
Vote sebelum membaca😘
.
.
Manik cokelat itu membuka matanya, dia menguap lebar. Matanya sembab akibat tangisan. Bukan hanya karena lukisan dirinya dan Norman yang rusak, tapi juga akibat rasa khawatirnya pada Norman. Sepanjang kemarin hujan, Malia hanya tidur. Begitupun dengan sekarang, memejamkan mata sampai sore berharap malam segera datang. Karena malam inilah Malia akan pergi ke kota di Acapulco, memiliki signal dan mengetahui keberadaan Norman.
Bangun dari tidurnya, kini Malia mulai terbiasa dengan tongkat, sambil menyeret kakinya.
Keluar dari kamar, dengan menggunakan mantel hangat.Â
Menyeret kaki kirinya, membuat bagian tumitnya tersakiti akibat menuruni tangga.
"Di mana Marc?" Tanya Malia saat dirinya berhasil mendudukan diri di sofa, rasanya lega bisa berhenti menyeret kakinya.
Pelayan yang sedang mempersiapkan makan malam itu berhenti sesaat. "Masih di kamarnya."
"Apa dia tidak akan makan malam?"
"No, Tuan Marc bilang dia ingin makan malam di kamarnya."
Jujur saja, Malia merasa tidak hidup tinggal di sini. "Apa dia bilang sesuatu? Aku akan keluar malam ini."
"SÃ, Señor Marc bilang supir akan mengantar anda ke Acapulco."
"Tunggu." Tahan Malia saat pelayan itu hendak pergi. "Apa kau menemukan ponsel yang memiliki signal itu?"
"Tidak, Señora."
Malia mengerutkan keningnya, dia jelas melihat. Dia bahkan memegang ponsel yang memiliki signal kuat itu. Namun, saat Malia menyimpannya sesaat ketika mencari seseorang, ponselnya hilang. Dia kesulitan berjalan, membuat tangan lain yang tidak memegang tongkat harus menahan tubuh dengan memegang dinding.
"Baiklah, kau boleh pergi."
"SÃ."
Seharusnya malam-malam selanjutnya Malia habiskan bersama Norman, mengingat masa periodenya akan segera usai. Sayangnya, suaminya belum kunjung pulang. Membuat Malia harus makan malam seorang diri.Â
Denting sendok dan suara angin yang menemani, di luar sana gelap, disertai gerimis yang menciptakan udara dingin. Sunyi, sepi, tanpa ada yang berucap sama sekali.
"Di mana supir itu?"
"Dia masih di basement, apa anda ingin saya memanggilnya?"
"Tidak, biar aku saja yang ke sana."
"No, Señora."
Nada tinggi pelayan itu membuat Malia yang sedang menggunakan serbet mengerutkan kening. "Ada apa?"
"Señor Marc melarang anda ke sana."
Malia lupa akan fakta itu, rasa penasarannya ingin mendobrak semua itu. Namun, waktunya hampir habis, dia harus segera menghubungi Norman. "Baiklah, tolong panggilkan dia dan sampaikan bahwa aku sudah siap."
"SÃ, Señora."
Saat Malia membuka pintu utama, udara dingin langsung menyerbunya. Membuat rambut cokelatnya yang terurai terbang. Menunggu di depan sampai mobil biru datang.
Malia melangkah penuh kekuatan, menahan rasa sakit saat kembali menuruni tangga.Â
"Anda butuh bantuan, Señora?"
__ADS_1
"No, Gracias."
Dengan ponsel dalam genggaman, Malia menunggu sampai signal kembali menghampiri. Ketika mulai memasuki wilayah Acapulco, notifikasi pesan masuk dan panggilan tidak terjawan tertera dari Don.Â
Segera dia menghubungi Don saat dalam perjalanan. "Hallo, Papa?"
'Malia, apa benar di sana tidak ada signal? Bisakah kau pindah ke tengah kota? Malia, aku ingin selalu menghubungimu.'
"Maaf, Papa. Aku sudah menjelaskan semuanya."
'Aku tidak bisa hilang komunikasi denganmu. Mana Norman? Aku ingin bicara dengannya, ponselnya tidak bisa Papa hubungi juga.'
"Norman? Dia sedang keluar untuk bekerja."
'Ponselnya tidak aktif.'
Malia terdiam. "Dia mungkin sedang bekerja, tidak ingin diganggu."
'Malia, mintalah pada Norman agar kau kembali. Kalian tinggal di sini.'
"Papa…," ucap Malia dengan suara pelan. "Norman baru saja bertemu dengan kakeknya, dia sedang bekerja di sini."
'Jika dia mencintaimu, dia pasti akan melakukannya.'
"Papa…"
'Aku khawatir denganmu, Malia. Pulanglah.'
Malia menarik napasnya dalam, dia mengangguk pelan. "Aku akan bicarakan ini dengan Norman, Papa. See you."
