. Untuk sesaat, Malia duduk sebentar di kursi untuk melihat peta. Namun, entah mengapa dia merasa tidak membutuhkannya. Bahkan Malia merasa tidak asing dengan sekitarnya. Bandara yang luas ini membuatnya ingin berdiam diri sejenak, untuk menerka apa yang ada dalam pikirannya, mencoba menggapai suatu ingatan yang masih menjadi tanda tanya.


"Permisi…"


"Ah, iya," ucap Malia pada wanita tua yang mendekat. "Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"


"Anakku akan datang dan mencariku, anak ini tidak boleh dilihat olehnya."


"Apa maksud anda?" tanya Malia dengan wajah yang ramah.


"Ini adalah anak kakaknya, anakku yang di sini membencinya. Dia tidak boleh melihatku datang bersamanya. Dia akan pergi ke Rusia, jadi tolong jaga dia sampai anakku pergi."


Malia diam, kenapa wanita itu percaya padanya.


"Aku rasa kau orang yang baik. Aku tidak bisa percaya siapa pun."


"Aku mengerti, Nyonya. Anda bisa menitipkannya bersamaku."


"Terima kasih."


Wanita tua itu pergi, meninggalkan anak kecil dengan jaket hitam. Anak laki laki itu umurnya kisaran enam tahunan. Dan dia terlihat pendiam.


"Hei, kau mau duduk di sini? Aku punya cokelat, apa kau mau?"


Anak itu menggeleng. Membuat Malia tidak kehilangan akal, dia mendudukannya di sampingnya. "Hallo, namaku Malia Van Allejov. Kau bisa memanggilku Malia, siapa namamu?"


Anak itu diam kembali.


"Tidak apa, aku tidak akan meninggalkanmu. Sampai nenekmu kembali, ayo berteman denganku. Oke?" Malia tersenyum memperlihatkan giginya yang begitu rapi.


Hingga akhirnya anak itu berbicara. "Kau tidak bisa berteman dengan seseorang yang tidak kau kenal."


"Ouh, maafkan aku, tapi kau yang tidak ingin memperkanalkan diri. Apa kau tidak ingin berteman denganku?"


Anak itu menggeleng untuk menolak semua dugaan.


"Kalau begitu beritahu aku, siapa namamu?"


"Aku Kai."


"Kai? Just Kai?"


Anak itu mengangguk. 


"Oke, Kai. Kau lapar? Ingin cokelat? Aku memilikinya."


Kai menggeleng, dia berdiri dari duduknya.


"Huh, kau mau ke mana?"


"Toilet."


"Ayo aku antar," ucap Malia mengambil kopernya. Tangannya yang lain menggandeng tangan Kai menuju toilet.


Tanpa melihat arahan tanda, Malia melangkah seolah tahu di mana toilet pria sesuai keinginan anak itu. 


"Aku bisa sendiri," ucap Kai saat berada di depan pintu.


"Baiklah, aku akan menunggu di sini."


Kai mengangguk dan masuk.

__ADS_1


"Tunggu, Kai! Toilet itu rusak."


Kai mendorongnya. "Tidak rusak."


Kemudian anak itu masuk.


Dan petugas keamanan yang mendengar perkataan Malia itu mendekat. "Apa ada yang rusak, Nyonya?"


Petugas itu mengira Malia adalah ibu dari Kai.


"Bukankah toilet sebelah sana rusak akibat tembakan?"


"Ah, itu kejadian satu tahun yang lalu, Nyonya. Sekarang sudah diperbaiki."


Malia termenung sampai petugas itu kembali menjalankan tugas. Dia diam di sana, dan bagaimana dirinya tahu semua itu?


"Malia," ucap Kai yang selesai dari sana.


"Oh, kau sudah selesai. Ayo kembali."


"Toiletnya tidak rusak."


"Itu rusak satu tahun yang lalu," gumam Malia sambil menggandeng tangan Kai.


****


Lama Malia menunggu kedatangan wanita tua yang menjadi nenek dari Kai. Membuatnya menguap lebar. Sampai Malia melihat wanita itu datang mendekat, dia tersenyum. "Kai, nenekmu datang."


Kai melihat ke arah yang sama.


"Nona maafkan aku, bisa aku titipkan padamu sampai malam ini? Anakku menunda keberangkatannya. Aku mohon, bantu aku."


