
Vote sebelum membaca😘😘
.
.
Menatap dari lantai dua, bagaimana kekasihnya dengan kaki terpincang pergi menaiki sebuah mini van yang dihuni banyak pria. Bersama Jan dan Jess, Norman percaya pada mereka.
Saat Jan dan Malia sudah naik, Jess menatap ke lantai atas sebelum masuk van. Tatapan mata Jess seolah mengatakan, "Jangan khawatir, aku akan menjaganya."
Dan Norman, dia mengangguk memberikan jawaban pada Jess agar segera membawa Malia pergi. Pintu mobil tertutup, van yang banyak di huni oleh pria itu ditutupi oleh stiker berwarna hitam layaknya pecinta rock.
Norman melakukan bagiannya, sebelum menjemput Alpha, dia akan membunuh orang yang akan mencari istrinya. Menyipkan senapan laras panjang, Norman diam di lantai dua melihat siapa yang akan datang.
Telinganya dia pasang dengan seksama, bahkan cicak yang bergerakpun dapat Norman dengar.Â
Sambil menunggu, pria itu mencoba menelpon Louis. Tapi saudaranya tidak mengangkatnya. Hal itu cukup menjelaskan pada Norman, bahwa Louis tengah mendapatkan masalah. Dia juga punya sesuatu yang harus dilindungi, Dioses La Asesinos adalah tameng untuk keluarganya.
"Sial," umpat Norman melempar telpon rumah.
Dalam perhitungannya, Alpha akan datang dini hari ke Acapulco. Membuatnya memilih untuk menghentikan orang-orang yang mencari Malia dahulu.
"Tidak akan aku biarkan seorangpun menyakiti Malia."
Dan saat sore menjelang, area perumahan mulai sepi. Hal itu dikarenakan akan ada badai angin, langit mulai menghitam, dan orang-orang yang Norman nantikan akhirnya datang.
Mereka menaiki mobil van, berhenti di depan perumahan dan masuk melompati pagar. Terhitung, jumlahnya ada 10 orang. Lima orang yang masuk, dua berjaga dalam mobil dan sisa tiga yang mengawasi dari kejauhan.
Norman terkekeh, inikah yang menjadi andalan El Sinaloa? Mereka sangat amatiran, berbeda dengan orang-orang yang pernah Norman latih di Dioses La Asesinos.
Terdengar pintu yang dibuka secara paksa, mereka melangkah mencari seseorang. Dan saat Norman mendengar ada yang menaiki tangga menuju lantai dua, Norman mengisi peluru. Dia berdiri di belakang pintu, menunggu sang pencari membukanya.
Dan sepersekian detik, saat pria pencari membuka pintu, Norman menembaknya.
Suara tembakan yang keras memancing yang lainnya, empat orang lainnya datang dan mampu Norman lumpuhkan dengan dua senjata api di tangannya. Norman terkekeh, "Kalian kalah."
Dia membuka pakaian salah satu pencari itu dan memakainya, Norman menyamar menjadi bagian dari mereka. Dia memakai masker menyerupai yang lainnya.Â
Saat Norman menggunakan earphone milik salah satu orang itu, dia tersambung dengan sebuah suara, "Holla, Jannis, jawab aku. Apa yang terjadi?"
"Norman kabur setelah menembak empat temanku, aku tahu arahnya."
"Baiklah, masuk ke dalam van."
__ADS_1
Norman tersenyum miring, dia mengambil semua senjata yang dimiliki lima orang itu. Dia keluar dari rumah dan masuk ke dalam van.
Sebelum keduanya menyadari itu bukan Jannis, Norman menodongkan senjatanya. "Diam, suruh tiga lainnya datang."
"Sial, kau Norman."
"Ya, lakukan atau aku akan menembakmu."
Salah satu dari mereka melakukan. Mengatakan pada tiga yang mengawasi, "Misi dibatalkan, kembali ke dalam van."
