
Vote sebelum membaca😘
.
.
Jess yang semakin menggigil karena luka-lukanya membuat Yoseph ketakutan. Matahari belum terbit, dan dia tahu obat yang dibawanya tidak akan menyembuhkan.
Saat merasakan tubuhnya terangkat, Jess membuka matanya. "Apa yang sedang kau lakukan?"
"Aku akan membawamu ke rumah sakit," ucap Yoseph menyelimuti wanita berkepala plontos itu dengan selimut tebal. "Bertahanlah."
"Turunkan aku."
"Aku akan mengobatimu, menolongmu."
"Bawa laptopnya, Bodoh. Untuk mengawasi," ucap Jess saat dia didudukan di dalam mobil bak.Â
Yoseph segera melesat ke dalam bangunan tua yang sudah menjadi rumahnya, mengambil barang berharganya dan membawa Jess menuju rumah sakit.
"Kau tidak akan pingsan bertemh orang-orang?" Jess yang menggigil mengejek.
Membuat Yoseph tertawa. "Ini semua aku lakukan demi dirimu, wanita aneh."
Untuk selanjutnya, hanya ada keheningan. Dini hari yang mencekam, Jess belum tahu bagaimana kabar dan keadaan saudarinya di sana. Namun, tubuhnya benar-benar tidak bisa bertahan. Rasa sakitnya sungguh luar biasa.
"Lihat perkembangan Norman."
"Aku tidak bisa melakukannya, kau sakit."
Tidak lama, akhirnya mereka sampai di rumah sakit yang buka 24 jam. Yoseph menggendong Jess dan membawanya ke dalam.
"Tolong dia, selamatkan dia." Meletakannya dalam ke atas ranjang dorong. "Tolong dia."
"Tolong tunggu sebentar."
Yoseph seorang pria berambut pirang itu menunggu Jess di ruang tunggu, dengan matanya sesekali menatap sekeliling.Â
"Tuan, anda wali dari wanita yang tertembak tadi?"
Yoseph mengangguk.
"Tolong isi formulirnya di sebelah sana."
Terpaksa Yoseph melakukannya. Karena terlalu banyak orang di sini, membuat Yoseph memilih pergi ke tempat sepi setelah selesai, dia membuka laptopnya.
Memeriksa keadaan Norman. Namun, pusat El Sinaloa sulit diretas. Membuat Yoseph memilih mencari-cari hal lainnya.
Sampai seorang perawat kembali menemuinya. "Tuan, Nona Jess sudah dipindahkan ke ruangan AG.4, anda diperbolehkan menemuinya."
"Gracias," ucap Yoseph langsung pergi ke sana dengan terburu-buru.
Menunduk enggan menatap orang lain kecuali Jess yang kini mulai membaik.
"Kau baik-baik saja?"
__ADS_1
"Bagaimana perkembangan Norman?"
Dia duduk di dekat Jess. "Dia berhasil masuk ke dalam tambang Campo Morado, tapi aku tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalamnya. Fasilitasku terbatas, aku butuh sesuatu yang lebih dengan jarak yang dekat."
Jess mengambil napas dalam. "Tolong cari sesuatu yang berguna."
"Baiklah."
Sambil menunggu matahari terbit, Yoseph mencari sesuatu yang berguna untuk Jess. Sampai dia menemukan, "Aku menemukan seseorang yang sedang mencari keberadaan Norman."
"Siapa?"
"Aku rasa badan keamanan dan seseorang yang tidak aku kenal."
"Kenali mereka."
"Sistem mereka kuat."
"Kau lebih kuat."
Mendapatkan pujian itu, Yoseph tersenyum. "Aku tidak tahu, tapi berasal dari pelabuhan."
Jess tahu siapa itu. "Bisa kau mengirimi mereka pesan?"
Yoseph mengangguk.
"Beritahu mereka untuk menyiapkan kapal pesiar menuju ke Malibu, beritahu Norman sudah pergi ke Campo Morado."
"Kau tahu siapa mereka?"
Jess mengangguk. "Itu saudara dari Señor Norman."
"Jan, buka matamu. Jan!" Norman berteriak, supaya perempuan di depannya membuka mata.
