Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 24


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘😘


.


.


Tidak ada kesenangan yang Malia dambakan selain ini, dia tertawa lepas merasakan sejuk dan segarnya laut. Bermain jet ski membuatnya penat, menghabiskan waktu di atas kapal pesiar membuat Malia semakin tidak ingin pulang. Apalagi kini keduanya sedang sedang menatap matahari terbenam.


"Ceritakan lagi."


"Itu bukan sebuah cerita, Norman, itu kenyataan."


"Aku ingin mendengarnya lagi," ucap Norman yang duduk dan memeluk Malia dari belakang.


Perempuan itu meminum jus miliknya. "Aku bilang, Tuhan Yesus hanya akan memberi cobaan sesuai kemampuan hambanya. Jika dia memberikan cobaan yang berat padamu, maka dia mengakui kalau dirimu itu kuat. Dia tahu kau mampu melewatinya, dia tahu kau akan masuk ke dalam surga-Nya jika berhasil melewatinya dengan selalu mengingat-Nya, meminta bantuan-Nya, dan selalu menyebut nama-Nya dalam setiap langkah. Tuhan Yesus ingin kau tahu, bahwa dia ada dan mengawasi, bahwa dia mencintai umat-Nya."


Norman terkekeh. "Kau mempercayainya?"


Malia menyimpan gelasnya, dia mengadah menatap Norman yang lebih banyak menatap pada langit senja dengan manik abunya. "Aku percaya karena aku merasakannya."


"Pada bagian mana?"


Malie mengubah posisi, dia berbaring di atas pangkuan Norman. "Pada kenyataanya, Tuhan tahu aku bisa melewati posisi ini. Ketika aku tidak bisa berjalan, aku mencoba melewatinya dengan hati lapang. Dan kenyataannya, Tuhan memberiku hadiah yaitu bertemu denganmu."


Norman masih dengan tatapan pada senja, dia seolah menatap hampa tanpa tenaga. "Kau marah pada Tuhan? Atas apa yang terjadi?"


"Norman, setiap kejadian punya alasan, dan setiap alasan memiliki hikmah yang besar. Lihat dari sudut berbeda. Jika aku tetap berjalan, mungkin aku sudah menjadi penari sukses yang dikerumuni teman-teman palsu, aku akan terpengaruh pada pria kaya yang. Jadi, Tuhan membuatku tidak bisa berjalan agar menghentikanku pada jalan yang lebih menyakitkan."


"Bagaimana jika Tuhan memberimu ini, dan mungkin jalan yang kau lalui lebih menyakitkan?"


"Apa?" Malia mengadah, dia terkekeh saat tangan Norman terangkat menyentuh kepalanya. "Pasti ada alasan jika dia membuatku memilih jalan yang salah, mungkin saja jika aku tahu kau suami yang menyebalkan aku akan bertemu dengan pria yang lebih baik."


Fokus Norman seketika teralihkan. "Apa katamu?"


"Akan ada saatnya badai berhenti, ada kalanya malam berganti. Semua yang kita lakukan pasti akan ada akhirnya, begitu pula dengan rasa sakit. Jadi, cukup jalani, nikmati dan syukuri, dengan begitu kau bisa melawan dunia."


Kalimat yang indah di telinga Norman, mengingat Tuhan memberinya rasa sakit untuk sebuah alasan, untuk memberinya kebahagiaan. Baginya, itu adalah sebuah kebohongan. Namun, pada kenyataanya kebohongan itu mulai menguasainya, di mana dadanya yang selalu berdetak kencang mendapatkan rasa tenang saat mendengarkan untaian kalimat dari istrinya.


Apakah Tuhan sebaik itu?


Apakah Tuhan memberinya kesakitan untuk kebahagiaan?


Dan pada akhirnya, kenapa harus ada kesakitan sebelum kebahagiaan?


Kalimat yang selalu dipertanyakan Norman. 


"Hei ayolah, berhenti melamun," ucap Malia mengusap dagu suaminya. "Kau terlihat menakutkan saat terus saja diam seperti itu."

__ADS_1


Norman masih terdiam.


Malia kembali mengeluarkan suara, "Oh ya, berapa jumlah kekayaanmu? Kapal pesiar ini salah satunya, apa masih banyak lagi yang kau miliki?"


