
Vote sebelum membacašš
.
.
"Sayangā¦.." Louis memeluk Lucia yang menggendong Leon. "Kenapa kau tidak bilang akan datang?"
"Kau tidak akan mengizinkan."
"Oh my prince Leonā¦." Louis menurunkan Louisa dan beralih menggendong Leon, dia menciumi pipi putranya yang masih bayi. "I miss you too, Baby."
"Jadi, Louis, bagaimana keadaan adikmu?"
"Papaā¦" Louis menatap sesaat. "Kenapa kalian datang?"
"Karena kau tidak membawa anakku pulang."
"Maaf, Papa. Aku sudah beritahukan keadaannya."
"Andrean agak tidak sehat," ucap Lucia. "Bisakah kita istirahat di hotel?"
"Ya, tentu," ucap Louis memimpin jalan. "Aku sudah memesan kamar, hotel tempatku dulu."
"Andrean ingin yang lebih dekat dengan Norman," ucap Lucia lagi.
"Baiklah," ucap Louis mengalah.
Mereka naik taksi, dan Louis menyerahkan semuanya pada Lucia. Louis naik taksi bersama keluarga kecilnya, sementara Andrean bersama dengan perawatnya.
"Sayangā¦."
"Jangan di sini, Louis."
"Baiklah." Louis kembali menutup mulut.
"Daddy?"
"Yes, Lee?"
"Bagaimana kabar Malia?"
"Kau akan melihatnya nanti."
"Aku tidak sabar."
Louis terpaku pada Leon setelah mencium puncak kepala Louisa. Bagaimana bayi itu menggeliat dan menguap lebar. "Apa dia tidak rewel?"
"Tidak jika dipangkuanmu, Louis."
"Sayang, kau tahu apa yang aku lalukan."
"Ya, dan aku bangga padamu," ucap Lucia memberikan kecupan di pipi Louis.
Dia turun lebih dulu saat sampai. Perhitungan Louis, jarak dari hotel ini ke kediaman Norman hanya 10 menit saja.
"Kita akan menemui mereka nanti malam."
"Aku setuju."
"Anak anak butuh istirahat."
"Ya, aku lihat singaku butuh ruang bebas."
Lucia menatap Louis seketika, seolah ingin memakannya hidup hidup.
"Ada apa, Sayang?"
"Jaga ucapanmu, ada Louisa di sini."
"Apa yang salah?"
"Singamu itu," ucap Lucia penuh penekanan.
"Well, aku bicara tentang Leon."
Seketika Lucia diam, dia lupa makna anak bungsunya itu. Pikirnya, Louis rindu berduaan dengannya. Dan singa yang dimaksud Louis bukanlah kejantanannya, melainkan putranya.
"Sayang?"
__ADS_1
"Diam," ucap Lucia menggendong Louisa dan berjalan lebih dulu.
Louis terkekeh dibuatnya, dia menunggu Andrean sebelum masuk ke dalam dan menyusul istrinya.
Saat taksi yang ditumpangi Andrean datang, Louis bertanya, "Kenapa taksi yang ditumpangi kalian lambat?"
"Aku melihat Norman tadi, jadi aku diam sebentar."
"Papa bicara dengannya?"
"Tidak," ucap Andrean sedih.Ā
"Tenanglah, Papa. Kita akan menemuinya nanti."
***
"Anak anak sudah tidur," ucap Lucia keluar dari kamar.
"Lalu?"
Lucia mengerucutkan bibir kesal. "Louis!"
Kenyataannya pria yang sedang duduk di balkon menatap pantai itu tengah sibuk dengan gadget di tangannya. Yang membuat Lucia merebutnya, lalu duduk di pangkuan suaminya.
"Hei, aku hampir menang."
"Itu yang kau lakukan selama di sini? Bermain game?"
"Well, aku tidak punya mainan beberapa hari ini. Kenapa tidak?"
"Kau suka bermain rupanya?"
"Sebagai pemberitahuan saja, mainanku telah dirampas oleh dua penjahat kelas kakap. Bahkan tidak ada waktu untuk menelpon."
Lucia tertawa, dia merangkup pipi Louis dan mencium bibirnya dalam. "I miss you too, SeƱor."
"Ahā¦. Aku masih merasa sedang berkencan dengan sosok SeƱorita."
"Aku masih muda, kau yang tua."
Louis tertawa kesal. "Ha ha ha, Lucu sekali kau."
"Kau tahuā¦.." Lucia menyandarkan kepalanya di dada Louis. "Andrean banyak menangis sepanjang perjalanan."
"Seberapa parah?"
"Sangat parah."
"Apa yang Norman lakukan?"
"Dia mengurung Malia dan menyiksanya secara fisik dan mental. Parah bukan?"
