
Vote sebelum membaca😘😘
.
.
Untuk anakku Enrique,
*Jika kau sampai membaca ini, berarti semua perkiraanku benar. Marc memberikan sudut pandang yang salah mengenai Don Van Allejov. Norman, saat aku kecil, aku selalu sendirian, kesepian dan bersama siksaan dari seorang Papa yang psikopat. Papa yang sibuk akhirnya melihatku kesepian, hingga akhirnya dia mengadopsi seorang anak perempuan yang umurnya lebih muda dariku.Â
Awalnya, aku pikir semuanya baik-baik saja. Aku mulai menuruti perkataan Papa lagi mengingat dia sudah berubah. Namun, kenyataannya tidak, Papa diam-diam selalu menyiksa adik angkatku, sampai aku menemukannya sendiri. Papa ternyata menyukai Diana, hingga dia menyiksanya saat mendapati adikku berinteraksi dengan orang lain. Sungguh hubungan yang tidak normal.
Aku membantunya pergi dan menitipkannya pada temanku yang bernama Don. Sampai suatu hari, aku menemukan fakta bahwa hidupku tidak akan lama lagi. Papa yang dulu sering menyuntikan narkoba ke tubuhku, akhirnya membuatku mendapatkan efek samping. Hidupku tidak bertahan lama, yang mana membuatku memilih jalan ini. Diana, perempuan yang sudah aku anggap sebagai adik juga sakit akibat ulah Papa. Jantung dan hatinya tidak bisa berfungsi dengan normal.Â
Keputusan itu datang, aku menyumbangkan organ dalam untuk Diana, agar dia bisa bertahan hidup. Setidaknya dia masih memiliki alasan untuk tetap bernapas. Itu sebabnya Don menjadi seorang pembunuh demi Diana, dia mencari organ yang cocok untuk wanita yang dikasihinya.Â
Dan Papa, dia sangat membenci Don karena merebut anak yang dia kasihi sebagai wanita.
Maafkan Mama, Norman, kau harus menderita karenaku. Semua yang kau alami, semua yang kau rasakan, itu semua memang salahku. Maafkan Mama tidak bisa bernapas lebih lama untukmu, maafkan Mama yang tidak bisa melindungimu.Â
Mama menyayangimu lebih dari apapun. Jika ada yang bisa ditukarkan dengan dirimu, Mama akan melakukannya. Apapun untukmu, akan Mama lakukan. Meskipun Mama tidak lagi menghirup udara yang sama denganmu, tapi Mama akan selalu menyayangimu.
Hiduplah dengan baik, putraku. Kau masih diberi kesempatan bernapas, lakukan apa yang ingin kau lakukan. Hiduplah dengan bebas, jangan biarkan Marc mengendalikan hidupmu*.Â
Aku menyayangimu, Norman. Allways and Forever.
Seketika manik Norman terbuka mengingat apa yang dia baca dalam surat. Sampai akhirnya dia sadar bahwa tubuhnya tengah diikat. "Apa ini?"
"Holla, Señor."
"Jess? Lepaskan ini."
"Maaf, Señor, tidak bisa aku lakukan."
"Apa?" Pria itu mencoba berontak membuka borgol di tangan dan juga kakinya. Memasangnya pada kerangka ranjang yang membuat Norman kesulitan bergerak. "Jess!"
"Bagaimana caranya masuk ke mansion Marc Derullo?"
"Apa?"
"Aku hendak masuk ke sana, dan membawa istrimu dari kekejaman kalian, Señor. Lebih baik kau memberitahuku, karena jika tidak aku akan membunuhmu."
"Jess, lepaskan aku."
"Tidak, katakan padaku jalannya."
"Kau membuang waktuku," ucap Norman berteriak. "Aku harus menyelamatkan istriku!"
__ADS_1
Dan Jess tahu itu bukan main-main. Kemampuannya membaca dari raut wajah seseorang, Jess segera melepaskan ikatannya. Dia membiarkan Norman menggerakan tubuhnya dan duduk di atas ranjang sambil meregangkan tubuh.
"Bagaimana kau tahu aku di sana?"
"Aku mengawasi Dennis sejak lama, Señor. Dan dia banyak memiliki rencana bersama Dania untuk membunuh Malia."
