Bloody Marriage

Bloody Marriage
The Bride 7


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘😘


.


.


"Hallo, Yoseph?"


Jan menunggi jawaban dari telpon. "Jawab aku, Siaaalaaan! Kau merencanakan sesuatu bukan?!"


"Kau membaca pesannya bukan?"


"Ya, aku akan mengarahkannya untuk pergi ke Italia."


Yoseph membenarkan di sana. "Señor Norman akan pergi ke sebuah tempat di pinggiran Acapulco untuk mendapat karya seni dari besi untuk menempatkan bom di sana, buat Malia juga tertarik dengan karya seni itu."


"Berikan aku alamat lengkapnya."


Tidak lama setelah kalimat itu, Jan mendapatkan surel yang berisikan tentang alamat lengkap tempat yang dimaksud.


"Aku akan mengaturnya, supaya Malia pergi ke sana."


"Pastikan kau tidak ikut."


"Apa? Kenapa? Aku merindukan saudaraku."


"Señor Norman akan mengaturmu untuk membuat Malia menjauh darinya. Jika kau tidak ikut, dia tidak bisa melakukan apa pun selain membiarkan Malia sendiri."


Jan sedih, dia diam tidak menjawab.


"Jan, ini keinginan saudarimu."


"Aku heran kenapa saudariku melakukan ini, dia lebih menyayangi Malia."


"Dia melakukan ini untukmu."


Jan menarik napasnya dalam, hingga akhirnya dia mengangguk. "Baiklah, aku akan melakukannya."


Setelah mematikan telpon, Jan bersiap siap menuju ke galeri. Dia ingin mengecek karya apa saja yang akan dipamerkan bulan depan untuk menggalang dana. 


Dan jika karya seninya sudah lengkap, maka Malia tidak bisa pergi ke Italia untuk mencari sesuatu yang menarik minat donatur.


Menaiki mobilnya, dalam lima belas menit Jan sudah sampai.


"Che, apa saja yang sudah Malia kumpulkan?"

__ADS_1


"Semuanya sudah lengkap, Jan. Bulan depan kita bisa mengadakan penggalangan dana."


"Apa?" Jan terlihat tidak percaya. "Kemarin belum lengkap."


"Doker Edward baru saja membawakan karya seni sepupunya dari kertas origami."


"Apa? Dimana dia sekarang?"


"Malia pergi ke rumah sakit untuk makan siang bersama dengan Dokter tampan itu."


Jan kesal, dia bergegas ke gudang penyimpanan. Dan benar saja, ada banyak karya yang akan dilelang di sana. Jan kesal, dia menarik napasnya dalam.


Jan mengeluarkan pematik api dari sakunya. "Maafkan aku, Malia. Aku akan membakar semuanya di sini. Aku lakukan ini agar kau ingat dan kembali pada pria yang mengorbankan semuanya untukmu."


Dan Jan melempar begitu saja api di tangannya hingga karya seni dari kertas origami itu terbakar.


Dan api semakin membesar, yang otomatis membuat alarm kebakaran berbunyi.


Dan demi meyakinkan kejadian ini sebagai kecelakan, Jan meringkuk di bawah meja.


"Siaaall, semakin membesar. Ayolah, cepat panggil pemadam kebakaran."


Dan tidak lama kemudian terdengar Che berteriak, "Tolong! Ada orang di dalam! Tolong!"


****


"Tunggu sebentar, saya se--" Kalimat Edward terpotong saat melihat siapa yanh masuk. "Malia?"


"Boleh aku masuk?"


"Masuk saja. Kemarilah."


"Kau terlalu lama bekerja."


"Well, ini yang kau lakukan beberapa waktu yang lalu."


"Aku sudah selesai berkatmu, terima kasih, Yang Mulia."


Edward tertawa, dan membiarkan Malia berada di belakang kursinya untuk melihat apa yang sedang dikerjakannya.


"Menganalisis racun ular?"


"Ya, aku dibutuhkan untuk forensik."


"Ed, kau ini tukang terapi, kenapa merambat?"

__ADS_1


"Tukang terapi? Kalimat itu agak menggelitik." Edward memutar kursi sehingga berhadapan dengan Malia. "Sebenarnya, Malia, aku pernah belajar ilmu forensik."


"Kenapa kau penuh kejutan?"


Edward terkekeh.


Dia hendak mengatakan sesuatu, tapi terpotong oleh telepon dari ponsel Malia.


"Hallo, Che?"


"Malia, Jan di bawa ke rumah sakit. Terjadi kebakaran di galeri."


"Apa?"


Bersamaan dengan itu, Malia menatap keluar jendela di mana ada ambulance datang. Malia menutup telponnya seketika.


"Ada apa?" Tanya Edward menahan Malia agar tidak pergi. "Malia, katakan."


"Jan, kebakaran."


Malia berlari seketika diikuti oleh Yoseph yang tidak ingin Malia terluka. Dan dalam ambulance itu baru saja keluar Jan di dalam ranjang dorong, dengan Che yang ikut mendorong.


"Che?"


"Malia, Jan tidak sadarkan diri."


"Tenanglah, Edward akan menanganinya."


Malia melihat Jan yang dibawa ke ruangan darurat, meninggalkan dirinya bersama Che.


"Semua barang untuk lelang hangus, Malia."


"A--apa? Semua?"


"Ya, dan undangan sudah aku sebarkan pada orang orang penting itu."


"Astaga." Malia merasa dirinya kehilangan keseimbangan. Sesuatu yang sudah dia selesaikan, harus dimulai kembali dari awal. Dan apa yang harus dia lakukan dalam waktu satu bulan untuk mendapatkan karya seni murah tapi berkelas untuk di pelelangan amal.


"Apa yang harus kita lakukan, Malia?"


"Jangan mengkhawatirkan itu, semuanya pasti ada jalannya. Kita fokus pada Jan, semoga dia baik baik saja."


***


Love,

__ADS_1


Ig : @Alzena2108


__ADS_2