Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 68


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘😘


.


.


Menelusuri jalan, wanita yang jatuh hati pada Norman tetap melangkah untuk mencari villa yang dimaksudnya. Sampai akhirnya dia menemukan gerbang, kakinya semakin cepat berlari.


Namun, tidak bertahan lama kesenangan itu. Tembakan di kakinya menghentikan.


"Aaaaaa!"


Seorang pria yang bersembunyi di atas pohon yang melakukannya, dia turun dan mendekat. "Siapa kau?"


"Tolong, jangan sakiti aku…. Aku hanya datang karena diperintahkan seorang pria…  Aaaaawww! Kakiku sakit!"


"Pria siapa?"


"Dia bernama Freedy, mengatakan bahwa di sini ada villa miliknya."


Pria itu menodongkan senjata apinya. "Katakan padaku, ciri-ciri pria yang kau maksud!"


"Dia tampan, memiliki banyak tatto di tubuhnya."


"Di punggungnya?"


Mengangguk sebagai jawaban, wanita itu merasa tidak tahan dengan rasa sakit di kakinya. "Ya, ada di punggungnya."


"Jelaskan!"


"Aku mohon jangan tembak aku!"


"Jelaskan!"


"Sebuah tatto seperti kapal, dan gambar abstrak yang tidak aku lihat. Ada tatto dua garis hitam di lengan kanannya, aku melihatnya!"


Pria itu bergumam, "Yang dia maksud adalah Señor Norman."


"Aku mohon lepaskan aku! Bantu aku ke rumah sakit."


"Pergi ke mana dia?"


"Dia pergi membawa mobilku, dia bilang akan membeli pengaman. Aku mohon lepaskan aku, aku tidak tahu apapun. Bawa aku ke rumah sakit."


"Katakan plat nomornya."


Tanpa ragu, wanita itu mengatakannya.


"Sekarang lepaskan aku, aku mohon."


"Akan aku lepaskan rasa sakitmu."


Pada tembakan kedua, akhirnya wanita itu kehilangan napasnya. Segera pria itu menelpon seseorang dan mengatakan plat nomor yang dia dapatkan.


Dan Norman tidak sebodoh itu, dalam perjalanannya dia menghitung.


"215…. 216…. 217… 218…. 219…. Dan 230…" Seketika dia menepikan mobil di sebuah area istirahat yang sudah lama ditinggalkan. Tidak ada kamera pengawas, dan di sana Norman melihat adanya mobil box yang sedang ditinggalkan pemiliknya.


Norman yakin pemiliknya sedang ke toilet, maka darinya Norman menukarnya dengan mobil mewah.


Jalanan yang berdebu, panas terik dan tumbuhan yang yang kering menghiasi. Kulit cokelat Norman terbakar, tapi pria itu tidak peduli.


"Aku harap kau baik-baik saja, Malia."


Bibirnya berguman sendiri.


"Jika selamat, aku akan memberikan kehidupan yang baru untukmu, Sayangku, aku berjanji."


Mata Norman menatap tajam ke arah depan.

__ADS_1


"Aku janji, kau akan mendapatkan kehidupan baru, kenangan baru dan kebahagiaan yang akan menggantikan semuanya."


Norman berpikir sendiri, jika dirinya yang tidak selamat, dia tidak keberatan. Namun, Norman berharap dan memohon pada Tuhan agar kekasihnya mendapatkan kehidupan yang baru.


Norman kembali menatap jam di tangannya, perhitungannya Alpha datang saat dini hari.


Maka darinya, Norman berhenti di sebuah tempat pos terpecil di daerah terpencil. Hanya ada debu yang menghiasi.


Sebelum mengirimkan surat, Norman masuk ke sebuah bar.


"Apa kau punya kertas dan bollpoin?"


"Ini bar, bukan toko alat tulis."


"Berikan itu dan akan aku berikan ini."


Bartender tertarik dengan butiran emas yang Norman keluarkan, dia segera memberikan apa yang diinginkannya.


"Berikan aku martini, Kakek Tua, dan akan aku berikan kau emas ini."


Perintah Norman terkabulkan. "Silahkan."


"Bagianmu."


"Gracias, Señor. Darimana kau berasal?"


Norman diam, dia lebih fokus pada sesuatu yang akan dia tulis.


"Kau pengembara bukan?"


"Diamlah, atau akan aku ambil lagi emasmu."


"Oke, kalau begitu beritahu aku apa yang akan kau tulis? Aku seorang mantan penyair, mungkin aku bisa membantu."


Akhirnya Norman membalas tatapan pria itu. "Aku menulis surat untuk istriku."


"Dalam perjalanan pergi dari Guererro."


