
Vote sebelum membaca😘
.
.
"Astaga….." Dania menggeliat, dia melihat jam sudah menunjukan pukul enam pagi. Dirinya menguap lebar, merasakan tidur yang nyenyak.
Dania berada di sebuah apartemen sekitar teluk Puerto Del Marqués. Tidak datang ke Kasino, Dania memilih datang pada tempat yang berbahaya, yaitu apartemen yang disewa Dennis.
Kenyataan menyedihkan, Dania mendapatkan apa yang tidak dia dapatkan dari Norman.
"Mau ke mana?"
"Aku harus kembali, Marc akan curiga."
"Pria tua itu tidak akan tahu apa-apa," ucap Dennis memeluk Dania menahannya bergerak. "Dia hanya berbaring di atas ranjang, bukan?"
"Dia sibuk dengan Malia akhir-akhir ini, aku ingin ikut campur dalan kematian Van Allejov."
"Baiklah." Dennis melepaskan pelukan pada Dania, dia memutar tubuh membelakangi.
Dania kesal juga, dia suka mendapat pelukan, rasa hangat dan kelembutan yang tidak dia dapatkan dari Norman. "Dennis…."
"What?"
Lama Dania terdiam, sampai akhirnya dia berdehem. "No….."
Membersihkan diri guna menghilangkan jejak Dennis, tapi kenyataanya kissmark Dennis di dadanya sulit dihilangkan. Dania khawatir Norman akan tahu, mengingat pria itu tidak pernah melakukannya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Dennis saat kembali terbangun dan menadaparti Dania sedang melulurkan sesuatu di dadanya. "Apa itu?"
Dania menatap lewat cermin, Dennis mengucek matanya masih enggan beranjak. "Aku sedang menutupi jejakmu, bodoh."
Dennis terkekeh, beranjak dari tempat tidur. "Norman tidak pernah melakukannya? Dia membuatmu seperti wanita jalang."
"Tutup mulutmu."
"Siapkan sarapan untukku, aku akan pergi ke Acapulco, kita berangkat bersama."
Dania tidak menjawab, tapi dia melakukannya. Setelah selesai berpakaian, Dania membuatkan sosis goreng bersama omelete untuk Dennis. Mengingatkannya akan Norman yang selalu mengabaikannya akhir-akhir ini, bahkan untuk makanan yang dia sukai.
"Dennis, aku menyiapkannya dan akan kembali ke mansion Marc. Makan itu!" Teriak Malia dari balik pintu kamar mandi.
Bukannya jawaban yang Dania dapatkan, justru pintu yang terbuka dengan Dennis yang memperlihatkan tubuh indahnya. "Jauh lebih baik saat basah bukan?"
"Hentikan itu, sial*n! Kita selesai di sini!"
Dennis menahan tangan Dania. "Kau lebih suka saat bersamaku bukan daripada Norman yang memukulmu."
__ADS_1
"Tutup mulutmu."
Kenyataannya, Dania memilih menunggu Dennis untuk sarapan bersama. Semalam bermain bersama, dan harus terbangun sepagi ini.
"Apa yang akan kau lakukan hari ini?"
"Kenapa? Kau menginginkanku lagi?" Goda Dennis yang membuat Dania memutar bola matanya malas. "Kenapa kau sangat mencintai Norman?"
"Karena dia membutuhkan seseorang yang mencintainya dengan tulus, yang rela melakukan apapun untuknya."
"No, Dania, itu bukan cinta. Norman hanya membutuhkanmu. Jika itu cinta, dia takkan memukulmu."
"Itulah sensasinya," ucap Dania menusuk sosis dan melahapnya seketika. Dia memilih mengakhiri percakapan.
"Kau mau ke mana?" Teriak Dennis saat Dania memakai kembali jaketnya. "Kau mau kemana, Dania?"
"Kembali."
"Kita seharusnya bersama."
"No," ucap Dania hendak melewati Dennis, hingga pria itu menahan lengannya. "Lepaskan."
"Bayangkan jika kita menguasai El Sinaloa bersama, tanpa adanya Marc dan Norman. Kita bisa melakukan apapun yang kita inginkan, uang, dan juga penundukan dari mereka yang berjabatan tinggi. Kita memiliki sisi gelap Meksiko."
Dania tertawa sambil memandang meremehkan. "Kau gila."
Wanita itu menelan ludahnya kasar. Sebelum Dennis kembali mengeluarkan kata-kata manis, dia segera menghentakan tangan pria itu. "Hentikan!"
