Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 81


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘😘


.


.


Jess dan Jan tidak bisa memalingkan wajahnya dari dokter yang tengah berbicara dengan Norman dalam telpon. Mereka berdua belum masuk menemui Malia, pasalnya ada masalah yang tidak bisa mereka dahului dengan mengambil keputusan begitu saja.


Saat dokter sudah menyelesaikan penjelasannya, dia menyerahkan ponselnya pada Jess. "Dia ingin bicara denganmu."


Jess menerimanya, dia menelpon dengan menjauh untuk lebih tenang. Meninggalkan Jan dengan dokter wanita tua di sana.


"Jadi…. Malia tidak ingat apapun?"


"Dia mengingatnya, Nona, seperti yang aku katakan, dia melupakan lima tahun terakhir ini akibat trauma berat yang telah dialaminya."


"Jadi… dia tidak mengingatku?"


"Jika anda bersamanya sebelum lima tahun terakhir ini, dia akan mengingatmu."


Jan menelan ludahnya kasar. "Apa yang dia ingat?"


"Dia mengingat kejadian lima tahun lalu saat kecelakaan yang membuat kakinya lumpuh."


"Jadi dia pikir ini tahun……?"


"Ya, tahun saat Nyonya Malia kecelakaan mobil."


"Dia benar benar tidak mengingat apapun selama lima tahun terakhir ini, Nona."


"Dia mengira.. Umurnya masih….?" Jan menanyakannya dengan mengambang.


"Berumur 22 tahun."


"Astaga, apakah ingatannya bisa kembali?"


"Saya tidak bisa memberikan kepastian saat ini, bisa saja Nyonya Malia kembali mengingatnya, atau juga tidak. Trauma itu bisa memicu sakit kepala dan kesedihan mendalam, yang mana membuat Nyonya Malia memilih melupakannya dan enggan mengingatnya. Alam bawah sadarnya yang melakukannya."


Jan menelan ludah kasar. "Tolong jaga kerahasiaan Señor Norman, kami belum tahu apa yang harus kami lakukan."


"Saya mengerti, Nona."


Saat itulah Jess datang. "Jan, aku ingin bicara denganmu."


"Baik."


"Dokter, tolong rendam semua pertanyaan Malia tentang dirinya."


"Saya mengerti."


Meninggalkan Jan dan Jess, keduanya bertatapan sesaat.


"Ada apa, Jess?"


"Apa kau serius ingin menjadi teman Malia?"


"Ya, ada apa?"


"Dari dalam hatimu?"

__ADS_1


"Dari dalam hatiku."


Sampai akhirnya Jess memberitahu apa yang Norman inginkan. Dan itu membuat Jan berteriak, "Apa dia gila?! Ini momen yang dia tunggu."


"Lakukan saja, aku akan menemuinya."


"Tunggu, Jess, kau tidak bisa melakukan ini padanya."


"Ini yang dia inginkan," ucap Jess menggenggam tangan Jan. "Lakukan ini, temui dia. Aku sudah mengatur semuanya."


Tidak ada yang bisa Jan lakukan, dia menarik napas dalam dan melangkah menuju ruangan Malia. Saat membuka pintu kamar, dia melihat sosok berambut pendek sedang duduk menatap keluar jendela. Dia menatap Jan dengan sedikit kikuk. "Hai…."


"Hai, aku Jan."


"Aku Malia."


"Aku tahu, kau temanku."


"Maaf…." Malia mengusap lehernya. "Aku pikir kau tahu, aku tidak ingat apapun. Aku bahkan terkejut saat perawat itu bilang umurku 26 tahun, padahal aku pikir aku baru saja berulang tahun yang ke 22 kemarin."


"Tidak apa, benturan di kepalamu yang menyebabkan semua itu."


"Ya, mereka bilang begitu."


"Apa yang kau ingat terakhir kali, Malia?"


"Aku kecelakaan saat hendak pentas ballet."


"Well, aku akan menceritakan apa yang terjadi lima tahun ini."


"Aku mendengarkan."


***


"Kue nya, Nyonya Malia."


Seketika pelayan itu mendapat tatapan tajam dari Jan. "Maaf, maksud saya… Nona."


"Tidak apa," ucap Malia mengisyaratkan agar menyimpan kue, dia mengambil satu saat Stacy keluar.


"Jadi…. Papaku meninggal di Meksiko saat dia menemeniku pengobatan di sana?"


"Ya, kecelakaan lima tahun lalu membuat salah satu kakimu tidak bisa digerakan, Malia. Papamu membawamu ke Meksiko untuk pengobatan. Namun sayang, ada kecelakaan beruntun yang membuat Papamu mengalami kritis. Sementara kau tidak sadarkan diri. Sebelum Papamu meninggal, dia membuatku berjanji akan membawamu pergi ke Malibu agar kau bisa memulai hidup yang baru, dia membangunkan rumah untukmu di sini. Maka dari itu, saat Don meninggal aku membawamu ke Malibu sesuai permintaannya."


