
Vote sebelum membaca😘😘
.
.
"Malia…"Jan menyentuh bahu perempuan itu. "Aku janji pada Jess akan membawamu sebelum jam makan siang."
Malia masih enggan beranjak dari nisan Don di sana, menghela napas panjang sebelum akhirnya menerima uluran tangan Jan. Membiarkan wanita itu membawanya pulang.
Dengan melangkah menopang pada tongkat dan Jan. Langkahnya terseret-seret sesekali.
"Bisakah kita ke gereja?" Tatapan Malia terpaku pada tempat yang tidak jauh dari sana.
Jan mengangguk. "Tentu."
Menunu ke sebuah gereja, Malia disambut baik oleh pastor yang sebelumnya sedang bercengkrama dengan pengendara yang lewat.
"Bapa," ucap Malia memberinya salam. "Aku ingin berdoa."
"Masuklah, Nak, pintu terbuka untukmu."
"Gracias, Bapa."
Dituntun oleh Jan, Malia didudukan di kursi gereja. "Aku akan menunggu di luar."
"Tentu," ucap Malia.
Jan memilih memberi Malia ruang, dan saat dia keluar, dia berpapasan dengan Pastor yang sebelumnya bicara dengan mereka. "Dia putri dari pria yang kau bantu kuburkan itu, Bapa."
"Ah, istri Norman?"
"SÃ."
Pastor itu tahu kejadian lengkapnya, bahkan Norman menceritakannya tanpa celah. "Aku ingin menemuinya."
"Dia sedang berdoa."
Benar saja, di sana Malia sedang menatap patung Bunda Maria dengan air mata yang berlinang. Dia menunduk menangis tersedu-sedu dengan tangan yang menyatu satu sama lainnya.Â
Dan saat tangisan Malia mulai reda, Pastor itu mendekat dan duduk di samping Malia. Dia berkata, "Tidak ada kehidupan yang mudah, Malia, itu cara Tuhan membantu kita agar dekat dengan-Nya."
Malia tersenyum tipis, mengusap sisa air matanya. Dengan tatapan masih terfokus ke arah depan. "Apa yang harus aku lakukan, Bapa?"
"Ikuti alurnya, kau itu kuat."
"Pria itu menyakitiku, Bapa, dia merencanakan semua ini."
"Dan bagaimana perasaanmu hingga saat ini?"
Malia menarik napasnya dalam, dia menunduk membiarkan air mata kembali menetes. "Jika dia ingin berubah, aku akan menggenggam tangannya dan menemaninya di setiap langkah."
"Maka lakukan, dia butuh cahaya untuk menuntunnya."
__ADS_1
Malia tersenyum, dia menatap Pastor di sampingnya. "Apa baik jika aku memberinya sedikit pelajaran, Bapa?"
"Untuk kebaikannya? Aku rasa kau boleh melakukannya."
"Aku hanya akan memberinya gertakan."
Pastor itu menggenggam tangan Malia, dia tahu apa yang sedang dilewatinya. "Jangan takut, tetap berdoa, percaya jika Dia bersamamu, melihat kita semua dengan keagungan-Nya."
"Aku percaya padanya, Bapa."
"Hanya orang terpilih yang mampu melewati ujian, dia tahu kau kuat dan mampu. Di sanalah kau diuji oleh-Nya."
Malia mengangguk mengerti. Setelah bercerita cukup lama, Malia mengakhiri percakapan mereka mengingat sudah hampir jam makan siang.
Jan sudah menunggu dengan mobil yang telah dia pesan.
"Terima kasih, Bapa."
"Datanglah ke mari jika kau butuh sesuatu, aku akan berusaha membantu."
"Baik."
Jan melihat wajah Malia sedikit bersinar, cerah dari sebelumnya. Saat diperjalanan pun, bibir Malia membuat lengkungan senyum tipis.
"Apa yang ingin kau masak siang ini?"
Malia terlihat berpikir. "Bisakah kita pergi ke toko swalayan?"
"Makaroni, dan untuk makan malam aku ingin makan acar daging."