"Astaga, dia meninggalkanmu?"


Norman menggeleng. "Aku menyuruhnya pergi untuk kami."


Dan bartender itu mulai mengira Norman gila. "Tuliskan saja apa yang ingin kau katakan," ucapnya lalu pergi meninggalkan.


Tidak butuh waktu lama untuk Norman menyelesaikan suratnya, dia membawanya ke kantor pengiriman.


"Ke mana, Tuan?"


"Malibu, ini alamatnya."


Operator memasukan alamatnya.


"Tapi aku ingin surat ini sampai satu tahun yang akan datang, tepat pada tanggal ini di bulan yang sama."


"Itu membutuhkan biaya lebih, Tuan."


Norman kembali melemparkan emas yang sebenarnya dia curi dari seorang wanita tua kaya raya. "Apa itu cukup?"


"Cukup, Tuan. Surat ini akan sampai satu tahun yang akan datang pada Malia Van Allejov di Malibu dengan alamat yang tertera."


Norman menarik napasnya dalam, dia keluar dari sana dan berjalan menuju mobil. Bibirnya mengatakan, "Aku harap satu tahun yang akan datang kehidupanmu sudah sangat sempurna, sehingga jika aku memang sudah tiada, keberadaan surat itu membuatmu lebih baik."


***


Rombongan itu berhenti kembali di sebuah caffe di pinggir jalan untuk makan malam. Mereka belum berhasil keluar dari Guererro. Dan itu yang membuat Jess khawatir. 


Terbagi menjadi dua meja, Jess, Jan dan Malia dalam meja yang sama. 


"Jangan khawatir, Malia, sebelum dini hari kita sudah keluar."

__ADS_1


Malia tersenyum, dia memakai ciput hingga terlihat seperti pria. Rambut pendeknya keluar di beberapa titik. "Bagaimana dengan Norman?"


"Aku yakin dia akan menemukan jalan menuju Campo Morado, dan dia akan menyusul kita."


Jan lebih banyak menyimak.


"Apa yang kau pikirkan, Jan?" Tanya Malia.


"Tidak, aku hanya ingin ke kamar mandi." Jan bergegas.


Malia menatap Jess. "Apa yang terjadi?"


"Dia hanya sedang khawatir."


Malia menunduk, membuat Jess menepuk pundaknya. "Jangan khawatir, kau akan keluar dari sini."


Malia hanya tersenyum tipis. "Aku harap begitu."


"Mereka tidak akan curiga, mereka juga akan melindungi kita."


Menoleh sesaat pada gerombolan pria yang bergaya rock, mereka berteriak dan tertawa dengan begitu kuatnya. Membuat pengunjung lain tidak berani menegur ataupun menghentikan suara yang mengganggu mereka.


"Tidak ada yang berani mengganggu kita."


"Kenapa Jan lama?"


Dan saat itu, Jan mengalami permasalahan perut. Dia keluar masuk kemar mandi umum. Sampai dia mendengar percakapan dua orang wanita di sana.


"Kepolisian bilang mereka orang berbahaya, kita hanya perlu menelpon saat melihat. Tapi jika kita menangkapnya dalam keadaan hidup, mereka akan memberi hadiah."


"Hadiah macam apa?"


"Emas, kau percaya?"


"Astaga!" Dia terdengar terkejut. "Emas? Emas batangan?"


"Ya, ini resmi dari kepolisian, bahkan mereka menyiarkannya di siaran lokal Guererro."


Dan karena itu, Jan buru-buru keluar. Dia berdehem, memperlihatkan sisi feminim supaya mereka tidak curiga. "Maaf, aku mendengar percakapan kalian, apa yang kalian maksud?"


"Apa kau tidak punya ponsel?"


Jan menggeleng, membuat keduanya tertawa.


"Kau seharusnya membeli."


"Hei ayolah, aku mendengar emas dari mulut kalian." Jan menahannya.


Salah satu dari mereka mengibaskan tangan. "Kami bicara tentang mereka."


Layar ponselnya didekatkan pada wajah Jan. "Kau lihat?"


Seketika Jan mengambil paksa ponsel.


"Hei sialan!"


"Ini resmi dari kepolisian?"


"Tentu saja, kau pikir?" Dia merebut kembali ponselnya. "Mereka bernama Norman dan Malia. Tapi, percuma saja kau melihat mereka atau menangkap, kau tidak tahu ciri fisik ataupun harus dibawa ke mana."


"Ke mana?" Jan menahan mereka. "Di bawa ke mana?"


"Lepas! Mereka harus dibawa ke kepolisian Campo Morado."


---


**Love,


ig : @Alzena2108**

__ADS_1


__ADS_2