Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 75


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘


.


.


"Jess?"


Wanita itu berbalik saat melihat Jan kembali tersadar. "Apa kau baik-baik saja?"


Jess bertanya demikian karena Jan terlihat berkeringat dan bangun dalam tidurnya. "Ada apa?"


"Aku bermimpi buruk."


"Tidak apa, itu hanya mimpi."


Jan yang ketakutan memeluk Jess erat, memejamkan matanya sambil meneteskan air mata. Begitu berat untuknya melewati semua ini. Pengalaman yang membawanya pada suatu hal yang mengerikan. "Aku takut, Jess."


"Tidak apa, itu hanya mimpi. Kau aman sekarang, kau aman."


Saat Jan menjauhkan wajahnya, dia melihat jelas bagaimana tubuh Jess masih dibalut luka. "Maaf aku mengecewakanmu."


"Hei, ini sudah berakhir. Sudah, Jan."


"Malia?"


Saat pelukan terlepas, Jess menggeleng menandakan atas jawaban. Dan hal itu membuat Jan semakin meneteskan airmatanya deras. Jan menyesal dia tidak bisa berbuat banyak untuk Malia, untuk semua lukanya. "Aku menyesal tidak bisa melindunginya, Jess."


"Lo hiciste, Jan. Malia sobrevivió, todos sobrevivimos. Estan muertos. (Kau berhasil melakukannya, Jan. Malia selamat, kita semua selamat. Mereka sudah mati.)"


"Tapi Malia tidak sadarkan diri."


"Dia akan membuka matanya lagi."


Jess menyeka air mata saudarinya, membuat Jan sedikit tenang dengan pelukan dan perhatian saudarinya. "Sudah, jangan menangis lagi."


"Aku ingin menemui Malia."


"Dia sedang bersama dengan Norman."


Jan terdiam, dia menyandar pada tembok. "Apa Norman baik-baik saja?"


Jess mengangguk. "Istirahatlah. Kau ingin makan sesuatu?"


"Boleh aku mendapatkan teh hangat?"


Jess mengangguk. "Tunggu di sini."


Jan melakukannya, dia menanti sementara Jess keluar. Saat melangkah menuju bagian dapur, Jess melihat Yoseph yang masih memainkan komputer. Jess mendekat tanpa suara, dia melihat dari arah belakang apa yang sedang dilakukan pria itu.


"Bagus, lebih baik kau melakukannya."


Yoseph menoleh. "Aku melakukannya hanya untukmu, aku takut kau terluka."


"Diam kau! Beraninya mengatakan itu."


"Bagaimana kondisi adikmu?"


"Jangan menemuinya, dia alergi pria bodoh sepertimu."


"Soy estupido? Hice esta nave como un sigilo indetectable. (Aku bodoh? Aku membuat kapal ini seperti siluman tidak terdeteksi apapun.)"


"Terserah," ucap Jess menjauh dan menuju ke arah dapur. "Permisi, bisa kau buatkan teh hangat dan antarkan ke kamarku?"

__ADS_1


"Baik, Nona."


Saat berbalik langkah, Jess melihat kamar Malia dan Norman tertutup. Yang mana membuat Jess bertanya pada pelayan yang bekerja di sana. "Permisi, apakah Norman keluar kamarnya?"


"Tuan tidak keluar sejak malam tadi, Nona."


"Apa dia tidak sarapan?"


"Sebelumnya dia meminta untuk tidak diganggu."


***


Pagi yang cerah di tengah laut, Louis membiarkan angin membelai tubuhnya. Matanya yang memakai kacamata tertutup sempurna, dia hanya bisa menikmati keindahan ini seorang diri.


Dan untuk melepas rindu, Louis menelpon istrinya. "Holla, cariño, te extraño (Holla, Sayang, aku merindukanmu.)"


Terlihat Lucia yang sedang menyusui Leon, dia meletakan ponsel di bantal sebagai sandaran. Sementara dirinya kembali terlelap.


"Lucia… jangan tidur, jangan tinggalkan aku sendiri."


'Astaga, Louis. Aku mengantuk.'


"Tapi, Sayang. Aku masih ingin bicara denganmu."


'Aku mengantuk.'


Louis mengerucutkan bibir. "Dimana Louisa?"


'Kau bercanda?'


"I miss you," ucap Louis membuat Lucia tertawa di sana.


'Hentikan itu, kembali temui Norman dan pulang.'


Saat panggilan terputus, Louis kembali masuk ke dalam kapal pesiar. Dia mendekati pintu kamar Norman, mencoba mengetuknya di sana. "Norman… keluarlah."


"Norman, ayo sarapan. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."


Masih tidak ada jawaban dari sana.


"Norman."


Hingga akhirnya pintu terbuka, mata Norman menghitam. "Kau tidak tidur?"


"Ayo ke beranda," ucap Norman berjalan duluan.


Louis ikut duduk di sana, melihat Norman yang menolak tawaran minum dari pelayan. "Kau baik-baik saja?"


"Ya, apa yang ingin kau bicarakan?"


"Beritahu rencanamu, Norman."


