Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 41


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘


.


.


Malia membuka matanya, hanya bagian itu yang bergerak. Silaunya sinar matahari, membuatnya merasa hidup. Jantung Malia berdetak kencang, tubuhnya tidak bisa digerakan. Namun, Malia tahu rasa sakit itu perlahan mereda. Seseorang mengangkatnya dari kegelapan itu, Malia tahu, Tuhan itu ada.


"Señora?"


Malia bahkan tidak bisa menengok, tatapannya terpaku pada kaca besar yang memperlihatkan luasnya hutan. Menatap sambil meneteskan air mata, Malia bersyukur masih diizinkan melihat keindahan itu.


"Señora, aku membawakan sarapan dan obat untukmu," ucap pelayan yang masuk dengan sebuah nampan. 


Dia berjongkok di pinggir ranjang, membiarkan Malia minum dengan menggunakan sedotan. "Anda harus makan, Señora."


Dan Malia hanya pasrah ketika seorang pria mengangkat tubuhnya dan memaksanya untuk duduk. Bersandar di kepala ranjang, diganjal oleh beberapa bantal, Malia dipaksa untuk tegak.


"Makan ini, Señora, ini akan memberimu energi."


Malia melakukannya, setiap suapan bubur gandum yang masuk ke mulutnya membuat energinya semakin bertambah. Dia menarik napasnya dalam merasakan kekuatannya mulai kembali, meskipun tidak sepenuhnya.


"Makan lagi, Señora."


"Sudah cukup."


"Anda ingin buah?"


Malia ingin menanyakan alasan dirinya kembali ke sini, tapi untuk mendapatkan kenyataan pahit, Malia butuh tenaga. Dia mengangguk membiarkan pelayan itu mengupaskan buah kiwi untuknya. 


"Ada lagi yang ada inginkan?"


Malia yang diam sambil mengunyah menjelaskan semuanya. Malia menatap tubuhnya yang dibalut gaun tidur pendek, luka sayatan di tubuhnya tertutupi oleh obat luka. Beberapa sayatan yang dalam dibalut oleh perban. 


"Dimana Norman?"


"Señor Norman belum kembali sejak semalam."


Malia melihat sekitar, banyak benda-benda milik Dania di sini. "Dan Dania?"

__ADS_1


"Dia pergi bersama Señor Norman."


Jantung Malia berdetak kencang, mengingat bagaimana mereka berdua bermain di belakangnya tanpa belas kasihan. Dan memberikan luka yang sangat mendalam. "Ada yang anda inginkan, Señora?"


"No, Gracias."


Dan Malia tahu, ketika pelayan itu keluar, Marc masuk. Pria itu akan memberikan rasa sakit yang lain untuk Malia. Dia memejamkan mata, menggenggam selimut erat, Malia ketakutan saat ini.


Bagaimana sosok pria tua dengan tongkat berjalan mendekatinya, dengan senyuman layaknya seorang psikopat mengerikan. "Holla, Malia."


"Aku mohon lepaskan aku, Marc. Jangan sakiti aku, pasti ada kesalah pahaman, Papaku tidak seperti itu."


Dan Malia menelan ludahnya kasar tatkala Marc duduk di sofa lalu memainkan sebuah belati kecil. Dia kecil, tapi Malia tahu akan menyakitkan bila dia kembali menyakiti kulit tubuhnya. 


"Aku yakin ada penjelasan…."


"Ya, penjelasannya adalah Don seorang penjual organ tubuh manusia, dan dia menjadikan putriku yang mencintainya sebagai barang dagangan, dia menyobek dadanya dan mengambil jantung dan hatinya."


Malia menggeleng. "Tidak, Papaku tidak melakukannya."


"Dia melakukannya!"


Marc tertawa, menggelegar layaknya seorang psikopat. Dia menyobek sofa dengan belati, menganggap itu adalah wajah Malia. "Kau tahu, Malia, Don datang ke Meksiko. Kami sedang mencarinya, dan akan aku bawa dia ke sini untuk melihatmu mati."


"No, please, jangan lakukan ini, Marc," ucap Malia dengan tangisan pedihnya.


Marc malah tertawa, apalagi saat dia membaca pesan yang masuk. "Kau harus tahu, Papamu ada di Tierra Colorada, dia akan dibawa ke sini dengan cepat."