Setelah sambungannya putus, Norman tanpa berpikir panjang menembak keduanya.Â
"Sisa tiga," gumamnya menunggu dalam van.
Bibirnya menyunggingkan senyuman mendengar beberapa pasang kaki yang melangkah mendekat. Norman menyiapkan senjatanya.
Begitu pintu van digeser, Norman menghujani mereka bertiga dengan peluru hingga tidak ada yang tersisa.
Tanpa berkata apapun, Norman menerima panggilan salah satunya saat ponselnya berbunyi.
'Holla, bagaimana operasinya? Kau menangkap Malia dan Norman?'
Norman kenal suara ini, dia hanya diam menahan amarah.
"Holla, Dennis."
***
Dennis melempar ponsel itu kesal, dia meremas sprei di tangannya dengan sangat kuat.
Bahkan ketukan pintu tidak dia dengar, membuat Frank --Tangan kanan Marc-- membukanya secara paksa. Seketika Frank berjalan dan menarik kerah baju Dennis. "Kembalikan Señor Marc! Kau membuat tubuhnya membiru!"
Memang benar, Frank membuat Marc merasakan cairan kimia yang dibuatnya.
"Lepaskan!"
"Kembalikan dia!"
"Akan aku lakukan!" Teriak Dennis mengambil suntikan lain berisi cairan merah yang diyakini Frank sebagai penawar.
Mereka berjalan ke kamar Marc. Dennis diam sesaat, menatap tubuh Marc yang membiru dengan napas melemah.Â
"Lakukan!" Teriak Frank.
__ADS_1
Dennis berdecak, dia segera melakukannya.
Dan saat dirinya hendak keluar, dirinya ditahan oleh Frank. "Kau tidak bisa pergi ke manapun."
Dennis berdecak. "Aku sudah memberikannya penawar."
"Kita belum melihat hasilnya."
"Hasilnya harus menunggu 2 jam, dan aku harus menyuruh seseorang melakukan sesuatu."
"Seperti apa?"
Kesal dengan Frank, Dennis memberikanya pukulan. Frank marah, dia menarik kerah baju Dennis ingin menghantamnya. Namun, Frank menahannya.
"Kenapa? Kau takut padaku?"
Frank melepaskannya, membiarkan Dennis melakukan apa yang dia inginkan.Â
Pria itu pergi ke ruangan informasi, tempat dimana ada mata mengawasi pekerja tambang. Selaim itu, ada seorang yang pintar di sana. Seorang hacker penyebar informasi, dialah yang memberi perintah atas izin Dennis atau Marc. Kepada anggota, para turis yang datang ataupun kepolisian yang sudah ada di bawah kakinya.
El Sinaloa membayar mereka. Yang membuat Dennis berkata, "Sebarkan informasi kepada kepolisian untuk mencari Malia dan Norman, dengan ciri fisik mereka. Dan perintahkan kepada kepolisian untuk menyebarkan informasi pada warga setempat dan warga asing, biarkan mereka semua mencari hingga Norman dan Malia tidak lagi memiliki tempat."
"SÃ, Señor."
Dennis menyeringai, dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Norman tidak bisa membajaknya, dia harus datang ke sumbernya langsung.
"Apa ini, Dennis?"
Dennis mendesah malas mendengar suara Marc, dia berbalik. "Aku sedang mencari cucumu, dia membunuh semua anggotaku."
"Apa yang akan kau lakukan padanya?"
Dennia mengangkat bahunya. "Jangan khawatir, aku hanya akan membuatnya datang. Dan memberikannya padamu."
"Kau janji tidak akan menyakitinya."
Dennis mengangguk. "Aku janji."
Marc berniat hanya memanfaatkan Dennis. Dan Dennis, dia berhasil memanfaatkan momen. Dia ingin membunuh Norman, Malia dan Marc setelah mendapatkan uang.
---
ig : @Alzena2108
__ADS_1