Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 22


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘😘


.


.


Mobil yang ditumpangi Dania berhenti tepat di pinggir hutan sycamore. Jalanan yang sepi, dirinya hanya berjarak dua kilo meter dari teluk Puerto del Marqués. Dia turun dari mobil, memandang hutan rindang yang dipenuhi dengan suara hewan. Dia bergidik sesaat, tapi Dania membutuhkan langkah ini.


Jalanan tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa kendaraan yang lewat jalan ini menuju Puerto del Marqués, sisanya mereka memilih jalan besar di mana terdapat banyak bangunan.


Sambil melangkah, Dania menelpon Dennis. Dania mendengar tentang ruang bawah tanah di tengah hutan tempat El Sinaloa membuat narkotika, laboratorium tempat Lohan bekerja.


Sayangnya, Dennis tidak kunjung menjawab, membuat Dania mendengus kesal. Langkahnya tidak terhenti, dia mengingat kalimat Dennis yang menyatakan, "Cukup ikuti ke mana matahari berjalan. Dari arah pantai, ambil sudut siku-siku dan kau dapatkan gudang narkoba El Sinaloa."


Mengikuti instingnya, Dania terus melangkah. Dan semakin dia melangkah, hutan semakin gelap juga sepi. Tidak terlihat apapun kecuali pohon yang besar dan rindang. Dania mulai ketakutan, hingga dia terkejut mendapat telpon.


"Hallo, Dennis?"


'Apa yang kau lakukan di tengah hutan, Dania?'


"Kau di mana?"


'Kenapa kau ada di hutan?'


"Aku harus menemui Lohan."


'Kau tahu apartemennya, haruskah aku antar lagi?'


"Keluar kau, kau di sini bukan?"


Dennis tertawa, terdengar dia sedang bicara dengan orang lain di sana. 'Pergi dari sana sebelum orang-orang datang, Dania. Kau bisa dalam bahaya.'


"Mereka tidak akan berani, aku adalah kekasih Norman."


Dennis menghela napas, seakan meremehkan. 'Mereka bahkan tidak tahu siapa Norman.'


"Keluar kau sekarang atau aku laporkan pada Norman kalau kau itu ********." Dania menutup telponnya kesal, dia menghentakan kaki sambil menunggu di tempat itu.


Lama Dania berdiri di sana, membuatnya kembali menelpon Dennis. Pria itu tidak menjawab, sampai Dania mendengar suara langkah mendekat. "Dennis?"


"Sebaiknya kau pergi dari sini, Dania." Pria itu datang tiba-tiba dari arah belakang, sambil merokok. Matanya terlihat lelah, Dennis bahkan memperlihatkan raut wajah tidak bersahabat. "Apa yang kau lakukan di sini?"


"Lohan minta aku datang ke lab miliknya, dia akan memberiku sesuatu."


"Kau memintanya membuat obat untuk Malia bukan?"


"Diam kau." Tangannya menunjuk wajah Dennis. "Aku memberikan apa yang pria itu inginkan, sialan!"


"Kau tidur dengannya?"

__ADS_1


"Tutup mulutmu."


Dennis menggeleng tidak percaya, dia menginjak rokok guna mematikannya. "Aku tidak percaya kau melakukan apa saja untuk mendapatkan kembali hati Norman."


"Katakan padaku dimana lab itu."


"Kau tidak boleh masuk, kau itu bukan siapa-siapa, bukan bagian dari El Sinaloa."


"******** kau, Dennis." Dania mendorong dada pria itu. "Aku bagian dari Derullo, kau tahu aku membantu Norman menemukan Van Allejov."


"Aku tidak peduli, kau bukan bagian dari El Sinaloa."


"Akan aku katakan pada Norman."


"Apa yang akan kau katakan? Kalau kau memohon padaku untuk mempertemukan dengan seorang ahli dalam meracik obat, lalu aku mempertemukanmu dengan Lohan dan kalian tidur bersama demi dirimu yang ingin Malia tidak bisa memiliki keturunan?"


Dania mengepalkan tangannya kuat, seakan ingin menghantam kuat Dennis.


"Kau harus tahu, Lohan baru saja mati karena dia memberi tahu sekelompok bandit pengganggu di Brazil tentang rencana El Sinaloa, jadi kau tidak bisa menemuinya lagi."


"Sialan kau, Dennis!"


Untuk menunjukan bukti, Dennis memperlihatkan layar ponsel miliknya. Memperlihatkan Lohan yang tergantung di tali, dengan leher terjerat. "Dia mendapat hukuman karena berbuat kesalahan."


"Shit!" Dania menjambak rambutnya sendiri, dia berteriak kencang sebelum kembali menatap Dennis. "Sialan kau!"


