Bloody Marriage

Bloody Marriage
Bloody Marriage 35


__ADS_3

Vote sebelum membaca😘😘


.


.


"Norman, apa kau tidak tidur semalaman?" Tanya Dania saat mendapati Norman sedang merokok di balkon, dia terlihat kacau, apalagi saat melihat tangannya yang bergetar. Diyakini Dania kekasihnya itu telah meminum banyak alkohol dan rokok.


"Norman, apa yang terjadi? Kenapa kau tampak mengerikan."


"Diam, Dania. Lakukan saja apa yang kau suka."


"Oh Astaga, kau membuatku kesal." Dania ikut duduk di samping kekasihnya. "Aku ingin mencoba pekerjaan baru. Kau tahu casino yang ada di Puerto Del Marquès, aku ingin berada di sana setiap malam."


"Kenapa?"


"Kenapa? Kau sering menghabiskan waktu di sana, jadi aku pikir bagus untukku berada di sana juga. Iya kan?"


Norman tidak menjawab, dia mematikan rokoknya dan masuk ke dalam.


Dania tahu, ada yang salah dengan kekasihnya. Sesuatu membuat Norman kehilangan fokus dan terlihat memikirkan sesuatu. "Norman, ada apa?" 


"Aku akan pergi ke Guererro."


"Guererro? Berapa lama?"


"Dua hari, Marc memintaku ke sana untuk memeriksa sesuatu," ucap Norman masuk ke dalam kamar mandi.


Membuat Dania tertahan untuk masuk, dia berdecak. Sampai pesan dari Dennis membuat Dania was was.


Dennis : Aku menunggumu malam ini, Sayangku.


Dania berdecak, dia menyembunyikan ponselnya di bawah bantal sebelum menyiapkan keperluan untuk Norman. Tinggal bersama selama bertahun-tahun membuat Dania tahu apa yang dibutuhkan kekasihnya.


Selama bertahun-tahun ini tujuan Dania, bersama dengan Norman sepanjang sisa hidupnya ditengah El Sinaloa yang menguasai Meksiko. Dania tahu dengan Norman dia tidak akan kehabisan harta, dia tidak akan merasakan pedihnya hidup sebagaimana itu dia rasakan saat kecil. 


Pakaian, parfume, semua perlengkapan Dania siapkan dalam koper dengan sangat rapi. 


"Apa yang kau lakukan?"


"Aku menyiapkan barangmu, Sayang."


"Tidak perlu," ucap Norman keluar dengan hanya menggunakan handuk di pinggang. "Aku akan membeli semua yang baru di sana."


"Apa?" Ini pertama kalinya Norman menolak apa yang disiapkannya. "Aku mempersiapkan semua ini."


"Tidak perlu."


"Norman, kau lama bukan di sana?"


"Ya."


"Kau harus membawanya, aku menyiapkan ini."


Norman tidak mendengarkan semua omelan Dania. Begitu dia selesai berpakaian, Norman keluar dari kamarnya. 


Matanya selalu terfokus pada objek yang sama, yaitu pintu menuju ruang bawah tanah yang terbuka. Membuat Norman yakin bahwa Marc ada di sana.


Melangkah lebar, Norman masuk ke dalamnya. Satu tujuannya, yaitu salah satu ruangan di sana yang dulunya dipakai sebagai tempat menyekap orang-orang penentang El Sinaloa.

__ADS_1


Di saat manik abunya melihat apa yang membuatnya lega, langkah Norman terhenti.


Dia masih ada di sana, terbaring lemah. Hanya gerakan napas yang memperlihatkan bahwa dia masih hidup. Dan Marc, dia di sana.


"Hahahaha, kau ingin minum? Minum itu, ayo ambil."


Marc mundur. "Ambilah, Malia….. Ayo ambil…. Kau pasti bisa! Hahahahaha!"


"Norman……"


Marc berbalik, menatap cucunya yang berdiri di belakangnya. "Norman? Kau ke sini untuk melihatnya?"


"Aku akan pergi ke Guererro selama beberapa hari, Kakek."


"Tenang saja, Norman. Saat kau pulang, Malia akan benar-benar mati. Jangan khawatirkan itu."


"Sí, Kakek."


Air mata Malia menetes, suaranya tercekat. Tangannya terangkat. "Norman…."


"Aku pergi, Kakek."


Malia memejamkan mata kuat, hingga air mata itu jatuh bersamaan. Rasanya sakit saat manik abu hanya menatap datar dan pergi begitu saja. Tidak sebanding dengan rasa sakit di tubuhnya, dengan kehausan yang dia rasakan.


"Kau ingin minum, Malia?"


"Norman…."