Lucia menegakan tubuhnya. "Well, aku ingat seorang wanita muda juga pernah diperlakukan seperti itu, lebih parahnya lagi pacar dari pria yang mengurungnya juga ikut menyiksa. Dikurung di kandang macan, tidak diberi makan berhari hari sampai dehidrasi."
Tubuh Louis menegang, dia menatap Lucia yang fokus menatap pantai.
"Sayangā¦."
"Ah, masa lalu, sedikit pahit bukan."
Sebelum Louis mengeluarkan suara, Lucia lebih dulu masuk ke dalam dan menuju kulkas. Louis segera menyusulnya. "Sayangā¦"
"Merasa tersinggung?"
"Ayolah, ada masalah apa? Beritahu aku?"
"Oh, entahlah. Setiap hari dua penjahat kelas kakap selalu menempel padaku, dan saat malam hariā¦." Lucia berbalik. "Aku tidak mendapatkan mainanku sebagai penghibur."
Louis mendekat, berdiri di depan Lucia yang memainkan soda dalam kaleng di tangannya. Louis mengambilnya dan menyimpannya, dia kemudian memeluk Lucia. "Maafkan aku."
"Untuk apa?"
"Terlalu lama."
Lucia membalas pelukan. Dia menghela napas dalam. "Aku mungkin bisa dibilang lebih baik dari Malia, aku bertahan karena memiliki Louisa. Dan kau juga tidak mengambil siapapun dariku. Namun, Malia, Norman mengambil Papanya, dia menyiksanya secara mental dan fisik."
Louis mencium puncak kepala Lucia.
"Beritahu aku apa yang kau inginkan."
__ADS_1
Lucia tersenyum, dia mengadah menatap suaminya. "Jika Malia ingin pergi, cegah adikmu jika melakukan sesuatu yang gila. Malia berhak bahagia dengan caranya."
Louis mengangguk. "Aku mengerti."
Saat mereka berdekatan, hendak berciuman, pintu kamar hotel diketuk cukup keras.
"Biar aku saja," ucap Louis.
Dia datang keluar, terkejut melihat kedatangan perawat Andrean yang terlihat kacau.
"Ada apa?"
"Tuan Andrean bersikeras ingin pergi sekarang, tapi kakinya sakit, dia memaksakan diri dengan merangkak."
Louis menarik napas dalam, semuanya mulai diluar kendali saat ini.
"Aku akan menemuinya dan memberinya pengertian."
***
Mataharu mulai terbenam, Norman masih setia menatap Malia yang terpejam. "Buka matamu, Sayang."
"SeƱor, ini waktunya untuk SeƱora mengganti cairan."
Norman berdiri, dia berjalab mundur. "Beritahu aku jika selesai dengannya."
"Baik, Tuan," ucap perawat yang menangani Malia.
Norman turun ke lantai satu, di sana ada Jan yang baru datang dengan beberapa koper di dalamnya.
"Jan."
"SeƱor."
"Aku percayakan Malia padamu, di mana saudarimu?"
"Dia ada di luar, SeƱor. Bicara dengan Yoseph."
Tanpa berkata apa apa lagi, Norman keluar untuk menemui Jess. Dia ingin menyerahkan semuanya.
"Jess."
"SeƱor."
"Apa yang kalian bicarakan di halaman rumahku?"
"Tidak ada, aku hanya menyuruhnya tetap berada di sini, SeƱor."
"Kau ingin pulang, Yoseph?"
"Tidak," ucap Jess yang menjawab.
"Aku bertanya pada Yoseph, Jess."
"Ya, aku ingin kembali."
"Aku tidak bisa kembali tanpa majikanku," ucap Jess dengan cepat.
"Tidak, Jess. Kau harus kembali dan jalankan kembali El Sinaloa."
"Itu milikmu, SeƱor, bukan milikku."
"Tapi hanya kau yang bisa menggantikanku."
"Kau tidak bisa seenaknya menunjuk seseorang, SeƱor. Aku tidak bisa menanggung beban itu."
"Bisakah kalian tidak bertengkar?" Tanya Yoseph.
"Jess."
"Kau pemiliknya, aku hanya bisa membantu."
Dan perkataan Norman terpotong saat dia melihat sebuah mobil masuk ke pekarangan rumahnya.
"Apa pemindai itu tidak aktif?"
"Mungkin mereka orang yang kau kenal, SeƱor," ucap Jess.
Dan benar saja, sebuah keluarga yang datang untik memeluk Norman. Andrean dengan tongkat kayunya datang sambil menangis dan berkata, "Anakkuā¦. Kemarilah, Papa merindukanmu."
__ADS_1
Saat itulah Norman tidak memiliki tenaga bahkan untuk berkata, dia membiarkan Andrean datang dan memeluknya erat. Pria tua itu tahu apa yang terjadi, dan dia ada di sana memeluk putranya saat ini.
"Tidak apa, Papa ada di sini sekarang."