Bloody Marriage

Bloody Marriage
The Bride 11


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘😘


.


.


Guererro, Meksiko.


Norman menarik napasnya dalam, dia masuk ke dalam caffe dengan membawa sebuket bunga untuk seorang wanita yang akan menjadi wajah di salah satu mall miliknya.


"Nona Sabrina?"


"Ah, Tuan Derullo."


"Panggil saja aku Enrique."


"Senang bertemu denganmu, Enrique, apa itu untukku?"


"Ya, aku melihat bunga yang indah, mengingatkanku padamu," ucap Norman menyerahkan bunga itu, yang mana membuat Sabrina tertawa pelan.


Wanita berambut abu itu menerimanya, dan mencium aromanya layaknya wanita pada umumnya. "Terima kasih, Enrique."


"Aku sangat senang kau menerima tawaranku untuk menjadi model dan menjadi wajah di mall milikku."


"Aku tidak bisa menolak saat tahu kau yang meminta, ternyata rumor yang beredar berbeda," ucap Sabrina menyelipkan rambutnya ke belakang.


Hingga seorang pelayan datang dan bertanya, "Apa yang ingin anda pesan, Nona?"


"Beraninya kau memotong ucapanku saat bicara, pergilah!"


Pelayan itu terkejut, dia bergegas pergi dari sana. Segera Sabrina mengubah raut wajahnya saat Norman melihat. "Maaf, aku tidak suka saat ada orang menyela."


"Itu suatu hal yang wajar," ucap Norman mencoba untuk tidak jengkel, hal ini dia lakukan untuk meyakinkan Andrean sang ayah kalau dirinya tidak terpuruk dan menjalani hidup dengan normal. "Tapi aku ingin memesan, bisa kau panggilkan pelayan itu?"


Sabrina menelan ludahnya kasar, dia mengangkat tangannya.


"A… anda ingin memesan, Nona?"


"Berikan kami limun dingin dan waffle."


"Baik."


Sabrina menatap tidak percaya. "Bagaimana kau tahu aku suka itu?"


"Terlihat jelas di garis wajahmu."


Sabrina terkekeh, dia menatap Norman semakin lama merasa tertarik dengan pria itu.

__ADS_1


Bahkan setelah selesai makan siang, tangan Sabrina menahan Norman saat hendak masuk ke dalam mobil.


"Aku datang dengan memakai taksi, bisakah kau mengantarku ke hotel?"


Norman membukakan pintu mobil. "Masuklah."


"Terima kasih," ucap Sabrina dengan senyumannya yang lebar, dia memakai sabuk pengaman. Dan selama sisa perjalanan, Sabrina terus menatap Norman.


"Apa ada sesuatu di wajahku?"


"Ayo kita berteman," ucap Sabrina menawarkan sebuah hubungan.


"Lebih dari rekan kerja, aku ingin kita berteman."


Norman mengangguk. "Kita bisa berteman, tapi aku rasa para wartawan akan terkejut melihatmu keluar dari mobilku, Sabrina."


"Oh, kenapa begitu? Bukankah bagus untukmu? Kau pernah dikabarkan gay, itu tidak benar kan, Enrique?"


Norman terkekeh, dia melepas sabuk pengamannya. "Tentu tidak."


Dan media langsung menyoroti model papan atas yang baru saja keluar dari mobil salah satu pengusaha di Guererro. Sabrina adalah model terkenal yang pernah berpacaran dengan beberapa aktor terkemuka, yang membuatnya selalu menjadi pusat perhatian.


"Aku harap kau tidak keberatan di sorot kamera jika bersama denganku."


"Tidak. Masuklah," ucap Norman saat mereka berada di depan pintu kamar hotel.


"Istirahatlah, kita akan bertemu lagi malam ini."


Tentu saja hal itu membuat Sabrina senang, dia segera masuk setelah mencium pipi Norman. Sementara itu, senyuman Norman langsung luntur ketika dia berbalik. Norman tidak merasakan apa pun, seluruh hidupnya untuk Malia. 


Namun, dia melakukan ini, supaya keluarganya berhenti mendorongnya untuk memeluk kembali Malia. Karena Norman sadar, dirinya adalah kaktus berduri. Di mana jika Malia memeluknya, dia akan selalu terluka.


****


Malibu, Amerika.


"Hai, Che, bagaimana hasilnya?"


"Aku melakukan survey, mereka tidak ingin lukisan, dan semua yang pernah kita pamerkan."


Malia mendesah pelan, dia mengusap rambutnya kasar. Dia harus pergi ke Meksiko, tapi seorang diri. Edward tidak bisa menemani, apalagi Jan. Dan Che harus menjaga galeri untuk perbaikan, waktunya hanya satu bulan setengah untuk acara pelelangan. 


Malia harus bersyukur acara pelelangannya didatangi orang orang kaya, dan dia harus mempertahankannya untuk menguras uang orang orang yang enggan beramal itu.


Saat berada di ruangannya, Malia melamunkan semua yang terjadi antara dirinya dan Edward. Dia tersenyum sendiri, Malia bahagia bisa bersama dengan Edward. Tapi dia merasa ada sesuatu yang janggal, seakan hatinya menolak untuk bersentuhan lebih jika bersama Edward.


"Edward adalah pacar pertamaku," ucap Malia pada dirinya sendiri. "Dia akan menjadi ciuman pertamaku."

__ADS_1


Harapan Malia seperti itu, ciuman pertamanya hanya akan terjadi saat dirinya menikah.


Sampai sebuah telpon menyadarkannya.


"Hallo?"


Malia terdiam menegang saat mendengar apa yang dituturkan oleh penelpon di sana. Malia bergegas berlari.


"Ada apa, Malia?" Tanya Che penasaran.


Tapi Malia tetap berlari, dia menaiki mobil dan mengendarainua dengan kecepatan penuh menuju ke rumahnya.


Saat sampai, dia langsung berteriak meneriaki nama temannya. "Jan?"


Malia berlari ke kamarnya, maniknya berair saat melihat Jan yang terbaring dengan perawat yanh ada di sampingnya memperban kakinya.


"Hai, Malia, maaf membuatmu terkejut."


"Bagaimana kau bisa jatuh?"


"Aku ingin terbang."


"Jan!" tatapan Malia terpaku pada perawat yang masih ada di sana. "Bisakah kau keluar sebentar?"


"Tentu."


Meninggalkan Malia dan Jan, perempuan berkulit putih itu memukul Jan dengan bantal. "Siaallan! Kenapa kau jatuh dari atas?!"


Malia menangis, dia pikir dirinya akan kehilangan satu satunya temannya yang ada untuknya. Dengan itu, Jan mengusap punggung Malia. "Aku sudah terluka, pergilah ke Meksiko mewakili diriku. Ayo, Malia, aku tidak ingin acara lelang kita gagal."


Malia diam.


"Ada banyak harapan dari orang orang itu padamu."


Malia diam, dia mengusap air matanya. Saat hendak mengatakan sesuatu, tiba tiba perawat yang ada di luar sana berteriak, "Nona, ada surat untukmu."


Malia segera keluar. "Aku datang."


Saat pintu tertutup, Jan tersenyum miring. Tidak sia sia dirinya mengancam Yoseph dengan bunuh diri, dengan itu Jess akan menyalahkan Yoseph jika dirinya mati.


Beruntungnya, surat itu datang lebih cepat. Surat dari Norman untuk istrinya.


****


Love,


Ig : @Alzena2108

__ADS_1


__ADS_2