
Vote sebelum membaca😘😘
.
.
Perjalanan ke Puerto Del Marqués, Norman mengendarai skuter milik Jess. Berpenampilan layaknya pria perpustakaan dengan gelagatnya yang seperti itu.
Norman perlu memastikan sesuatu, dia datang ke pelabuhan dengan tingkah layaknya orang idiot, sambil membawa buku dan pensil.Â
Persis seperti turis idiot yang tersesat. "Holla, aku Freedy dari Autria ingin mewawancarai kalian," ucapnya pada kantor pusat pelabuhan.
"Usir dia," perintah salah satu orang di sana.
"Aku hanya ingin mewawancarai kalian."
"Pergilah, ayo akan aku bawa ke kantor polisi, apa kau tersesat?"
"Tidak aku hanya mencari informasi, aku calon wartawan di sini."
"Tidak, ayo pulanglah."
Norman memerankan perannya dengan baik, dia mengamuk dan mendorong mereka semua untuk masuk ke tempat dimana ada banyak informasi yang diperlukannya.
"Diamlah!" Norman ditangkap oleh dua orang pria.
Kenyataanya, tenaga Norman jauh lebih besar. Dia dengan mudah mengibaskan tangannya, mendorong yang menghalangi dan masuk ke pusat informasi.
Sampai pintu dikunci, Norman baru mengeluarkan senjatanya pada tiga orang yang berjaga di sana. "Aku perlu melihat di mana posisi kapal pesiar Teddy Bear."
"Apa?"
Mereka mengangkat tangannya ketakutan.
"Jangan berani menekan tombol itu," ucap Norman mendekatkan senjata api pada salah satu orang yang hendak menekan tombol darurat.
"Baik, baik, aku tidak akan melakukannya." Dia mengangkat tangannya kembali.
"Aku hanya perlu posisi kapal itu. Cari!"
Dan salah satunya melakukan perintah Norman.
"Dimana dia?!"
"Kapal pesiar itu sedang diperiksa oleh militer di perbatasan yang masuk ke Puerto Del Marques, dia dicurigai mengangkut barang ilegal."
"Dan muatannya?"
"Tenanglah." Pria itu mencari informasi dalam komputer. "Sebuah kotak keluar dari sana, dibawa oleh kapal lokal yang membawa ikan."
Norman menyeringai, setidaknya satu senjatanya telah datang. Dia mengeluarkan beberapa batang emas dari dalam sakunya. "Tutup mulut kalian dengan itu."
Memastikan mereka tergiur dengan emas, Norman memasukan senjata dan keluar dengan bertingkah seperti orang idiot sambil berlari. Dia membawa skuter dengan ugal-ugalan sebelum akhirnya melempar benda itu di sembarang tempat.
Louis membantunya, dia tetap mengirimkan Alpha. Dan Norman harus memastikan bahwa Alpha dibawa ke Campo Morado. Orang yang mengangkutnya hanya tahu kotak itu berisi ikan spesies langka, Norman harus bersiap untuk mencegatnya.
Namun, ketika dirinya kembali mengubah penampilan menjadi biasa. Seorang polisi berteriak, "Hei! Kau yang di sana berhenti!"
Norman tahu itu bukan untuk diberi permen, dia kembali berlari dan mencari celah untuk membaur dengan turis yang lain.
"Berhenti di sana!"
Kebetulan, di pantai terdapat festival bikini. Norman membuka pakaiannya dan menyisakan boxer untuk menari dengan salah satu wanita di sana.
"Holla tampan?"
"Hai, apa kau punya mobil?"
"Tentu, kita mau ke mana?"
__ADS_1
"Kau punya pasangan?"
Wanita itu menggeleng. "Aku sendirian."
"Mau pergi."
Dia terkekeh dan mendekatkan bibirnya pada leher Norman. "Kemana, tampan?"
"Aku punya villa, kau ingin ke sana?"
"Ya, tapi aku perlu pergi ke kamar hotel untuk mengambil kunci mobil."
Norman mengangguk, dia mengambil asal kaos milik pria lain demi menghindari tatapan polisi. Beruntungnya dia punya wajah tampan yang mampu membius wanita. Seperti saat ini, dia dibawa ke kamar hotel wanita yang tidak dikenalnya.
"Darimana asalmu, Freedy?"
"Austria, bagaimana denganmu?"
"Aku dari Kanada, aku harap aku menemukan jodoku di sini."
Norman tersenyum, dia mencium punggung tangan wanita itu sebelum keluat dari sana. Mengendarai mobil sport miliknya, Norman yakin dia wanita kaya. Dan akan menambah masalah jika membunuhnya, maka darinya, Norman menurunkannya di pertigaan tengah hutan.
"Pergi ke sana, di sana ada villa besar milikku."
"Kenapa tidak bersama denganmu?"
Norman terkekeh, dia berbisik, "Aku harus membeli pengaman untuk kita."
Wanita itu mudah tertipu, dia menurut dan pergi ke mansion tempat Norman tumbuh.
Sementara pria itu pergi mengendarai mobil menuju Campo Morado. Berhenti sejenak untuk mengisi bensin, sampai Norman sadar bahwa wajah dirinya dan wajah Malia ada di ponsel milik setiap orang. Bahkan channel lokal menayangkannya, mengatakan bahwa jika ada yang melihat salah satunya segera menghubungi polisi.
