
Vote sebelum membaca😘😘
.
.
Jan tidak berhenti mencoba menghubungi Jess. Dia menghentakan kakinya saat saudarinya itu terus saja menutup telpon. Hingga akhirnya sampai ke panggilan ke-65, baru Jess mengangkatnya.
"Holla? Astaga kenapa kau baru mengangkatnya?"
'Kenapa kau mengangguku, aku sedang dalam keadaan yang tidak bisa diganggu,' ucap Jess terdengar kesal.
Jan menarik napas dalam supaya tidak ikut tersulut emosi. "Bolehkah aku mengajak Malia ke kuburan ayahnya?"
'Apa? Kau ingin membawa Malia keluar? Jangan gila!'
"Ayolah, kasihan dia. Dia tidak tahu bagaimana perjuangan Norman, kasihan sekali. Malia sangat membencinya."
Terjadi keheningan, Jess sepertinya sedang berpikir.
"Jess? Itu tidak jauh dari sini."
Jess berdecak, dia tetap mengatakan, 'Tidak.'
"Jess! Kasihanilah dia."
Jess terdiam, dia kembali berfikir. Segera dia berkata, 'Kembali sebelum jam makan siang.'
Seketika Jan bersorak, dia menutup panggilan telpon dan bergegas naik ke lantai dua. Dan Jan, dia melihat Malia masih dalam posisi yang sama. Yaitu menatap keluar jendela, belum ada sesuatu yang bisa menarik perhatiannya, dan Jan berharap ini bisa membuat Malia lebih baik.
"Malia…. Maukah kau ikut denganku keluar?"
Malia mengerutkan keningnya, dia menatap Jan. "Kemana?"
"Ikut saja, aku yakin kau suka. Tapi sebelumnya, aku akan merubah tampilanmu."
"Tampilanku?"
Jan mengangguk. "Aku akan membuatmu tampak lain, tidak apa bukan?"
"Sebenarnya kemana kita akan pergi?"
Jan segera menjawab, "Gereja. Apa kau ingin ikut?"
Dan karena pertanyaan itu, Malia menginginkannya. Dia mengangguk. Membuat Jan segera mengambilkan pakaiannya dari dalam lemari, sebuah gaun dari zaman retro untuk wanita tua. "Maukah kau memakai ini?"
Karena yang Jess perintahkan, dia harus membuat Malia tampak lain saat hendak keluar. "Mau 'kan?"
"Kenapa?"
"Untuk menyamarkanmu, aku takut ada seseorang yang mengenalmu."
Malia tampak berfikir, dia tidak ingin keluar dari sini.
"Malia, aku janji kepergian kita akan membawa rasa bahagia untukmu. Norman punya sesuatu yang dia sembunyikan darimu."
Karena itu, Malia menyanggupinya, dia segera membiarkan Jan mengganti pakaiannya dengan yang dipilihkan. Malia juga membiarkan Jan mengikat rambutnya dan memberinya topi untuk menghalangi.
"Kau sudah siap?"
"Ya."
__ADS_1
"Ada kursi roda di bawah, kau ingin memakainya?"
Malia menggeleng, dia mengambil tongkatnya sebagai pilihan. Jan mengerti, dia segera menuntun Malia keluar di sana.Â
Tidak ada yang mengerti, Jan yang mendandani Malia malah terlihat mencolok. Salah satunya manik seseorang yang Jan kenal di klub menari yang tidak lain adalah Claudia.Â
Wanita itu mendekat saat Jan dan Malia sedang menunggu mobil yang akan menjemput, mengingat Jan hanya memiliki skuter.Â
"Jan?"
"Astaga, Claudia…." Mata Jan melotot, dia takut suami baru Claudia juga ada di sini dan mendapati mereka.Â
Karena Jan tahu, suaminya adalah anggota El Sinaloa. Entah sebagai apa.
"Siapa dia?"
"Dia kerabatku yang aku maksud, namanya Secil."
"Oh, Holla, Secil."
Sebelum Malia mengatakan sesuatu, Jan segera berkata, "Dia bisu."
Membuat Malia mengingit lidahnya kembali.
Jan menambahkan, "Dia juga tuli."
"Oh dios, lo siento. ¿A dónde vas? (Oh, Astaga, aku minta maaf. Kalian mau ke mana?)"
"Ke toko barang antik, dia suka sesuatu seperti itu."
"Aku melihatnya…," ucap Claudia menatap dari bawah ke atas, Malia hanya menunduk guna menyembunyikan wajahnya. "Dia lumayan cantik, sayang bisu dan tuli juga cacat kaki."