"Gumamkan nama suamimu, dia sudah pergi. Atau harus kau sebut…… dia adalah pengkhianat?"


Air mata menetes. "Tidak…. Norman…."


*****


Jam sudah menunjukan pukul 9 malam, ini waktunya Dania keluar dengan alasan akan ke kasino di Puerto Del Marques. Keberadaan Marc yang sedang membaca buku di dekat perapian membuat Dania sedikit malas, apalagi saat dia harus mendekat. "Aku akan keluar."


"Apa yang akan kau lakukan?"


"Aku pikir kau sudah tahu, aku akan ke Kasino di Puerto Del Marqués, untuk bekerja di sana."


Marc terdiam, membuat Dania segera melanjutkan, "Aku akan memakai mobilku, dan pulang sebelum dini hari. Kau tahu aku melakukan yang terbaik di hadapan Norman."


"Pergilah."


Dania tersenyum, menggunakan mobilnya untuk keluar dari mansion yang membuatnya bosan. Dania memang ingin bersama Norman, tapi tidak ingin satu atap bersama Marc. Mengingat pria tua itu adalah pria yang mendominasi akan terbentuknya sikap kejam Norman, Dania ingin Norman ketakutan akan kehilangannya.


Berbeda dengan perkataannya, Dania menuju Acapulco, dia pergi ke apartemen lamanya.


Di sana Dennis sudah menunggu sambil meminum alkohol.


"Kau datang cukup lama."


"Berhenti mengancamku, aku tidak akan memaafkanmu."


"Lalu? Kau ingin aku mengatakan pada Norman kalau kau mengadu pada Marc?"


Dania melempar tasnya kasar, dia mulai membuka kancing pakaiannya satu per satu. Membuat Dennis tersenyum sambil menatap tajam pada wanita yang menjadi kekasih Norman selama bertahun-tahun. "Norman sering memukulmu? Aku akan melakukannya halus padamu."


"Diam dan lakukan dengan cepat."

__ADS_1


"Baiklah, mendekat padaku, Dania."


Ketika Dania duduk di pangkuan Dennis, dia menahan bahu pria itu saat dia hendak mencium dada Dania. "Kau tahu apa yang dilakukan Norman di Guererro?"


"Dia pergi ke Guererro?"


"Kau pikir bagaimana caraku keluar, Norman tidak ada dan Marc sibuk dengan Malia."


"Malia? Dia sudah mati?" 


Dania menggeleng. "Mereka menunggu Don datang sampai akhirnya bisa membunuh keduanya di saat bersamaan."


"Wow, Marc bilang akan memberiku bagian."


"Dia juga mengatakan hal yang sama padaku, tapi jika aku berperan penting."


"Kau merasa dirimu berperan penting?"


Dania terdiam. "Aku rasa iya."


"Baiklah, ayo kita melakukannya."


"Sebentar, aku rasa-- Aaw! Shit!"


Ketika Dania mulai terbuai, dia hilang akal dan membalas semua perlakuan Dennis, telinganya seakan tertutup tidak mendengar telponnya yang berbunyi. Tidak tahu bahwa bahaya semakin dekat.


Norman yang menunda kepergiannya ke Guererro memilih untuk beristirahat dulu di apartemen Dania yang ada di Acapulco. 


Dan setahu Norman, Dania sedang berada di Puerto Del Marqués, alasan memanggilnya adalah untuk menemani malam ini. Karena Norman tahu, Dania selalu melakukan apa yang dia inginkan.


Sayang, ketika hendak membuka pintu apartemen, kode berubah. Dania menggantinya mengingat ada Dennis di dalam.


Norman terus menguhubungi, sampai akhirnya Dennis yang sedang mengendalikan semuanya kesal. Dia meraih tas Dania dan menyuruh wanita itu mengangkatnya.


"Ini dari Norman!"


"Lalu?"


"Selesaikan cepat, sial*n!" Teriak Dania, dia mengisyaratkan agar Dennis menutup mulut. "Aku akan mengangkatnya."


"Baiklah, aku akan memperlambatnya."


Dania berdehem mengingat suaranya agak parau. "Hallo, Sayang?"


'Kau di mana?'


"Di mana? Aku di Puerto Del Marqués, ada apa?"


'Kau mengganti kode apartemen? Aku berada di sini.'


"Apa?!" Dania menutup mulut akibat terkejut juga akibat Dennis yang bermain-main dengannya. "Kau? Di apartemenku? Itu…."


'Tidak perlu, aku tahu cara membobolnya.'


"Tunggu, Norman, tidak! Jangan membobol kode apartemenku."


---


**Love,

__ADS_1


ig : @Alzena2108**


__ADS_2