"Uangku sangat banyak hingga bisa membuatmu terpengangah."


Malia terkekeh, dia mencoba berdiri dengan tongkatnya.


"Kau mau ke mana?"


"Tidak kemana-mana," jawab Malia, karena kenyataannya dia hanya ingin mengambil botol jus yang lain. Dan kembali duduk di pangkuan Norman.


Pria itu memeluknya dari belakang, mencium punggung istrinya cukup lama. "Apa biasanya masa periode cukup lama?"


Malia tertegun, dia mengerti. "Hanya satu minggu. Maaf akhir pekan yang mengecewakan."


Norman tidak menjawab, yang mana membuat Malia semakin merasa bersalah. Mereka sudah menikah, dan Norman belum mendapatkan apa yang dia butuhkan sebagai seorang pria. Mengalihkan pembicaraan, Malia bertanya, "Kau ingin berapa anak?"


Norman tidak menjawab kembali, pertanyaan itu seharusnya menjadi angan baginya. Apalagi ketika Marc menelponnya.


"Hallo, Kakek?"


'Norman, pulang.'


***


"Ya, kakekku meminta kita pulang sekarang."


"Sesuatu terjadi?"


"Dia kesepian."


Kenyataaan menyakitkan bagi Malia, dia kembali mendapatkan perlakuan dingin. Seolah kenangan di Puerto del Marqués hilang tanpa jejak. Norman bahkan keluar duluan, dan menelpon di dekat mobil. 


Malia dengan kesusahan melangkah, menyeret kakinya supaya tahu apa yang terjadi. Dan Norman sudah berada di dalam mobil, Malia segera bergabung. "Kita berangkat sekarang? Bagaimana dengan barang-barang?"


"Mereka akan membawakannya, jangan khawatir," ucap Norman menyalakan mesin mobil.


Seterusnya, keheningan mendominasi.


"Norman, apa kau yakin baik-baik saja?" Malia menyentuh tangan Norman yang mengepal kuat. "Kau tidak apa?"


"Tidak, aku baik-baik saja. Berhenti menanyakan itu, Malia."


"Maaf, aku hanya khawatir padamu. Lihat, kau berkeringat lagi." Malia mengusap keringat yang bercucuran di kening suaminya. "Kau sepertinya tidak sehat."


"Berhenti bicara, Malia."

__ADS_1


Seketika itu Malia bungkam, dia hanya menatap pepohonan yang dilewati. Bahkan ketika sampai di mansion, Norman turun lebih dulu.


"Bantu Malia," perintah Norman pada pelayan.


"Sí, Señor."


Dan Malia benar-benar merasakan rasa sakitnya. "Apa sesuatu terjadi pada Marc?"


"No, Señor Marc baik-baik saja, Señora."


"Pasti sesuatu terjadi, Norman sampai tidak fokus. Apa yang Marc inginkan mungkin?"


"Tidak ada, dia hanya merindukan cucunya."


Malia mengangguk paham, dia melangkah dibantu pelayan wanita berwajah datar itu. "Apa yang dilakukan Marc selama aku dan Norman pergi?"


"Hanya tidur dan menunggu."


Ketika menaiki tangga, Malia memilih bungkam dan menghabiskan tenaganya untuk melangkah. Sampai bokongnya menyentuh kasur, baru Malia merasakan kenikmatan. "Gracias."


"Ada yang bisa saya bantu? Hal lainnya?"


"Ya, bisa kau bawakan aku air minum?"


"Sí, Señora. Ada hal lain lagi?"


"No, hanya itu. Dan tolong lihat Norman ada di mana."


Pelayan itu pergi tanpa sepatah kata.


Malia sendirian, dia merogoh saku tempatnya menyimpan sebuah permen bulat berukuran besar yang didapatkannya dari Dania. "Aku akan menunggu sambil memakan ini."


Dan untuk permintaan terakhir Malia, dia melihat Norman masuk ke koridor menuju kamar Marc.


Memang benar, Norman menuju ke sana. Membuka pintu yang membuatnya takut, keringat bercucuran di tubuhnya.


"Norman, aku rasa kau berbuat kesalahan."


"Tidak, Kakek, aku anak yang baik."


"Ya, kau berbuat kesalahan. Kau menyukainya bukan?"


---


**love


ig : @Alzena2108**

__ADS_1


__ADS_2