
Vote sebelum membaca😘
.
.
Malam semakin larut, Malia melangkah penuh kesulitan dengan kakinya yang lecet. Dia berhenti sesaat dibawah pohon. Langit telah kembali cerah, bintang bersinar, sayangnya cahaya lampu yang meneranginya saat ini adalah cahaya remang, dengan orang-orang mengerikan berlalu lalang. Mengerikan di sini adalah mereka yang menjual diri, para orangtua tunawisma dan beberapa pria bertatto yang Malia yakini adalah para penculik.
Dia takut, ingin segera berlari dari sana. Sayangnya, kakinya tidak bisa diajak kerja sama.
Kaki kiri Malia tidak bisa digunakan, kesulitan lain yang membuatnya berhenti adalah lecet di kaki kanan. Yang mana membuat Malia melepaskan sepatunya.
Kenyataanya, dia baru berjalan beberapa puluh meter. Itu melelahkan, dan sepanjang jalan dipenuhi wanita yang mencari uang.
"Astaga, aku benar-benar tidak tahan lagi."
Malia menyeka keringatnya. "Apa yang harus aku lakukan?"
"Hei kau!" Teriak seorang wanita mendekat, langkahnya gontai dengan tatapan sayu. Bau alkohol begitu menyengat.
Malia memalingkan wajah, dia terlalu banyak bertemu wanita seperti itu malam ini. Dia ingin pulang.
"Kau mau ke mana, Sialan!" Tahannya saat Malia hendak berdiri. "Kau mau ke mana, Jal*ng?"
"Lepaskan aku, aku hendak pulang."
"No vas a ir a ningún lado, quiero que traigas mi abrigo en el departamento allí (Kau tidak akan pulang ke manapun, aku ingin kau mengambilkan mantelku di apartemen di sana.)"
"Permisi, aku harus pulang." Malia mencoba melepaskan tangannya yang ditahan, cukup kesulitan dengan hanya satu kaki yang menahan. "Lepaskan aku."
"Bawakan aku mantel," ucapnya dengan suara lemah, dia dalam kondisi mabuk. "Cepat!"
"Cari orang lain, aku harus pergi."
"Usted discapacitada mujer (Dasar wanita cacat.)"
"Sí, soy una mujer discapacitada. Así que no me preguntes, déjame ir. Solo quiero irme a casa, dejarlo ir (Ya, aku wanita cacat. Jadi jangan memintanya padaku, lepaskan aku. Aku hanya ingin pulang, lepaskan.)"
"Beraninya kau!" Wanita itu menampar Malia keras.
Malia tidak ingin mendapatkan ini, dia membalasnya dengan memukulkan tongkatnya pada kepala wanita itu hingga dia terjatuh.
"Ah! Sialan kau!"
"Maaf, aku hanya ingin pulang."
__ADS_1
Wanita itu menarik kaki Malia hingga dia terjatuh, menariknya enggan membiarkan Malia menjauh.
"Kau akan mendapatkan balasannya, Sialan!"
"Lepaskan aku."
"Kau wanita cacat! Aaaaaa!" Wanita itu menjerit tatkala Malia memukulnya berulang kali dengan tongkat.
"¡Maldita sea! Robert! Robert! ¡Esa mujer me golpeó! (Dasar sialan! Robert! Robert! Wanita itu memukulku!)" jeritnya memanggil seorang pria yang mengawasi dalam mobil.
Malia berlari sekuat tenaga, kaki kirinya dia seret kuat.
"Berhenti kau sialan!"
Dalam waktu sepertsekian detik, Malia tertangkap oleh pria berbadan besar dengan tatto di wajahnya.
"Lepaskan aku! Aku mohon!"
"Kau beraninya melukai uang kami, kau akan aku beri pelajaran."
"Tidak! Jangan! Tolong!" Malia berteriak saat pria itu menggendongnya seperti karung beras dan membawanya ke tempat yang lebih sepi.
"Tolong!"
"Diam kau!"
Pria itu membawa Malia ke jalan perbatasan Acapulco dan Puerto Del Marqués, di mana di sana didominasi oleh hutan gelap dan jalan yang sepi.
"Tidak, tidak! Aku mohon maafkan aku! Aku hanya ingin pulang."
"Kau akan pulang ke Tuhanmu," ucap pria itu menurunkan Malia di bawah pohon.