"Ya, tentu. Mari kita habiskan waktu sebelum kau pergi dari sini."
"Kau ikut bukan?" Tanya Malia. "Saat aku pergi?"
Jan mengangguk. "Aku mendapat tugaa dari Jess mengantarkanmu ke rumahmu sampai selamat."
"Ke mana aku akan pergi?"
"Lebih baik kau tanyakan pada suamimu, aku yakin dia ingin bicara denganmu."
Malia hanya terdiam, pada kenyataannya Norman tidak ingin bicara dengannya. "Akan aku coba."
****
Norman menaiki bus seperti turis pada umumnya, dia tetap memeriksa sekitarnya. Dan dia melupakan sesuatu di Villa Puerto Del Marques, yang membuat Norman harus kembali ke sana.
Di siang hari yang bolong, Norman masuk menyelundup pada villa yang pernah dia tempati bersama Malia. Tidak ada yang melihat ataupun tahu dialah pemiliknya, Norman yang pintar menyamar menyamakan penampilan layaknya turis yang kekurangan uang.
Norman pernah menyimpan sebuah laptop di villa ini. Dan benda itu bisa masuk pada satelit milik Marc.
Disimpan di kayu yang ada di bawah kasur, Norman segera membukanya.
"Aku harus menemukan dimana kau bersembunyi, Marc," gumamnya mencari posisi di mana orang-orang El Sinaloa berkumpul dan melindungi Marc.
__ADS_1
Norman menerobos masuk ke jaringan El Sinaloa yang tidak pernah dia masuki, mencari tahu kekayaan apa saja yang tidak diketahuinya.
Sampai akhirnya, tatapan Norman terpaku pada tempat yang baru dia ketahui. Sebuah tambang bawah tanah.
Norman bergumam, "Campo Morado."
Mendengar seseorang masuk ke dalam villa, Norman segera bersembunyi di bagian bawah ranjang.Â
Sialnya, yang masuk adalah sepasang turis yang sedang berciuman dan hendak bercinta di siang bolong.
Norman geram. "Shit," umpatnya lalu keluar dari tempat bersembunyi.
Belum juga mereka berteriak, Norman menembak keduanya dengan tepat. "Kalian berisik."
Dia menutupi keduanya dengan selimut, membuat seolah sedang melakukan sesuatu.
Jejaknya dia hilangkan, Norman keluar dari jendela. Sialnya lagi, itu dilihat oleh petugas villa, yang membuat adanya adegan kejar mengejar.
Bukan hal tabu bagi Norman merasakan hal semacam itu, sepersekian detik dirinya membaur dengan turis yang sedang berjemur. Norman membalikan bajunya, mengambil topi milik orang lain lalu berciuman dengan sembarang wanita yang sedang menunggu jusnya datang.
Membuat salah satu penjaga villa menepuk pundaknya. "Apa kau melihat seorang pria berpakaian hitam lari ke sini?"
Layaknya seorang turis, Norman berkata, "Enyahlah kau."
Dan saat mereka sudah pergi, wanita yang tadi dicium Norman malah ketagihan. "Hallo, Tampan, apa kau ingin menginap di tempatku?"
Norman menjawab dengan santai agar tidak dicurigai, "Pastikan ranjangmu kosong."
Setelahnya dia pergi, dengan membawa laptop yang sebelumnya disembunyikan dalam tas wanita tua.
Norman perlu menghubungi seseorang, dan dia melakukannya dari telpon umum di pinggir pantai.
"Cepatlah angkat kau sialan."
Dan akhirnya, 'Holla, brother?'
Wajah Norman mengeras, dia yakin saat ini Louis tengah mengejeknya.
'Butuh sesuatu?'
"Kirim Alpha, aku akan membantai mereka semua."
'Semua?'
"Pakai kapal pesiar Teddy Bear milik Louisa, aku ingin kau mengirim mereka sampai di Campo Morado. Pakai uangmu untuk menutup mulut yang lain."
Louis terkekeh di sana, dengan suaranya yang dingin dia berkata, 'Good Luck.'
---
**Love,
ig : @Alzena2108**
__ADS_1