Malia melihat keseriusan di wajah wanita tua itu, dia mengangguk pelan. 


"Tuhanku, terima kasih. Boleh aku meminta alamat penginapanmu?"


"Terima kasih,"  ucap wanita itu lalu bergegas pergi.


Malia menatap Kai. "Kau tidak keberatan tinggal bersamaku?"


"Apa aku akan mendapatkan makan malam?"


Malia tertawa, dia mencubit pipi Kai. "Ayo pergi."


Keduanya menaiki taksi. Anak kecil itu lebih banyak melihat keluar jendela. Pengalaman pertama untuk Malia datang ke Guererro, dirinya menjadi tempat penitipan.


Namun, tidak keberatan selama itu anak anak. Karena Malia sangat menyukainya.


"Permisi, tolong pergi ke alamat ini," ucap Malia memberikan sebuah alamat pada supir taksi.


"Ini sebuah padang."


"Ya, aku ingin ke sana."


Supir taksi itu berhenti bertanya.


"Kita akan ke mana, Malia?"


"Pergi ke suatu tempat, tenang saja, aku tidak akan melakukan apa pun, Kai. Kau ingin membeli manisan dulu?"


Anak itu mengangguk, sehingga mereka berhenti sesaat di pinggir jalan untuk membeli manisan. Malia ingin tahu apa yang terjadi dengan keluarga Kai, tapi anak itu sepertinya belum pantas mendapatkan beban.


"Apakah enak?"


Kai mengangguk lagi.

__ADS_1


"Malia…."


"Ya?"


Mereka bertatapan sesaat.


"Ada apa, Kai?"


"Kau ingin mengingat apa yang terjadi satu tahun yang kau lupakan?"


Malia menegang, bagaimana anak ini tahu tentang dirinya. Bahkan Malia tidak mengatakan apa pun kecuali nama dan perhatian pada anak kecil di depannya.


****


"Berikan aku rose putih."


"Seperti biasa, Señor?"


Norman mengangguk dan menerimanya dari pedagang di sana.


"Gracias."


"Kembaliannya, Señor."


"Untuk makan malammu."


"Gracias, Señor."


Norman kembali berkendara menuju tempat Don Van Allejov dimakamkan. Seolah menjadi rutinitas, Norman akan pergi setiap ada waktu.


Dia melonggarkan dasinya merasa sesak.


Sampai telpon datang, Norman mengangkatnya.


"Hallo?"


"Hallo, Enrique. Ini aku."


"Sabrina, aku bilang jangan hubungi aku dulu."


"Kau belum menjawab tawaranku. Ayolah, ini hanya kebohongan semata, aku perlu orang kuat agar agar orangtuaku berhenti menjodohkanku."


Norman diam, dia masih belum melihat keuntungan baginya jika skenario itu dia terima.


"Enrique!"


"Akan aku hubungi dirimu lagi nanti."


Norman melepaskan earpiece di telinganya. Dia berkendara dengan cepat menuju pemakaman Don.


Hingga sampai di sana, Norman menggenggam sebuah bunga. Dia melangkah melewati pepohonan dan rumput hijau yang mulai tinggi.


Kakinya berhenti di depan nisan, dia menatap dalam nama yang terukir di sana.


"Hallo, Don. Aku datang untuk memberimu ini," ucap Don meletakan bunga di sana. "Jangan khawatir, Malia baik baik saja. Dia akan segera memiliki kehidupan yang kau inginkan. Dia bersama pria yang baik, dan sangat mencintainya. Aku juga akan berhenti mematai kehidupan putrimu begitu dia menikah."


Lama Norman berdiri di sana, sapuan angin membelai rambutnya. 


Pria itu menarik napas dalam, sampai sebuah suara yang sangat dia dambakan mengatakan, "Permisi, apa kau mengenal ayahku?"


Norman menegang, dia membalikan badannya. Dan alangkah terkejutnya dia melihat sosok yang selama ini dia hindari selama ini. Dia berdiri di depannya, masih dengan wajah cantik dan senyuman penuh kebingungan. Keceriaan terlihat di matanya.


"Maaf, kenapa kau memandangku seperti itu?" tanya Malia masih dengan senyum ramahnya.


---

__ADS_1


Love,


Ig : @Alzena2108


__ADS_2