Norman menegang, dia tahu kedua orang itu mengkhianatinya. Tanpa berpikir panjang, Norman berdiri.
"Kau mau ke mana, Señor?"
"Kau tahu aku hendak kemana Jess."
"Biarkan aku membantumu."
Dan ketika keluar dari kamar, Norman berhenti. Menatap sebuah lab kecil berantakan.Â
Jess segera menjelaskan. "Maaf, Señor, aku membuat obat sendiri."
"Jenis apa?"
"Dennis menyuntikan narkoba dosis tinggi pada setiap wanita yang dia culik, aku mencoba membuat penawarnya."
Norman mengerti. "Bagus, kau berguna."
"Biarkan aku ikut, Señor."
"Tentu, kau yang akan memakan Marc."
Marc, dibantu dengan tongkat, diikuti oleh Dennis dari belakang menuju mobil. Membuka bagasi. "Bawa dia, ikat dia di atap."
"SÃ, Senior."
"Dan bawa Malia ke sana juga."
"SÃ."
Marc dengan tenang melangkah kembali ke dalam, dia masuk ke dalam kamarnya dan membuka tirai yang selama ini menutup. Dia menekan sebuah tombol, sebagai tanda bahwa dirinya membutuhkan pelayan.
"Anda memanggil saya, Señor?"
"SÃ, dandani aku," ucapnya dengan merentangkan tangannya.
Beberapa pelayan wanita yang berada di sana melakukannya dengan wajah datar. Dia membuka pakaian Marc, mengelap tubuhnya dengan kain hangat sebelum memakaikan jas hitam lengkap dengan dasinya. Marc juga diberi riasan di wajah supaya tampak segar, dengan rambut yang dirapikan dan nampak klimis.
"Anda sudah siap, Señor."
Dan ketika Marc membuka matanya, dia melihat pantulan dirinya dalam cermin. Terlihat sangat gagah dan muda, mengingatkan Marc akan kejahatan di masa mudanya. Tidak pandang bulu, Marc bahkan membunuh kekasihnya yang telah melahirkan putri untuknya. Semua yang salah di matanya harus mati, itulah prinsip hidup Marc.
__ADS_1
"Apa Malia sudah siap?"
"Señor Dennis sedang menuju ke kamarnya."
Benar saja, tepat tengah hari, pada jam 12 siang, Dennis masuk ke kamar Malia. Membuat perempuan bergaun pengantin itu menatap ketakutan.
"Dennis?"
Dari sorot mata dan tatapan, Malia tahu Dennis tidak berada di sisinya.
"Holla, Malia."
"Mau apa kau? Jangan mendekat dan per-- Aaaaakkhhh!" Malia menjerit tatkala Dennis membopongnya layaknya karung beras.
Dia berusaha meronta, tapi tenaga Dennis jauh lebih kuat. Ketakutannya semakin bertambah saat Dennis menaiki tangga gelap menuju bagian atap mansion.
"Turunkan aku, aku mohon lepaskan aku!"
"Diamlah!"Â
"Lepaskan aku!"
Dan Malia baru berhenti bicara saat sampai di atap mansion, matanya berair menatap Don. Di sana juga ada Marc.
"Papa! Papa! Bangun, Papa!"
Marc tertawa saat Dennis menjatuhkan Malia di atas rumput yang panas oleh terik matahari. Dennis menahannya.
"Papa!"
Seketika itu pula, Marc membuat Don mulai sadar. "Malia…..?"
"Papa! Papa! Lari, Papa! Pergi!"
Tawa Marc semakin kuat, dia berjongkok untuk menatap Don. "Hallo, Don, kau ingat aku? Tentu aku mengingatmu, kau membuat kedua putriku mati!"
"Kau penyebabnya, kau menyiksa mereka berdua dan menyuntikan zat yang membuat mereka mati perlahan."
"Seperti ini?" Marc mengeluarkan sebuah jarum suntik dari balik jasnya.
"Tidak! Malia!"
"Papa!"
Marc berdiri, dia melangkah ke arah Malia. "Lihatlah, Don Van Allejov, putrimu akan mati dengan ini! Akan aku lakukan itu padanya!"
--
__ADS_1
**Love,
ig : @Alzena2108**