***


"Norman…"


"Cukup, berhenti bicara," ucap Norman, mempersiapkan diri dengan mengisi senjatanya dengan peluru. "Aku akan membawa Malia keluar dari sana. Tunggu aku di pelabuhan, kau dan putrimu akan kabur lewat kapal pesiar."


Don terdiam, bersyukur pada Tuhan, karena pada kenyataannya, Norman menyayangi putrinya.


"Aku tidak bisa tinggal diam."


"Jika kau ikut, kau hanya akan memperburuk keadaan," ucap Norman bersiap akan pergi. Dia tidak mengizinkan Don ikut ke Puerto Del Marques. Dirinya sendiri yang akan membawa Malia pergi.

__ADS_1


"Aku tidak bisa kehilangannya, Norman."


"Dengar, Don." Pria itu berbalik, menatap warna manik yang sama persis seperti istrinya. "Selama aku masih bernapas, Malia akan aman bersamaku. Aku tidak akan berhenti."


"Bagaimana jika Marc me--"


"Aku tahu kebenarannya, kini aku memiliki alasan untuk membunuhnya."


Dan Don tidak meragukan lagi kesungguhan Norman, pria itu membara, seolah sesuatu yang selama ini dia takuti hanyalah kebohongan belaka. Norman sendiri awalnya berpikir apa yang dilakukan Don hanyalah tipuan belaka, sampai dia melihat tulisan dalam kertas itu sama persis dengan tulisan Mamanya, dimana dia selalu mengajarkan Norman menulis saat kecil. Dia tidak akan mudah melupakannya. 


Sampai terdengar pintu diketuk, Norman mempersiapkan senjatanya. "Diam di sini."


Dan saat dia mendekat, menatap lewat holle door. Hanya ada seorang petugas kebersihan. Norman segera membukanya. "Ada apa?"


Sepersekian detik, Norman tidak menyadari ada sessorang di samping pintu. Dimana pria itu langsung menancapkan jarum suntik berisikan cairan yang mampu melumpuhkan tubuh Norman dalam hitungan detik. Membuat pemilik manik abu itu terjatuh di atas lantai.


Petugas kebersihan itu membuka topinya, membuat Norman mengerang marah menatap Dennis yang mengedipkan matanya. 


"Bawa Don, dalam keadaan hidup," perintah Dennis pada pria yang menyuntikan cairan pada Norman. Pria itu kembali terfokus pada Norman yang terjatuh. "Lihat siapa ini…. Cucu dari Marco Valentio? Kau tidak berdaya."


Seluruh tubuh Norman kaku, tidak bisa dia kendalikan. Lumpuh di seluruh tubuhnya membuat Norman hanya bisa menatap mencoba menjaga kesadarannya. 


Dennis berjongkok. "Kau terlalu lama meninggalkan El Sinaloa, tidak tahu bagaimana mereka berkembang dan sujud di bawah kakiku. Marc tidak peduli, dia hanya menginginkan balaa dendam. Dan kau tahu? El Sinaloa akan menjadi milikku, setiap kekayaan yang ada adalah milikku, dia akan bangga aku yang mengambil Don."


Dia melangkah melewati Norman yang masih mengerang menahan cairan itu menaklukannya. Dennis masuk ke dalam, melihat Don yang juga sudah terlumpuhkan. "Bawa dia ke mobil."


"Sí, Señor."


Benda yang membuat Dennis tertarik, adalah secarik kertas. Dia membacanya, membuat Dennis terkekeh. "Jadi ini cerita sebenarnya…. Kita lihat apa tanggapan Marc membaca ini."


Ketika Dennis hendak keluar, dia melihat Norman yang masih membuka matanya. Membuat Dennis menggeleng tidak percaya. Dia berdecak. "Astaga, Norman, kau benar-benar kuat. Kalau begitu ini akan menemanimu," ucap Dennis membuka ponselnya.


Dia memperlihatkan video pada Norman, di mana di dalamnya ada Dennis dan Dania yang sedang bersenang-senang di atas ranjang. "Ya… kau benar, Dania akan beralih pada sisi yang menang. Oh ya, kau tahu aku adalah perancang bom terbaik, benda itu akan meledak dalam lima menit."


---


**Love,


ig : @Alzena2108**

__ADS_1


__ADS_2