"Sial, mereka menyebar luas pencarian, aku harus menghancurkan otaknya."
***
Untuk sesaat, rombongan berhenti di sebuah pom bensin sambil beberapa turun untuk membawa cemilan. Malia tetap diam dalam mobil, diapit oleh Jan dan Jess. Dengan dua pria yang duduk berhadapan dengannya.
"Kami sama," ucap Jesa mewakili keduanya.
"Hei ayolah, Jess, aku bertanya pada salah satu selain dirimu." Pria bertatto di seluruh tubuhnya itu menatap Malia. "Kau cantik jika tidak memiliki luka di wajahmu."
Beruntungnya Jan bisa melukis dengan baik, dia menggambarkan luka yang sangat realistis di wajah Malia.
"Kakimu juga cacat, sayang sekali."
Malia kini berani menjawab, "Aku tidak peduli, aku cacat karena balapan liar bersama penghina musik rock."
"Keren, apa kau akan ikut dengan kami?"
"Tidak." Jess menjawab lagi. "Kami akan turun begitu sampai di Guererro."
"Astaga, Jess, aku bertanya pada temanmu. Lihatlah tampilanmu, kau rocker sejati."
"Aku sangat tersanjung," ucap Malia mencoba tidak panik.
Jan yang lebih banyak menatap keluar itu akhirnya mengatakan sesuatu, "Aku akan keluar membeli beberapa makanan untuk kita."
Jess yang mendapatkan tatapan meminta izin akhirnya mengizinkan. "Beli cemilan ringan yang enak."
Dan mereka tidak tahu siapa nama asli masing-masing orang yang menumpang, kecuali Jess. Malia disamarkan menjadi Aliah, dan Jan disamarkan menjadi June.
Jess siap dengan hal terburuk, berbeda dengan kedua orang yang bersamanya.
"Malia, apa kau ingin ke toilet?"
Itu sebuah isyarat, yang membuat Malia mengangguk.
"Kami akan berangkat dua puluh menit lagi, percepat aktivitas kalian."
__ADS_1
"Aku mengerti," ucap Jess saat sang supir mengingatkan, dia melangkah membantu Malia ke sebuah rest area. Pergi ke toilet di mana bagian itu sepi.
"Sampai di mana kita, Jess?"
"Sebentar lagi, sabarlah. Sebelum matahari terbit besok, kita sudah keluar dari Guererro."
"Dan kemana kita setelahnya?"
"Norman menyiapkan kapal pesiar kecil untuk kita pergi ke Malibu."
"Malibu?"
Jess menggigit bibirnya, seharusnya dia tidak mengatakan rahasia Norman untuk Malia.
"Katakan padaku, kita akan ke Malibu?"
"Ya jika berhasil, kita akan ke sana untuk liburan."
Mendengar orang mendekat, Jess bergegas menutup pintu kamar mandi. Membuat mereka berdua di dalam sana. Namun, menghindari kecurigaan, Jess bergelatungan hingga hanya kaki Malia yang nampak, perempuan bermanik cokelat itu duduk di atas closet.
"Dia sudah keluar," ucap Malia memberi isyarat.
"Mereka baik, cukup jawab mereka sesuai yang aku katakan."
"Adakah cara aku bicara dengan Norman?"
Jess menggeleng.
"Lalu bagaimana kita mendapat tanda darinya?"
"Dia yang akan menghubungi kita, bukan kita."
"Dan apa yang terjadi jika dia tidak kunjung menghubungi?"
Jess diam, memberikan banyak penjelasan lewat tatapan matanya.Â
"Aku mengerti."
"Lakukan apa yang ingin kau lakukan di sini, aku menunggu di luar pintu," ucap Jess keluar meningalkan Malia.
Dan saat itu, Jan yang sedang membeli beberapa cemilan bertemu dengan salah satu anggota rock yang memberinya tumpangan, pria berambut panjang itu bernama Rafe.
"Hallo, June, kau membeli banyak makanan."
"Ya, untuk temanku."
"Ingin beer?"
Jan menggeleng, dia ingin pergi cepat, tapi tangannya dicekal. "Bisa bantu aku mengambil beer ini?"
Jan terpaksa melakukannya, dia memegang beberapa botol dengan kesusahan menuju kasir.
"Tunggu, bekas jahitan di tanganmu luntur."
Manik Jan melotot, dia lupa memberikan sentuhan cat permanen.
Pria itu tertawa. "Itu palsu?"
Jan tetap diam. "Jangan bilang…. Kalau yang ada dalam wajah Aliah juga palsu?"
Jan kesulitan menjawab, membuat pria itu tertawa kuat. "Dia cantik tanpa luka, akan aku hapus noda di wajahnya."
"Kami melakukan itu karena kecintaan kami terhadap rock. Ayolah, Rafe, jangan melakukannya. Kasihan dia wanita cacat yang ingin berbaur dengan sejenis kita."
Dan pria itu meninggalkan Jan begitu sana dengan tawanya, membuat Jan ketakutan setengah mati.
"Ya ampun, kesalahan lainnya aku buat lagi."
---
__ADS_1
**Love,
ig : @Alzena2108**