"Tidak, tidak." Malia mengerti apa yang akan terjadi. "Jangan lakukan ini, Tuan. Aku mohon, aku mohon maafkan aku."
"Kau akan pulang pada Tuhanmu! Aaaaa!"
Malia kembali bertahan, dia memukul pria itu dengan batang pohon.
"Dasar wanita jal*ng!" Teriak pria itu kembali mengejar Malia.
Napsunya hilang, pria itu marah pada Malia. Saat dia mendapatkan Malia, pria itu mengangkatnya dan tanpa ampun membuangnya ke pinggir jalan di mana daratan lebih rendah.
Pria itu tertawa melihat Malia berguling "Rasakan itu."
Dan Malia hanya bisa membuka matanya, bernapas pelan menatap bintang-bintang yang terhalang oleh dedaunan. Napasnya sesak, Malia kesulitan bernapas. "No…. Norman…….."
__ADS_1
****
"Ada apa, Norman?" Tanya Dania saat pria itu menghentikan mobilnya.
Keduanya berniat untuk pergi ke pantai Puerto Del Marqués malam ini dan menginap di villa.
Manik Norman kini fokus pada layar ponsel, memperlihatkan posisi Malia yang tidak kunjung bergerak. "Turun, Dania."
"Apa?"
"Aku bilang turun."
"Norman, kita akan ke villa bukan? Malia tidak akan sampai dalam waktu semalam, kakinya cacat. Ingat?"
"Aku bilang turun."
Dania menelan ludahnya kasar, mereka bahkan belum sampai ke pantai. Dia turun dengan wajah kesalnya, membiarkan Norman pergi.
Rasa kesalnya membuat Dania kembali membuat ulah, dia mencoba menghubungi nomor Marc. Namun, pria tua itu selalu punya rahasia, membuat Dania meninggalkan pesan, "Marc, Norman canceló su noche conmigo porque estaba preocupado por Malia. Parece que la mujer está en problemas, y Norman viene a ayudarla. No te callarás, ¿verdad? Vas a devolverle el golpe para que Norman recuerde sus intenciones, ¿verdad? Haz eso, golpéalo hasta que vuelva a mí. Lastimándolo, Norman es culpable de ponerse del lado de Malia. (Marc, Norman membatalkan malamnya bersamaku karena khawatir pada Malia. Sepertinya perempuan itu mendapat masalah, dan Norman datang untuk membantunya. Kau tidak akan diam bukan? Kau akan memukulnya kembali agar Norman ingat tujuannya bukan? Lakukan itu, pukul dia sampai dia kembali padaku. Sakiti dia, Norman bersalah karena memihak Malia.)"
Dan pria yang sedang dibicarakan itu mengendarai mobil dengan gila, dia melihat posisi Malia yang ada di dalam hutan.
"Apa yang sedang kau lakukan di hutan, Malia?" gumam Norman, dia berhenti di pinggir jalan.
Titik Malia ada di sana, tapi tidak ada siapapun di sini. Sampai Norman melihat ke arah bawah, spekulasi mengerikan dalam otaknya muncul. Apalagi dia melihat tetesan darah di bawah kakinya.
Tanpa berkata, Norman menuruni tanah yang curam. Wajahnya memperlihatkan jelas rasa khawatirnya, apalagi saat dia mendapati Malia yang tergeletak tidak berdaya.
Entah mengapa, tangan Norman bergetar saat mengelus pipi Malia yang kotor.
"Malia….."
Dia tidak sadarkan diri, kedinginan tanpa mantel. Dia segera membuka mantel dan membungkus tubuh mungil Malia. "Bertahanlah…."
Tanah yang becek membuat Norman kesulitan menggendong Malia ke atas. Didudukan di sampingnya, memakaikan sabuk pengaman.
Norman menatap lama sebelum dia duduk di tempatnya.
Selama dalam perjalanan, Norman sesekali menatap Malia. Bahkan salah satu tangannya menggenggam tangan Malia, meremasnya kuat seolah memberikan kekuatan.
Saat sampai di mansion pun, Norman mengabaikan setiap pertanyaan yang muncul dari bibir pelayan. Dan Marc yang sedang minum jahe hangat melihat itu, bagaimana raut wajah Norman terlihat sangat panik.
Marc tersenyum miring. "Dania tiene razón, necesitas ser golpeado, hijo (Dania benar, kau perlu dipukul, Nak.)"
---
__ADS_1
**Love,
ig : @Alzena2108**