Kenyataanya, pergi dari sana tidak membuat pikiran Dania fokus pada Norman. Dennis memenuhi pikirannya saat ini. Bertanya pada dirinya sendiri, haruskan dia melakukannya bersama Dennis? Daripada menunggu Norman yang tidak pasti. Namun, satu yang membuat Dania kembali pada hati sebelumnya, dia pernah berjanji pada Norman akan membantu balas dendam, dan akan selalu bersamanya.
"Aku akan selalu bersama Norman. Semua yang aku lakukan, hanya untuk Norman, termasuk hal ini."
*****
"Selamat datang, Señor. Ada yang bisa saya bantu?"
"Di mana kakek?"
"Di kamarnya, Señor."
Jawaban itu segera membawa Norman ke kamar sang kakek. Dia mengetuk pintu sebelum masuk ke kamar. Melangkah perlahan sebelum akhirnya duduk di kursi dekat ranjang Marc. Menyentuh tangan sang Kakek mencoba membangunkannya. "Kakek…."
"Kau sudah kembali? Masalah di Guererro selesai?"
"Aku dengar Dennis menandai semua anggota El Sinaloa, mereka membuat tatto jantung yang terbelah di punggung mereka. Kakek, Dennis mengendalikan mereka. El Sinaloa adalah kejahatan keluarga Derullo, kini mereka berada di mana-mana tanpa tahu siapa tuan mereka."
Marc tertawa dengan perlahan membuka matanya. "Mereka tahu siapa tuan mereka, yaitu Dennis."
"Kakek."
__ADS_1
"Kau meninggalkan terlalu lama Meksiko. Saat datang pun, kau tidak menginginkannya."
"Aku mencari apa yang kau inginkan," ucap Norman penuh penekanan. "Kita tidak bisa memberikan El Sinaloa pada orang asing, Kakek. Itu adalah kelompok keluarga, yang kini kenyebar dengan orang asing."
"Norman, aku anggap Dennis sebagai anggota keluarga."
Norman tentu terkejut, dia mendapatkan kesakitan, ancaman dan gertakan dari Marc untuk membals dendam dan menemukan Van Allejov. Dan kini balasannya, El Sinaloa yang pernah tertidur kini dikendalikak orang lain.
"Jika kau ingin El Sinaloa ada padamu, jika kau ingin Dennis aku bunuh…"
"Apa yang harus aku lakukan?"
Marc tersenyum, dia mengeluarkan pisau, senjata api dan tambang dari laci. Benda-benda itu tidak asing untuk Norman.
"Bunuh Malia saat ini juga."
"Tapi…. Don Van Allejov?"
"Dia sudah menerima setiap detik keadaan putrinya, dia akan datang. Dan kita ubah rencana, mari kita berikan kepala tanpa tubuh padanya."
Norman terdiam, menatap benda-benda di tangan Marc. "Pilih yang mana."
Matanya menatap datar, tangannya terangkat memilih senjata api. "Apa yang harus aku lakukan?"
"Lakukan sekarang, Norman. Kau anak baik bukan?"
Dan ketika Marc menepuk pipi Norman, getaran ketakutan itu kembali. Membuat jantungnya berdetak kencang penuh amarah yang dia rasakan saat mengingat keadaan Mamanya, tubuhnya tidak lagi utuh.
"Aku anak baik, Kakek."
Saat itulah Norman keluar kamar, menuju ruang bawah tanah yang dijaga oleh seorang pria. "Pergi, kau tidak perlu berjaga lagi di sini."
Mendengar suara berat Norman, pria itu mundur. Membiarkan Norman masuk, membuka pintu lain di dalam sana.
Ada mayat seorang pelayan di samping Malia yang tidur sambil duduk. Dia tetap bernapas dengan keadaan tubuh yang lelah.
Membangunkannya, menyebabkan manik cokelat Malia terbuka, sempurna, menatap pria yang berdiri di depannya.
Malia tidak memiliki tenaga, seluruh hidupnya dia gantungkan pada Tuhan. "Norman….?"
Norman berjongkok di depan Malia.
Manik cokelat itu tidak memperlihatkan sedikit saja ketakutan. Hanya ada tatapan teduh seperti sebelumnya, Malia bahkan berkata dengan lembut, "Bunuh aku, dan hiduplah dengan bahagia, hiduplah dengan penuh damai bersama Tuhan, Norman."
----
**Love,
ig : @Alzena2108**
__ADS_1