Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 34


__ADS_3

Vote sebelum membaca😚😘


.


.


Seharusnya Norman senang saat ini, seharusnya dia bahagia mendapati Malia yang terbaring lemah dengan wajah pucat. Hanya segelintir orang yang tahu akan masalah di masa lalunya. Yaitu Dania, yang tahu semuanya. Dan Dennis, Norman yakin pria itu mendengar desas desus, mencari tahu dan memanfaatkan dirinya saat mabuk untuk menggali apa yang terjadi antara dirinya dan Marco Valentio, sang legenda jahat yang membuat Meksiko menggila akan narkoba.


"Señor Derullo?"


Norman menarik napas dalam, dia kembali fokus. "Sí, aku ingin kau menambahkan klab malam di pelabuhan, dengan resort terbaru. Makan malam di kapal pesiar akan dibuka secara gratis saat akhir pekan, itu akan menarik turis."


Pria yang mendampingi Norman berjalan di atas kapal pesiar itu mengangguk. "Dengan rute?"


"Aku akan membawa turis yang beruntung ke Eropa, sementara yang lainnya akan mengelilingi laut ini. Jangan melawan arah mata angin, ikuti saja ke mana dia membawa kapal itu."


"Semacam kejutan di tiap perjalanan?"


"Sí, mereka akan mendapat kejutan. Namun, bar dalam kapal pesiar tetap harus dibayar."


"Aku mengerti, Señor. Tempat ini akan beroperasi bulan depan. Sesuai keinginanmu."


"Kau akan mendapatkan bayaran, jika mendapat target yang aku inginkan."


Pria tua itu mengangguk. "Puerto Del Marqués akan menjadi kota wisata incaran turis, Guererro akan bersinar."


"Itu yang aku inginkan."


"Bagaimana jika anda makan malam di sini, Señor?"


Norman ragu, hingga akhirnya dia menolak. "No, Gracias."


Norman turun dari kapal pesiar, tujuannya adalah menarik para turis dan menjual mereka yang beruntung dia culik. Dengan mengiming-imingi naik kapal pesiar secara gratis, dan turis yang beruntung yang mendapatkan udian akan naik kapal pesiar secara pribadi dan menuju Eropa. 


Norman mengkhawatirkan Malia, kenyataanya begitu. Dia ingin pulang sebelum larut malam, Norman tahu Malia pasti tidak mendapatkan setetespun air dan sesobek roti. Sayangnya, rasa khawatir itu hilang ketika dia kembali merasakan sakit di punggungnya. Pukulan yang dilakukan Marc menjadi dorongan amarahnya naik, apalagi saat memasuki mansion.


"Kau sudah makan malam, Sayang?"


"Kenapa kau di sini?" Tanya Norman pada wanita yang berbaring di atas ranjang sambil memakan cemilan. "Keluar dari sini."


"Marc menyuruhku untuk tinggal di sini, kau tidak senang?"


"Aku sedang malas bicara, keluarlah."


"Aku akan bungkam, kau tenang saja," ucap Dania beranjak dari ranjang, dia menatap kekasihnya yang membuka pakaian.


Dan saat Dania melihat luka di punggung Norman kembali berdarah, dia segera mendekat. "Ini berdarah dan harus segera diobati, Norman. Atau lukanya akan membusuk."


Dania menyentuhnya pelan. "Kau seharusnya tidak memakai kaos dahulu, aku akan mengobatimu."

__ADS_1


"Aku lapar."


"Wow. Kau ingin memakanku?"


Norman terkekeh, dia membalikan badan. "Aku ingin makan malam."


"Lalu bagaimana dengan lukamu?"


"Kau obati, aku makan malam."


Dania mengerucutkan bibir, dia keluar setelah memakai jubah untuk menghalangi lingerie miliknya. 


Turun ke lantai bawah, Dania tidak bisa melepaskan pandangannya dari pintu menuju ruang bawah tanah yang mengerikan.


"Siapkan makan malam untuk Norman, dia ingin memakannya di kamar."


"Sí, Señorita."


"Hei!" Dania menahan langkah pelayan yang hendak menjauh. "Panggil aku Señora, aku majikanmu, bukan tamu di mansion ini."


"Sí, Señora."


"Apa Marc tidak makan malam?"


"Señor Marc sedang berada di basement."


Jawaban itu membuat Dania senang, dia menyunggingkan bibirnya. "Bawa itu ke lantai atas jika sudah siap."


"Di mana makanannya?"


