
Vote sebelum membaca😘
.
.
*Darah berceceran di mana-mana, mansion terkekang oleh tanaman rambat, terlihat seperti sudah ditinggalkan lama. Dan semua darah yang berceceran, mengarah pada seorang pria yang sedang memegang pisau. Bernapas berat seolah telah berlari jarak jauh.
Tangan itu mencoba menggapai pria yang membelakangi. Sentuhan itu membuatnya membalikan badan, seoseorang yang sedang menelusuri itu terkejut.
"Norman, apa yang terjadi? Kenapa kau terluka?"
"Aku terluka karenamu, Malia*."
Seketika manik cokelat itu membuka matanya, terengah mendapatkan mimpi yang menyeramkan.
"Malia? Tenanglah, kau di rumah, tenang. Kau baik-baik saja."
"Norman?"
"Ya, ini aku."
Malia mengulurkan tangan, mengelus pipi suaminya. Ini bukan mimpi. "Apa kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja," jawab Norman membalas dengan mengelus rambut Malia. "Apa yang terjadi denganmu?"
"No, solo me caà (Tidak, aku hanya terjatuh,)" bohong Malia berusaha duduk. Tubuhnya tegak, berhadapan dengan suaminya hingga dia bisa merangkup pipi ptia itu. Kekhawatiran terlihat jelas di manik cokelatnya. "Apa kau terluka?"
"Kau yang terluka, Malia."
"¿Cómo te metiste en un accidente? Que paso DeberÃas descansar (Bagaimana bisa kau kecelakaan? Apa yang terjadi? Kau seharusnya istirahat.)"
Norman menggenggam tangan Malia, dan membiarkan perempuan itu duduk di pangkuannya dan memeluknya. "Aku baik-baik saja, Malia. Sekarang waktunya kau bercerita apa yang terjadi denganmu semalam."
Masih membisu, Malia penuh keraguan. Dia lebih nyaman diam dan mendapatkan usapan di punggung daripada mengingat kejadian malam tadi.
"Malia….."
"Ada seorang wanita, dia menggangguku. Lalu ada seorang pria yang mengejar, dia melempatku ke sana."
Tangan Norman mengelus kepala Malia saat suara istrinya mulai berat. "Tidak apa, kau bersamaku sekarang."
"Hablan de cosas que dan miedo. Asesinato, no saben sobre El Sinaloa y Marco Valentio. Amenazas aterradoras hasta que finalmente me dejaron caer allà (Mereka bicara tentang hal-hal menakutkan. Pembunuhan, entahlah mereka bicara tentang El Sinaloa dan Marco Valentio. Ancaman-ancaman menakutkan sampai akhirnya aku dijatuhkan ke sana.)"
"Everything is allright, okay?"
Malia mengangguk saat Norman menyeka air matanya.Â
"Aku akan membawakan sarapan untukmu, tunggu di sini."
"Tidak apa, aku akan ikut ke bawah."
"No, lebih baik kau beristirahat di sini." Norman menurunkan Malia di atas ranjang, kembali menaikan selimut sampai batas pinggang.
Tangan Malia menahan tangan Norman untuk tidak beranjak. Tidak mengatakan apa-apa, seolah berbagai pertanyaan tertelan saat melihat manik abu menatapnya. "Ada apa, Malia?"
Dan Malia sadar, Norman tidak pernah lagi memanggilnya dengan kata sayang.Â
"Ada apa?"
__ADS_1
"Tidak ada. Kau juga sarapan di sini, ya?"
"SÃ," ucap Norman memberikan ciuman di bibir Malia. Setidaknya itu mengobati semua rasa rindu Malia pada suaminya. "Tunggu aku di sini."
Tidak ada yang lebih membahagiakan dibanding bersama dengan orang terkasih. Meskipun keadaan kakinya membengkak, dengan lecet di tubuh. Malia senang bisa kembali.
"Apa ini?" gumam Malia ketika mendapati ada kapas dengan banyak darah di laci. Seingatnya, lukanya tidak sebanyak ini.Â
Kenyataanya luka itu adalah milik Norman, pria yang kini sedang menuruni tangga. Dia memberi isyarat agar pelayan mendekat. "Buatkan sarapan manis untukku dan Malia, dan bawa ke kamar."
"SÃ, Señor."
Langkah Norman kini membawanya keluar, menghirup udara segar untuk sesaat. Pikirannya dan hatinya tidak bisa berjalan bersamaan. Setiap kali melihat manik Malia, bagaimana perempuan itu terluka, Norman selalu ikut merasakannya.Â
Norman menelpon seseorang. "Dennis, aku ing--"
'Ada apa? Kenapa kau menelponku sepagi ini?'
"Aku ingin kau mengirim orang untuk merenovasi mansion di sini."
"Bagian mana yang akan kau renovasi lagi, Norman?"
"Kakek?" Pria itu berbalik dan mematikan telpon. Memasukannya ke dalam saku. "Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau sudah sarapan?"
"¿Qué parte quieres renovar? ¿No estás satisfecho de cambiar este lugar a lleno de vidrio? (Bagian mana yang ingin kau renovasi? Tidak puaskah kau mengubah tempat ini hingga penuh kaca?)"