Menutup panggilan ketika mobil berhenti di depan sebuah caffe di tengah kota. Malia turun, hendak diam di sana sambil mencoba menghubungi suaminya. "Tunggu aku di sini."
"SÃ, Señora."
"SÃ, Señora."
Ketika Malia sudah masuk ke dalam, supir itu mendapat panggilan. "Hallo, Señor?"
'Kau sudah sampai?'
"SÃ, Señor."
'Tinggalkan dia.'
"SÃ."
Dan Malia yang baru saja duduk di dalam caffe setelah kesulitan melangkah, dirinya baru menyadari kalau dirinya meninggalkan tas di dalam mobil. Merutuki dirinya sendiri yang hanya memegang ponsel.Â
Namun, saat Malia keluar, dia tidak mendapati mobil biru itu. Malia kebingungan.
"Astaga, kemana dia?"
***
Dania terus tersenyum saat dirinya kembali dari pusat perbelanjaan permata di kota Acapulco, mendapatkan kalung baru dengan Norman yang mengantar.
"Apa aku boleh tidak bekerja lagi malam ini?"
"Terserah padamu," jawab Norman yang terus ditempeli Dania.
Keduanya masuk ke dalam lift. "Dennis mengawasiku, bisakah kau katakan padanya agar tidak menggangguku?"
__ADS_1
"Itu pekerjaanmu, Dania. Marc memberimu tugas itu bukan?"
Dania mengerucutkan bibirnya kesal, dia masih belum bisa mengendalikan Norman seperti sebelumnya. "Aku punya kenalan yang bernama Gisella, kau mau bertemu dengannya malam ini?"
"No," ucap Norman membuka pintu apartemen. "Jangan pernah memanggil wanita seperti mereka lagi."
Dania menghela napas, dia menyimpan papper bag yang berisi barang belanjaannya sambil mulai membuka pakaiannya. "Bagaimana kalau kau bersamaku malam ini? Aku membawa tali yang bagus, bagaimana?"
Norman tidak fokus, dia mengaktifkan ponselnya yang membuat Norman mengerutkan keningnya. Pesan pertama yang dia baca dari nomor yang tidak dikenal.
Sedetik setelah membaca, ponselnya berdering, dari nomor tidak dikenal lainnya. "Hallo?"
'Norman, kau membaca pesanku?'
Tubuh Norman menegang, dia tahu suara itu. "SÃ, Kakek, aku membacanya."
'Dia ada di sana, lakukan seperti yang aku perintahkan.'
Norman melangkah menuju balkon, dia membuka pintu membiarkan angin dingin menyapu tubuhnya. Manik abunya terpaku pada objek di bawahnya, tepatnya di sebrang jalan di mana seorang perempuan disabilitas sedang duduk di depan caffe sambil memegang ponsel, seperti mencoba menghubungi seseorang.
"Aku mengerti, Kakek."
'Itu hukuman pertama untuknya, Norman. Kita mulai dengan perlahan, sesuai apa yang dilakukannya.'
"Aku mengerti, Kakek."
'Ingat, katakan seperti yang aku katakan.'
Norman terdiam beberapa detik. "SÃ, Kakek."
Dan ketika telpon Marc terputus, panggilan Malia langsung menyambung pada Norman.
Pria itu kembali mengangkat panggilan. "Malia?"
'Oh Astaga, Norman. Aku sangat mengkhawatirkanmu, di mana kau? Ke mana saja? Kau baik-baik saja bukan?'
Norman terdiam, dia melihat gerak gerik Malia di bawah sana, dengan penuh kecemasan di manik cokelatnya. 'Norman?'
"Aku baik-baik saja. Aku berada di Acapulco. Aku mengalami kecelakaan dan mobilku rusak, jadi aku memanggil supir saat tahu kau juga ada di sini."
'Apa? Kau kecelakaan? Kau baik-baik saja bukan? Apa ada yang terluka? Bagaimana keadaanmu?'
"Aku baik-baik saja, Malia. Aku akan menuju mansion sekarang, kau tidak apa bukan naik taksi?"
Malia terdiam sesaat, Norman melihat ada keraguan dalam bahasa tubuh istrinya yang kini menjadi objek matanya.
'Tidak apa, aku baik-baik saja. Aku akan segera pulang, kau istriahat saja.'
"SÃ."
'Aku akan segera ke sana. I love you.'
Norman menelan ludah kasar sebelum mengatakan, "SÃ." Kemudian menutup telpon.
Dan Malia, dia bernapas lega saat tahu Norman kini akan pulang. Setelahnya dia bertanya-tanya bagaimana dirinya akan pulang, uangnya tertinggal di dalam mobil. Yang membuatnya berada di luat daripada di dalam caffe.
Sementara Norman yang berdiri di balkon menatap Malia, mendapat ciuman di punggungnya dari Dania. "Kau akan di sini malam ini, Norman? Bersamaku?"
"Akan aku gunakan tali yang kau beli."
---
__ADS_1
**Love
ig : @Alzena2108**