
Vote sebelum membaca😘😘😘
.
.
Malibu, Amerika.
"Malia! Malia apa surat itu isinya?!"
Jan sangat bersemangat untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan Malia.
"Malia?!"
"Hish! Kau berisik," ucap Malia yang masuk ke dalam dengan membawa amplop berukuran besar. "Kenapa kau sering berteriak akhir akhir ini?"
"Coba buka isi surat itu."
Malia melakukannya sambil duduk di samping ranjang Jan yang terbaring, dengan beberapa perban di beberapa bagian.
"Dari siapa?"
"Tanpa nama."
"Yang benar saja."
Jan tidak sabaran, dia melihat Malia membukanya. Dan ternyata, "Tidak ada apa pun di sini."
Seketika Jan terdiam, Yoseph menipunya. Surat itu belum sampai, atau mungkin masih dalam pencarian.Â
"Sialan."
"Apa yang kau bilang, Jan?"
"Tidak, cepatlah berkemas ke Meksiko."
Malia pergi ke kamarnya setelah memberikan jitakan di kepala Jan. "Sialaan!"
Jan menggerutu pada Yoseph di kamar.Â
Sementara Malia mempersiapkan semuanya untuk pergi ke Meksiko. Sampai Malia ingat, ayahnya dikuburkan di sana, dan Malia berencana untuk pergi ke Puerto del Marques.
"Astaga, semoga saja semuanya berjalan dengan baik," ucap Malia pada dirinya sendiri.
Sampai Malia kelelahan, dia merebahkan dirinya sendiri sambil menatap langit langit. Memejamkan matanya secara perlahan.
Sampai Malia perlahan merasakan sebuah sentuhan, lalu disusul dengan kalimat, "Sayang, aku mencintaimu."
seketika Malia membuka matanya, jantungnya berdetak kencang. Itu bukan suara Edward, tapi suara pria lain.
__ADS_1
Bergegas Malia pergi ke kamar Jan dengan cara masuk tanpa permisi. "Jan!"
"Astaga, kau mengagetkanku lagi. Ada apa?"
"Jan, apa aku pernah punya pacar sebelumnya?"
Jan terdiam, dia menelan ludahnya kasar.
"Jan, katakan padaku."
Jan masih diam, dia ingat kalimat, "Biarkan dia mengingat dengan sendirinya, jika kita memaksa dia dan menekan pada hal yang dia lupakan, itu akan memicu trauma. Dan rasa trauma, depresi ini bukan main main. Masalah kejiwaan yang kasat mata, tapi ada. Hati hati, jangan sampai dia melukai dirinya sendiri. Biarkan semua bekerja sesuai kehendaknya."
"Jan!"
Karena hal itu, terpaksa Jan menggeleng dan mengatakan, "Kau tidak pernah mengatakan hubungan pribadimu, kita tidak sedekat ini dulu."
***
Guererro, Meksiko.
"...... Sabrina Huntington seorang model papan atas kembali menggegerkan industri hiburan, mantan dari pesepak bola dunia itu kini menggaet pria baru, seorang pengusaha real estate di Meksiko. Tidak banyak yang kami dapatkan informasi tentang pengusaha yang tinggal di Guererro itu, tapi dia memiliki banyak kekayaan seperti bar, casino dan perkebunan anggur. Dilansir dari Monalse.card, pengusaha ini bernama Enrique N. Derullo….."
Norman diam mendengar wajahnya ada dalam berita, lalu disusul dengan suara telpon dari ayahnya.
"Papa?"
"Apa papa ingin aku mengencani pria?"
"Kurang ajar, kenapa kau berani bicara seperti itu?"
Norman terkekeh, dia duduk sesaat. "Papa, jangan khawatir. Hidupku normal."
"Bagaimana dengan Malia?"
"Dia bahagia."
"Bersama dokter itu? Bagaimana jika pria itu menyakitinya?"
"Setidaknya tidak melebihi aku. Papa, kemunculanku akan membuat Malia semakin sakit, ini adalah caraku untuk menahan keinginan bertemu dengannya."
"Dengan mengencani wanita lain?"
Norman diam, dia menarik napasnya dalam lalu berujar, "Aku akan menghubungimu lagi, Papa. Sampai jumpa."
Malam ini, Norman akan menemui Sabrina lagi untuk diajaknya ke Casino. Seperti biasa, dia menjemput Sabrina ke hotel.
Wanita itu keluar dengan penampilan sudah siap. "Selamat malam, Enrique."
"Selamat malam, Sabrina. Siap untuk pergi?" Tanya Norman yang dibalas dengan anggukan, Sabrina melingkarkan tangannya pada Norman.
__ADS_1
Begitu keluar dari hotel, ada beberapa paparazi yang ditangkap oleh Sabrina. "Tersenyumlah, Enrique, ada beberapa mata yang mengawasi."
"Akan aneh jika seorang pria tersenyum tanpa alasan."
Keduanya melanjutkan percakapan dalam mobil.
"Jadi, kau akan mengajaku ke casino milikmu?"
"Ya, begitulah."
"Bolehkah aku bertanya?"
"Kau sudah melakukannya satu detik yang lalu."
Sabrina kembali terkekeh. "Apa kau mendekatiku untuk mengencanimu?"
"Ya, aku ingin berkencan dengan pekerjaanmu supaya menjadi wajah di mall ku."
"Enrique, kau misterius. Suatu malam aku membaca artikel tentangmu, lalu besoknya artikel itu hilang. Mengapa?"
"Mungkin memuat tentang diriku membuat mereka bangkrut."
"Mereka mengatakan kau adalah pengusaha gay."
"Oh, kau percaya?"
"Dengar, Enrique, aku punya masalah dengan keluarga."
Norman terkekeh. "Aku bukan hakim di pengadilan keluarga."
"Berhenti bercanda, aku serius. Aku ingin kau menjadi pacarku untuk beberapa saat saja, keluargaku ingin menjodohkanku."
"Ah, itu sebabnya kau berganti pria? Kau memanfaatkan mereka."
"Hei, aku melihat peluang. Jika mereka bagus aku melanjutkan hubungan, jika tidak berhenti sampai di sana. Bagaimana?"
"Apa keuntungannya bagiku?"
"Rumormu hilang, kau juga tidak akan kesepian."
Norman berhenti tepat di depan kasino, dia menatap Sabrina yang tersenyum. "Bagaimana?"
"Aku akan mempertimbangkannya."
***
Love
Ig : @Alzena2108
__ADS_1