Para anggota El Sinaloa tidak Norman lepaskan begitu saja, dibantu oleh Frank --tangan kanan Marc-- untuk membereskan mereka semua.
Diancam oleh makhluk yang Norman bawa, Frank melakukan apa yang diinginkan Norman. Menyuntikan mereka semua pelacak, agar Normam tahu apa yang mereka lakukan dan mereka katakan.
"Jan!"
"Señor? Bagimana dengan Marc?"
"Dia masih pingsan, aku perlu tahu dimana Malia. Tidak ada yang tahu kecuali Marc dan Dennis."
"Malia?"
Norman mengangguk. "Dimana istriku?"
"Aku dibawa dari sebuah sumur," ucap Jan dengan suara lemahnya. "Di samping tambang ini."
Norman segera bergegas dengan senapan di tangannya, dia melewati aula yang masih dipenuhi orang-orang yang ketakutan. Terlihat jelas bagaimana mereka ditaklukan oleh alam.
Norman pernah mendengar tentang tempat itu, yang membuatnya bergegas pergi ke sana.
Ada sebuah sumur dengan tangga, membuat Norman pergi menuruninya dengan pelan.
__ADS_1
Matahari belum terbit, dia hanya mengandalkan indra pendengaran dan perabanya. Menelusuri lorong hitam menakutkan, sampai Norman menemukan sebuah pintu.
Dia mencoba membuka pintu terkunci itu.
"Malia!" panggil Norman saat mencoba mendobraknya. "Malia!"
Saat berhasil terbuka, Norman berlari ke arah wanita berambut pendek yang terbaring lemah di atas tanah.
Senapan itu ditinggalkan begitu saja.
"Malia?"
Perlahan manik Malia terbuka. "Norman?"
"Malia Sayang, bertahanlah."
"Tidak," ucap Malia dengan lemah saat Norman hendak melepaskan sesuatu yang mengikat dirinya.
Mata Malia berair, dia mengangkat pakaiannya memperlihatkan bom yang ada di bagian dalamnya. "Pergi, Norman."
Waktu mereka hanya dalam hitungan menit, membuat Norman panik.
Malia yang merebah di atas tangan Norman mengelus pipi suaminya. "Pergi dari sini, kita kehabisan waktu."
"Tidak," ucap Norman dengan air mata berlinang. Dia mencoba melakukan sesuatu, tapi rasa panik membuatnya tidak bisa menghentikan waktu yang terus berjalan mundur.
"Norman. Pergi dari sini. Aku mohon."
Norman menggeleng.
"Pergilah, Norman, lihat cahaya matahari. Tinggalkan aku, kumohon. Pergi ke luar sana."
Air mata Norman menetes di pipi Malia. "Tidak."
"Pergi, kita kehabisan waktu. Lihat cahaya matahari, pergi dari sini." Tangan Malia mencoba menghentikan Norman yang mencoba melepaskan bom dari tubuh Malia. Kenyataannya sia-sia, itu diikat oleh rantau besi yang kuat. "Pergi, Norman!"
"Tidak!"
"Norman!"
"Kita akan pergi bersama!"
"Kita kehabisan waktu!" Malia terisak. "Te lo ruego, déjame. Mira la luz del sol, vive para mÃ, Norman. Sal de aqui (Aku mohon, tinggalkan aku. Lihat cahaya matahari, hidup untukku, Norman. Pergi dari sini.)"
Jemari Norman mengusap pipi istrinya. "Aku sudah melihatnya, kau adalah matahariku."
Malia menangis semakin keras mengetahui Norman enggan pergi dan memilih bersamanya. Apalagi saat Norman memeluknya erat, air mata menghiasi keduanya.Â
"Kau harus pergi! Pergi…... "
"Aku pernah meninggalkanmu sekali, aku tidak akan melakukannya lagi. Aku akan bersamamu, pergi bersamamu. Kita lihat matahari bersama, Malia."
Saat itu, bom waktu terus berjalan mundur. Mereka hanya punya waktu….. Hitungan detik.
---
__ADS_1
**Love,
ig : @Alzena2108**