"Hahahaha." Jan tertawa hambar. "Kau mau ke mana?"
Dan karena itu, manik Jan melotot terkejut. Apalagi sepersekian detik, mobil yang menjemput Claudia datang. Keluarlah pria yang dimaksud, membuat Jan menggenggam tangan Malia.
"Holla, kau lagi?"
"Holla." Jan menyapa dengan sopan.
"Ayo, Sayang kita pergi."
"Tunggu." Pria itu menahan Claudia yang hendak mengajaknya keluar. "Namamu Jan bukan?"
Jan segera mengangguk. "SÃ."
"Siento que te he visto, pero en forma de cabeza calva y llena de tatuajes (Aku merasa pernah melihatmu, tapi dalam bentuk kepala botak dan penuh tatto.)"
Jan segera menggeleng. "Tidak, itu bukan aku," ucap Jan.
Claudia tertawa. "Jan tidak pernah botak."
Pria itu mengangguk-angguk paham, dia tertawa dan berbalik.Â
Namun, sebelum itu, dia menatap wajah Malia lama. Dan Malia, dia baru menyadari kalau pria itu memiliki tatto yang sama dengan orang-orang yang pernah menyakitinya.
Malia bergumam, "El Sinaloa."
****
Malia tidak bisa berhenti merasa ketakutan, pasalnya yang dia lihat adalah tatto yang selama ini menghantuinya. Malia ketakutan, sepanjang mobil melaju tangan Malia bergetar.
__ADS_1
"Malia… tidak semua anggota El Sinaloa tahu permasalahan dari tuan mereka, mungkin dia hanya pengedar biasa. Tatto itu hanya identitas saja, sebagai gaya. Jangan takut."
Malia tetap diam.
"Malia…."
Malia tetap bungkam, bibirnya terkatup rapat enggan mengatakan sepatah kata pun. Sampai akhirnya mobil berhenti di sebuah toko bunga.
"Kenapa kita berhenti di sini?"
"Bunga apa yang Papamu suka?"
Malia terdiam sejenak, sampai akhirnya dia mengatakan, "Lily."
"Aku akan membelinya."
"Jangan tinggalkan aku," ucap Malia menahan tangan Jan yang akan menjauh.Â
"Aku akan membukakan pintunya, tidak masalah bukan, Supir?"
"No, Señorita."
Malia terpaksa melepaskan pegangan tangannya, dia membiarkan Jan masuk ke toko bunga. Malia mungkin masih bisa melihatnya, tapi ketakutannya selalu ada. Bahkan pikirannya tidak bertanya-tanya mengapa Jan datang dengan segenggam bunga Lily.
"Ayo jalan."
"Bukankah kita akan pergi ke gereja?"
"Ya, setelah dari sini," ucap Jan.
Mobil keluar dari gerbang perumahan, menuju sebuah pinggir danau. Malia trauma dengan suasana yang sepi, penuh hutan dan juga danau yang tenang. "Aku takut."
"Aku janji semuanya akan baik-baik saja, Malia."
Hingga akhirnya Malia bersedia mengikuti langkah Jan, dia menggenggam tangan wanita itu dengan salah satu tangan memegang tongkat.
Malia menunduk sepanjang perjalanan, sampai Jan berhenti melangkah.
Tatapan Malia baru terangkat, ketika melihat sebuah nisan tanpa nama yang jelas.
"Dia adalah Don."
Malia menegang.
"Papaku?"
Jan mengangguk. "Jess y Norman lo trajeron de la selva de Puerto del Marqués, Norman lo llevó a la iglesia pidiendo la ayuda del sacerdote para cuidar al Don. Mientras lloraba, les rogó. (Jess dan Norman membawanya dari hutan Puerto Del Marqués, Norman membawanya ke gereja memohon bantuan pastor untuk mengurus Don. Sambil menangis, dia memohon pada mereka.)"
Malia kembali bergumam, "Papa? Dia Papaku?"
Air mata Malia menetes.
"Señor Norman mencoba memperbaiki semuanya, dia tahu ini terlambat, tapi biarkan tanganmu terbuka untuknya."
"Papa," ucap Malia dengan suara tercekat. Air mata menetes di pipinya.Â
Malia melepaskan pegangannya pada Jan, dia mendekat seorang diri dengan air mata yang berderai. Sampai akhirnya tangan Malia menyentuh batu nisan itu, Malia berkata seolah Don ada di sana, "Aku masih mempercayai Norman, Papa, jangan khawatir."
---
**love
__ADS_1
ig : @Alzena2108**