"Aku bisa membantumu," ucap pria itu mengeluarkan permen yang sama dari sakunya. "Ini yang kau inginkan bukan?"


"Tidak semudah itu," ucap Dennis mengangkat tangannya. "Ayo kita kerja sama."


"Atas apa?"


"Kerja sama. Begini, aku membantumu menyingkirkan Malia supaya kau bisa mengendalikan Norman lagi."


"Lalu apa yang kau dapat?"


"Aku bisa memerintah Norman, lewat dirimu."


"Kau gila," desis Dania sambil terkekeh. "Kau ingin mengendalikan Norman lewat diriku?"


"Lihatlah El Sinaloa selama Norman tidak ada di sini, berjalan dengan baik. Aku hanya ingin tetap seperti itu, tanpa Norman yang menghentikan operasi hanya karena Malia."


Dania tertegun, dia mengerti apa maksud Dennis. Namun, melihat pria itu memperlihatkan wajah liciknya, Dania tahu bukan hanya itu yang Dennis inginkan. Bisa-bisa pria itu mrngendalikan segalanya. Maka darinya, Dania menggeleng. "Aku tidak butuh bantuanmu untuk mengendalikan Norman."


"Kalau begitu……, silahkan kau cari cara sendiri," bisik Dennis menyelipkan permen itu ke dalam saku Dania. "Aku tahu kau akan membutuhkanku."


***


"Kau gila, kita akan naik jet ski? Dengan keadaanku yang seperti ini?"

__ADS_1


Norman lebih banyak diam, dia berjongkok dan memakaikan rompi pelampung pada Malia.


"Norman!"


"Ini akan menyenangkan, Malia. Lihat mereka yang bermain air, tidakah kau menginginkannya?"


Berada di pantai dengan waktu akhir pekan benar-benar ramai, banyak sekali pengunjung dari mancanegara. Khusunya para penggemar surfing, mereka berdatangan untuk menjemur tubuh dan memainkan ombak. Malia lebih suka menyebutnya pulau telanjang, banyak sekali wanita berpakaian terbuka di sini.


"Kau bisa melihat kondisiku, itu tidak mungkin."


"Semua menjadi mungkin jika bersamaku," ucap Norman mendorong kursi roda Malia dan membawanya ke jembatan tempat seorang menyewakan permainan jetski.


Saat Norman sedang bicara dengan seseorang, Dania kembali datang. Dia mendekati Malia terlebih dahulu. "Holla, Malia."


"Dania?"


"Ini, permen untukmu."


"Kau selalu membawakanku ini. Gracias."


"Sí." kini matanya menatap pada Norman yang sedang bicara. "Ada yang harus aku bicarakan dengan Norman tentang pekerjaan, apa kalian sibuk?"


"Kami akan bermain jet ski, kalau itu penting aku bisa menundanya."


"Tidak, aku akan menemuinya sebentar," ucap Dania meninggalkan Malia seorang diri. Dia datang mendekati Norman, memegang tangannya hingga pria itu berhenti bicara dengan seorang pria tua. "Norman, aku ingin bicara denganmu."


Norman melepaskan tangan Dania secara pelan, tapi dengan tekanan menyakitkan. "Norman, aku ingin bicara."


Norman mengisyaratkan agar pria tua itu mempersiapkan jet ski untuknya, meninggalkan mereka berdua. "Norman."


"Pergilah, Malia mengawasi."


Kenyataannya, Malia terfokus pada orang-orang yang bersenang-senang di pantai. "Aku punya rencana agar kita bisa membalaskan dendammu."


"Pergi, Dania."


"Norman sadarlah, perempuan itu yang merebut kebahagiaanmu!"


"Tutup mulutmu," ucap Norman dengan datar.


Ketika pria itu hendak melangkah, Dania menahannya. Dia memberitahukan rencananya, "Bagaimana kalau kita buat Malia tidak bisa memiliki keturunan?"


Seketika itu juga, raut wajah Norman berubah. Dia mengetatkan rahangnya dan menghentakan tangannya agar Dania melepaskan. "Pergi, Dania."


Menatap kepergian Malia dan Norman, kemarahan Dania bertambah saat Malia melambaikan tangan sambil tersenyum. Tangan Dania mengepal, air matanya hampir tumpah. Tidak menyangka bahwa Norman akan berubah drastis, seolah dendamnya padam akan sesuatu.


Sampai Dania ingat akan sesuatu, dia segera menghubungi Dennis. "Ayo kita kerja sama, aku ingin menghancurkan Malia dari hidup Norman."


 

__ADS_1


---


My ig : @Alzena2108


__ADS_2