Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 48


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘😘


.


.


Perlahan Norman membuka matanya, dia mengerutkan kening saat gerakannya terbatas. Seseorang mengikatnya, membuat Norman berontak.


"Tenang, Nak, kau akan baik-baik saja."


Seketika Norman menengok, mendapati Marc yang ada di sampingnya, duduk dan mengusap kepalanya. "Kau…. Pembunuh!"


"Norman, bukan aku yang membunuhnya, Ibumu sendiri yang menyerahkan jantung dan hatinya pada Diana, pada anak yang tidak tahu malu. Diana sudah aku angkat menjadi anak, dan dia menolak hidup bersamaku."


"Kau gila!"


Marc malah terkekeh, dia terus mengusap kepala Norman. "Aku melakukan ini untukmu, Norman."


"Lepaskan aku."


"Cucuku, kau berhasil. Ibumu akan sangat bangga padamu."


"Lepaskan aku, Marc."


"Norman….." Marc mendekatkan bibirnya pada telinga Norman. 


"Tidak, dia tidak melakukannya. Kau yang menjadi penyebabnya," ucap Norman menolak mengingat setiap memori menyakitkan dalam pikirannya. 


"Itu karenamu." Marc kembali melanjutkan, "Dia menangis dan mati karenamu. Jika saja kau tidak ada, ibumu tidak akan melakukannya. Itu salahmu, bukan?"


"Tidak, itu bukan salahku."


Marc terkekeh mendapati cucunya kini melawan rasa traumanya, tidak lagi menunduk dan memohon untuk berhenti. "Kau adalah cucuku, aku tidak akan menyakitimu, tenanglah."


"Karenamu hidupku hancur."


Marc kembali terkekeh. "Aku membentuk karakter agar kau kuat, Norman. Kini aku bisa mati dengan tenang, kau bisa memimpin El Sinaloa tanpa kelemahan. Karena….. Malia sudah ada ditanganku."


"Jangan pernah mendekatinya!" Teriak Norman berontak dari tali yang mengikatnya.


"Berhenti bergerak, Norman. Aku sudah mengobati luka-lukamu, jangan ada lagi luka."

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan pada Malia?!"


"Malia? Aku membuatnya tidak berguna, seperti yang pernah aku lakukan pada ibunya."


"Jangan sentuh Malia!"


"Itulah kelemahanmu, Norman!" Teriak Marc menunjuk wajah cucunya, dengan penuh penekanan dia berkata, "Aku menciptakanmu dengan sempurna, kau tidak boleh memiliki kekurangan. Sampai kapanpun, tidak boleh ada yang mengalahkanmu. Kau harus tahu, aku membentuk karakter kuatmu dengan sempurna, dan tidak akan aku biarkan satu kesalahan menghambat semuanya."


"Jangan sentuh, Malia! Atau kau akan aku bunuh!" Teriak Norman saat Marc berjalan menuju pintu dengan tongkatnya.


Yang mana malah membuat pria tua itu terkekeh. "Sebelum aku mati, akan aku singkirkan Malia. Kelemahanmu hilang, dan aku untung. Kau jangan khawatir, uang itu akan masuk ke akun bank yang akan diwariskan padamu."


Saat keluar dari kamar Norman, Marc terus mendengar teriakan cucunya yang mengancam dan menyumpahi. Dia mengisyaratkan agar seorang pelayan mendekat, "Rawat dia dengan baik."


"Sí, Señor."


Ketika Norman turun menuruni tangga, dia mengerutkan keningnya menatap Dennis dan Dania yang sedang ciuman. Membuat Marc mengerutkan keningnya, Dania seharusnya tidak ada, dia juga tidak boleh menjadi batu sandungan Norman.


Namun, melihat interaksi antara Dennis dan Dania, keduanya sepertinya adalah pasangan kekasih. Membuat Marc menyunggingkan senyumannya, dia yakin lambat laun Norman akan membunuh pengkhianat Dania dan Dennis. Marc tidak perlu mengotori tangannya, karena pada kenyataannya dia hanya memanfaatkan kebodohan Dennis, dengan mengiming-iminginya uang dan juga kekuasaan atas El Sinaloa.


Dan Marc ingin Norman hidup sepertinya, tidak percaya pada siapapun dan mengandalkan diri sendiri dalam setiap langkah. Jika membutuhkan bantuan orang lain, cukup manfaatkan sampai tujuan tercapai, dan setelahnya bunuh. Karena lebih lama orang bersama kita, akan lebih banyak keinginan mereka. Itu yang menjadi prinsip Marc.


"Dennis?"


"Terserah padamu, aku akan ke Puerto Del Marqués untuk menenangkan pikiran. Biarkan Norman."


"Sí, Señor."


Dan Marc keluar, seorang pria yang berdiri di samping mobil sudah menunggu kedatangannya. Dia membukakan pintu untuk majikannya. 


"Gracias, Aron."


"Sí, Señor."


"Kau tetap mengawasi Dennis bukan?"


"Sí, Señor."


"Pergi ke villa di teluk, aku butuh udara segar."


****

__ADS_1


"Lepaskan aku!" Jerit Malia saat dua pria menariknya.


"Hei, hati-hati!" Teriak seorang pria yang Malia kenal, itu adalah Dennis.


Dia berdiri di atas sebuah batang pohon yang rubuh, dengan senapan laras panjang di tangannya. Isyarat Dennis membuat salah satu pria menggendong Malia, membuat perempuan itu meronta. Namun, setiap usaha yang dia lakukan adalah sia-sia.


Hingga rontaan Malia terhenti ketika melihat sosok yang dia kenal. "Papa!"


Dennis tertawa kuat. "Dia Papamu, Malia?"


"Jauhkan tanganmu darinya. Jauhkan!"


"Dia sudah mati."


"Tidak!"


Perlahan, Dennis mendekat, dia terkekeh menatap wajah cantik Malia. "Kau tahu? Norman yang merencanakan semua ini, dia yang membuat rencana agar kau masuk perangkapnya, lalu dia bisa melakukan ini."


"No…..!"


"Sí, sí, setiap tindakan Norman penuh dengan rencana. Dan kau tahu apa? Dia juga melakukam drama agar kau masuk ke dalam gua, dan kami menemukanmu dengan mudah."


Malia menggeleng tidak percaya, dia tahu apa yang dilakukan Norman adalah untuk melindunginya.


"Kau harus percaya, karena itulah kenyataannya. Norman hanya melakukan drama agar kau percaya padanya, dan kembali masuk ke dalam jebakannya."


Seketika Malia meludahi wajah Dennis saat pria itu mendekat. Tidak ada balasan dari pria itu selain suara kekehan. "Kau bodoh, Malia. Dia hendak menjebakmu kembali."


"Tidak."


"Kau harus percaya atas semua yang telah terjadi. Karena, Norman juga yang memberi perintah agar kau dijual sekarang."


"Tidak!"


Dennis berjalan mundur. "Bawa dia pada Felicia, dia harus dirawat dengan sangat baik untuk akhir pekan nanti."


"Sí, Señor."


----


**Love,

__ADS_1


ig : @Alzena2108**


__ADS_2