"Pelayan akan membawakannya. Apa kau tahu, Norman? Marc sedang berada di ruang bawah tanah, aku yakin besok Malia sudah menjadi mayat."


Ekspresi Norman tidak seperti yang Dania bayangkan. Ternyata meninggalkan Norman bersama Malia, membiarkan mereka menjalin hubungan lebih dari satu tahun membuat Norman sedikit berubah. Perhatian-perhatian dari Malia membuat sifat  pria itu sedikit bergeser.


"Ada apa? Kau tidak senang?"


"Obati saja punggungku." 


Dania melakukannya setelah makan malam Norman datang dan dia bisa mengunci pintu kamar.


"Apa yang kau lakukan?"


"Marc bilang kau harus banyak istirahat, maka darinya aku mengunci pintu. Dia ingin aku mengawasimu agar kau baik-baik saja."


Dan Norman tahu itu bukanlah kebaikan. "Sejak kapan dia menghubungimu?"


Dania menelan ludahnya kasar. "Saat aku datang ke mari, dia hanya ingin kau tidak melangkah ke jalan yang salah."


*****

__ADS_1


Manik abu itu terbuka, tepat saat jam menunjukan pukul  dua dini hari. Punggungnya yang sakit membuat Norman tidur tengkurap, dengan objek pertama yang dia lihat yaitu Dania yang tidur di bawah selimut.


Pria itu bangun perlahan, mengusap wajahnya kasar sebelum mengambil kemeja untuk menutupi tubuhnya. 


Norman keluar dari kamar yang Dania kunci sejak semalam. Rasa haus membawanya untuk mengambil bir dari kulkas.


"Ada yang bisa saya bantu, Señor?"


Kenyataanya masih ada yang terbangun, membuat Norman berbalik. "No, kenapa kau masih berkeliaran?"


"Anda tahu Señor Marc selalu bangun dini hari untuk dibuatkan sesuatu."


"Dia masih seperti itu?"


"Sí. Untuk beberapa malam terakhir ini."


Sembari minum, tatapan Norman terpaku pada koriodor menuju kamar Marc. Gelap dan hening, dia yakin Marc tidak akan bangun. "Kembali ke kamarmu, dia takkan bangun malam ini."


"Sa--"


"Pergi, aku tidak ingin melihat manusia saat ini."


Pelayan itu mengangguk. "Sí, Señor." Meninggalkan Norman yang kini sendirian.


Ada sesuatu yang Norman ingin lakukan seorang diri. Dia mengaktifkan ponsel, membuka begitu banyak pesan yang selama ini dia blokir.


Salah satunya dari Don, pesan itu seharusnya datang sehari setelah mereka sampai di Guererro.


Yang berisikan, "Norman, Malia sangat rapuh. Dia menanggung pedihnya hidup sejak kecil, tanpa sosok Ibu dan harus belajar seorang diri. Dulu aku mengabaikannya, aku fokus pada pekerjaanku hingga membuat dia melangkah tanpa aku ketahui. Malia kecelakaan, membuatku baru ingat apa tugasku. Norman, dia mencintaimu, dia sangat mencintaimu, dia bilang kau harapan dalam hidupnya, pembawa kembali lentera dalam gelapnya. Aku sering melihatnya tertawa saat menceritakanmu, kau sangat berarti baginya. Terima kasih, dan tetaplah seperti itu, buat anakku tertawa dengan air mata bahagia. Jaga putriku, jaga hatinya. Aku tahu dia tidak sempurna, tapi aku yakin cintanya padamu tidak akan pernah memiliki ujung."


Norman tidak ingin lagi melihat pesan-pesan yang dia blokir, memilih untuk menyimpan ponsel.


Sesuatu yang mengganggu, Norman ingin tahu kondisi Malia di sana. Maka darinya, dia melangkah pada pintu menuju ruang bawah tanah.


Saat memasukan nomor terakhir, seseorang menghentikan. "Norman?"


Dia tahu suara itu. "Kakek?"


"Apa yang kau lakukan?"


"Aku hendak melihat keadaanya," ucap Norman menatap pada bagian yang gelap, di mana Marc ternyata mengwasi di sana. "Bagaimana reaksi Don?"


"Dia masih belum menjawab, tapi dia sudah menerimanya."


"Dan Malia?"


"Malia? Dia sudah mati, aku buang dia ke hutan."


--

__ADS_1


**Love,


ig : @Alzena2108**


__ADS_2