"Kecelakaan beruntun?"


"Ya, lihat ini." Jan mengeluarkan sebuah artikel yang dibuat oleh Yoseph. "Papamu salah satu korbannya."


"Astaga," gumam Malia meneteskan air matanya, sampai dia memegang tangannya. "Apa aku sudah menikah?"


Jan tergagap, dia lupa melepaskan cincin pernikahan Malia dan Norman. "Itu… hadiah dariku saat valentine karena kau tidak kunjung punya pasangan."


"Terima kasih….? Siapa namamu?"


"Jan, Malia. Aku sahabat baikmu."


Malia mengangguk, dia banyak diam dan menerka nerka siapa sebenarnya dirinya dan apa yang terjadi sebenarnya.


"Dan kau….. Don mempercayakan semuanya padaku, semua tabungan miliknya ada padaku, kau juga akan mendapatkan penghasilan tiap bulan lewat kebun anggur di Meksiko." Jan mengatakan apa yang diminta Jess.

__ADS_1


"Jadi… aku pengangguran?"


"Tidak, kau bisa mencari pekerjaan di sini. Yaa… mungkin saja tidak perlu, uangmu takan berhenti mengalir." Karena kenyataannya semua uang yang diakukan pada Malia adalah milik Norman.


"Apa selama lima tahun ini aku lumpuh?"


"Kau memberhentikan dokter selama beberapa tahun, sekarang semuanya dimulai lagi di sini."


"Kenapa Malibu? Bukan tempat kelahiranku?" Malia bertanya tanya.


"Karena…. Tempat ini indah, dan kau menginginkannya waktu itu."


"Benarkah? Aku?" Tanya Malia tidak percaya.


"Lebih baik kau istirahat, aku akan membuat makan malam untukmu."


"Terima kasih."


"Ayolah, aku teman terbaikmu."


Malia tersenyum, dan itu memudar saat Jan menjauh. Ada sesuatu yang janggal, tapi dia tidak tahu apa itu.


***


"Apa kau yakin dengan keputusan ini, Señor?"


"Ya, aku akan kembali ke Meksiko dan memimpin El Sinaloa dengan tanganku sendiri," ucap Norman yang mengendarai mobil.


Jess yang duduk di kursi penumpang itu terlihat tidak setuju. "Kau menunggu momen ini, Señor."


"Dan ini jawaban Tuhan, dia membuat Malia melupakan semua tentangku. Selama lima tahun terakhir ini, aku dilupakan. Dia ketakutan dan trauma karena adanya diriku, Jess."


Itulah yang menjadi alasan Norman akan kembali ke Meksiko. 


Saat berhenti di depan rumah, Norman keluar lebih dulu. Dia menemui Jan yang sedang berbenah bersama Stacy.


"Dia sudah tidur?"


"Sudah, Señor."


Mendengar itu, Norman segera melangkah ke lantai dua. Perlahan dia membuka pintu, menatap sosok yang kembali terlelap. Terlihat damai, cantik dan lebih hidup.


Setiap langkah mendekat, jantung Norman berdetak kencang. Sampai dia berjongkok, dan berhadapan langsung dengan wajah Malia.


Norman tersenyum tipis. "Sayangku….," ucapnya pelan.


Saat hendak menyentuh wajah Malia, Norman melihat cincin pernikahannya ada di sana. Dia segera mengambilnya perlahan, menarik sesuatu yang mengikat Malia dengannya. Inilah yang Norman lakukan, dalam benaknya, dia melindungi Malia dengan cara meninggalkannya, dan mengawasinya dari kejauhan. Norman tahu, banyak orang mencarinya karena kejahatan, dan dia tidak ingin melibatkan Malia.


Mungkin ini jawaban Tuhan atas semua pertanyaannya, dan semua pengampunannya. Malia layak mendapatkan yang lebih baik.


Saat cincin itu terlepas, Norman berkata, "Hiduplah dengan damai, dengan penuh kebahagiaan. Malia, aku melepasmu."


Norman berdiri, tanpa memutuskan pandangan. "Aku akan selalu mencintaimu, dan ini pernyataan cintaku yang sesungguhnya. Lihatlah dunia yang indah, tanpa diriku. Aku akan selalu bersamamu, mengawasimu dan tidak akan aku biarkan siapapun menyakitimu lagi, sampai seorang pria benar-benar mempertaruhkannya nyawa untukmu. Saat itu tiba, aku akan benar benar pergi."


THE END.


----


Siap untuk season 2? Dimana Malia cantik kembali bertemu dengan suami yang tidak dia ingat?

__ADS_1


__ADS_2