Norman terdiam, dia memasang wajah datar dan mendekat pada Marc yang berdiri tegak di ambang pintu.
"Sebanyak apapun kau merubah tempat ini, masa lalu tidak akan berubah."
"Aku ingin sayap kanan di lantai dua diubah menjadi dapur dan ruang makan. Itu akan memudahkan Malia saat ingin makan."
"Kau ingin hidup Malia lebih mudah?" Marc bertanya dengan nada penuh penekanan.
Sesuatu yang mengingatkan Norman akan kesakitan, dia menggeleng. "Tidak, kakek. Aku anak yang baik."
"Kau tahu, Norman." Marc mendekat. "Malia mulai curiga, hanya ponselnya yang tidak memiliki signal, Don Van Allejov menyuruh seseorang untuk menyelidiki keluarga Derullo di Meksiko. Apa yang akan kau lakukan jika Don lebih dulu menemukan kita adalah El Sinaloa sebelum kita membunuh putrinya?"
"Itu…. Itu takkan terjadi, Kakek."
"Benarkah?"
****
"Masuk," ucap Malia saat seseorang mengetuk pintu.
"Sarapan anda, Señora."
"Di mana Norman?"
"Sedang bersama Señor Marc."
"Mereka sedang sarapan?"
"No."
Malia mengerutkan kening, pelayan itu memperlihatkan jelas ketidaksukaannya pada percakapan ini. "Apa yang sedang mereka lakukan?"
"Sedang bicara."
__ADS_1
"Di mana? Sepertinya aku ingin bergabung."
"No, Señora." manik mereka berdua beradu. "Mereka sedang di basement, membicarakan sesuatu yang penting. Anda tidak bisa ke sana, jalan ke sana curam, Señora."
"Baiklah, kau bisa pergi."
Pelayan itu melakukannya, setelah dia membuka meja lipat kecil dan meletakan sarapan Malia di sana. "Anda ingin sesuatu yang lain?"
"No."
Panekuk dengan saus karamel adalah kesukaan Malia, tapi dia tidak suka memakannya sendirian. Kenyataanya, menikah tidak seperti bayangannya. Norman bahkan belum menyentuhnya, selalu saja ada halangan saat mereka akan memulai semuanya. Seolah semua itu berjalan dengan sengaja.
Malia berpikir, runtuyan kejadian yang membuatnya mulai curiga, bahwa ada sesuatu yang salah dalam pernikahannya, ada yang salah dengan Marc yang selalu memberikan tatapan intimidasi padanya.
Maka darinya, Malia ingin memastikan sesuatu.Â
"Ada yang bisa saya bantu, Señora?"
Malia tidak menjawab, dia melangkah menuruni tangga menahan rasa sakit.
"Señora?"
"Pergilah, jangan ganggu aku," ucap Malia membuat pelayan itu pergi.
Beberapa hari terakhir ini, Malia sering mendapati Marc masuk ke dalam sebuah ruangan yang juga terlarang untuknya. Ruangan yang berada di ujung koridor bagian selatan dekat ruang bersantai, Malia berjalan ke arah sana.Â
Tahu pelayan tidak pernah ke daerah ini, juga Malia pernah melihat Marc memasukan kode untuk membukanya.
Keamanan pintu ini membuat Malia semakin penasaran, dia membukanya. Matanya terkejut melihat ada tangga turun, ini adalah ruang bawah tanah yang terhubung dengan basement tempat menyimpan mobil.
Menelan ludahnya kasar, Malia turun perlahan.
Dia harus tahu apa yang Norman dan Marc sembunyikan.
Tempat itu gelap, hanya ada cahaya dari lampu kuning kecil. Malia mendekati cahaya itu, ada tirai plastik di sana yang membuatnya penasaran.
Tangannya terangkat, menggeser tirai.
Dan Malia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, di sana terpasang banyak foto dirinya dan papanya yang diambil secara diam-diam. Yang membuat Malia takut, dia melihat darah melumuri foto-foto pernikahannya yang diambil secara candid, dengan tulisan ancaman, 'Van Allejov akan mati.'
"A…. Apa ini…?" Tangan Malia bergetar.
"Akhirnya kau menemukannya, Malia."
Dia membalikan badan, menatap Marc yang berdiri di sana. "Marc ...? Que es esto ¿Por qué mi foto y ... ¿Y mi papá está aqu� Que ... ¿Qué es esto? (Marc….? Apa ini? Kenapa fotoku dan…. Dan Papaku ada di sini? Apa…. Apa ini?)"
"Kau akan mati di tangan kami, bukan begitu, Norman?"
Malia menatap ke arah yang sama dengan Marc. Sepersekin detik dirinya baru melihat Norman, pria bermanik abu itu memukulnya hingga tidak sadarkan diri.
Marc tertawa. "Kau akan melakukannya bukan, Norman?"
Pria yang terluka itu mejawab dengan wajah datar dan tatapan terpaku pada Malia. "SÃ."
---
**Love,
ig : @Alzena2108**
__ADS_1