"Aku akan menetap di Malibu bersama Malia, memberikan dia perawatan terbaik hingga dia bisa kembali berjalan. Aku akan hidup di pesisir pantai, aku juga akan bekerja di sana."


"Dan El Sinaloa?"


Norman menggeleng. "Aku menyerahkannya padamu."


"Kau gila, Lucia akan menelanku hidup-hidup."


"No quiero involucrarme en algo que sea peligroso para Malia. No puedo tener ambos, si elijo El Sinaloa, entonces debo liberar a Malia. (Aku tidak ingin terlibat dengan sesuatu yang membahayakan Malia. Aku tidak bisa memiliki keduanya, jika aku memilih El Sinaloa, maka aku harus melepaskan Malia.)"


Louis menarik napas dalam. "Tapi denganmu yang memegang kendali, kau bisa tahu apapun."

__ADS_1


"Ya, tapi aku tidak akan bahagia. Aku tidak ingin melepaskan Malia, maka darinya aku melepaskan El Sinaloa."


"Kau yakin?"


Norman mengangguk. "Malia adalah segalanya untukku."


"Dan Alpha?"


"Aku akan membiarkan mereka berkeliaran di hutan."


"Kau membutuhkan mereka, Norman."


"Tapi aku lebib membutuhkan Malia. Aku ingin membangun keluarga yang normal bersamanya, Louis. Aku, Malia dan anak-anak kami."


Louis tahu Norman menginginkannya, tapi dia juga tahu Norman tidak akan pernah berhenti dicari oleh mereka yang pernah disentuh El Sinaloa. Keinginan Louis, Norman tidak melepaskan keduanya, jikapun boleh, Louis ingin menyarankan untuk melepaskan Malia. 


"Aku senang jika kau bahagia."


Norman berdiri. "Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."


"Aku tahu, Norman."b


Lalu setelahnya Louis ditinggalkan seorang diri. Dan Louis bergumam, "Pase lo que pase, te darás cuenta de que la forma de proteger a Malia es dejarla. (Apapun bisa terjadi, kau akan sadar cara melindungi Malia adalah dengan meninggalkannya.)"


***


"Apa anda ingin sarapan, Señor?"


Norman tidak menjawab, dia memberi isyarat agar pelayan itu menjauh darinya.


Hanya satu tujuan Norman, yaitu menuju kamar Malia. Dia kembali ke tempat yang sama, dimana kekasihnya masih terbujur kaku di sana, dengan alat infus yang menempel.


Norman kembali mengunci pintu, dia mendekat perlaha. Dia duduk di samping ranjang, memeganh erat tangan Malia dengan air mata yang mulai menetes.


Norman ingat betul apa yang dilakukannya pada Malia. Bagaimana dia berkhianat pada Malia, bagaimana dia menyakiti Malia berulang kali. Norman memalingkan wajah saat Malia membutuhkan pertolongan, dia dengan kejamnya menyakiti Malia secara fisik dan bathin.


Norman menyesal, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan.


Hanya menangis, air matanya kembali menetes.


"Malia….," ucap Norman dengan bibir bergetar. "Maafkan aku, tolong kembali padaku."


Norman menciumi tangan Malia, dengan air matanya yang tidak berhenti menetes. "Malia volvió a mí ... Querida ... Vuelve a mí, vamos a Malibu, tu lugar favorito. (Malia kembali padaku…. Sayangku…. Kembali padaku, kita akan ke Malibu, tempat kesukaaanmu.)"


Menatap wajah Malia yang pucat membuat Normam semakin meneteskan air matanya, bagaimana rambut kekasihnya yang indah kini hilang akibat ulahnya. Tidak ada lagi rambut panjang yang terurai, dan itu karena kesalaham Norman.


"Aku mohon kembali, Malia…. Aku mencintaimu."


Namun, tidak ada jawaban dari pemilik rambut cokelag itu, dia tetap terlelap seolah enggan menghadapi kenyataan.


"Aku mencintaimu," ucap Norman kembali, dengan air mata tetap menetes. "Aku mencintaimu."


Silaunya cahaya laut membuat Norman mengalihkan perhatian.


"Lihat laut itu, Sayangku. Kau bilang kau ingin melihatnya, maka buka matamu. Temani aku, lihat apa yang aku lihat, Sayang."


Sambil mengatakan itu, Norman menangis. Dia tidak peduli jika diringa terlihat cengeng, tapi inilah kenyataannya. Norman tidak bisa hidup tanpa Malia, dia menyesali setiap tindakannya. 


Bahkan jika hal terburuk terjadi pada Malia, Norman akan menyesal karena dirinya telah dilahirkan. 


Kembali lagi Norman mengecup punggung tangan Malia yang pucat. "Quiero comenzar todo, Malia. Dame una oportunidad, demuéstrame que no estás equivocado, que Dios siempre está ahí para nosotros. Hagamos una familia, Malia. (Aku ingin memulai semuanya, Malia. Beri aku kesempatan, tolong buktikan padaku kalau kau tidak keliru, kalau Tuhan selalu ada untuk kita. Ayo kita buat sebuah keluarga, Malia.)"


---

__ADS_1


**love,


ig : @Alzena2108**


__ADS_2